Bentuk Skenario Kontra Narasi Untuk Mencegah Teror

0
38

Ketika sebuah bom bunuh diri diledakkan oleh Nur Rohman (30 tahun) di halaman Mapolresta Surakarta, maka perbincangan tentang teror, teroris, dan terorisme kembali ramai. Selama bulan ramadhan 2016 ini ISIS melalui juru bicaranya Abu Muhamad Al Adnani memerintahkan kepada simpatisannya untuk melakukan aksi “amaliyah” di wilayahnya masing-masing.

Nur Rohman, anggota JADKN (Jamaah Ansarut Daulah Khilafah Nusantara), sebuah kelompok yang bersimpati dan berafiliasi dengan ISIS rela mengorbankan nyawanya untuk melakukan aksi teror bom bunuh diri. Pertanyaanya mengapa itu bisa terjadi? Bagaimana supaya teror tidak terjadi lagi?

Latar Belakang Terjadinya Teror

Perilaku teroris tidak lahir begitu saja dari rahim ibunya. Ada proses tertentu sehingga seseorang mempunyai paham radikal dan memaksakan  dengan tindakan kekerasan yang menakutkan orang lain. Tindakan ini yang disebut dengan aksi terorisme.

Teror biasanya dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang sebagai kompensasi mereka yang kecil/sedikit dengan cara kekerasan untuk memberikan rasa takut kepada kelompok yang lebih besar.  Latar belakang dan alasan  orang atau kelompok melakukan teror berujung pada  pilihan paling efektif  untuk memaksakan dan mencapai tujuan.

Pilihan atas aksi teror dibanding oleh aksi atau cara lain untuk mewujudkan cita-cita orang atau kelompok  disebabkan oleh beberapa hal. Pertama teror adalah cara paling efektif untuk menunjukkan eksistensi kelompok minoritas atau marginal. Kedua teror cermin dan implikasi atas kepribadian pemimpin kelompok yang tidak sehat dan menjadi kultur kelompok secara umum.

Selanjutnya adalah aksi-aksi non teror seperti diplomasi tidak berhasil dilakukan atau sudah sering dilakukan dan tidak berhasil. Selain itu teror dilakukan sebagai implikasi atas pemahaman suatu doktrin atau ajaran kekerasan sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai cita-cita. Hal ini terutama dialami oleh kelompok-kelompok garis keras/radikal dengan latar belakang sentimen teologis atau politis yang membuat perbedaan ekstrim dengan kelompok lain tidak bisa diterima dan harus dilawan/diperangi.

Beberapa kasus teror terakhir di Indonesia seperti kasus teror bom Thamrin di awal tahun 2016 dan teror bom bunuh diri di Solo menjelang lebaran 2016 diduga kuat dilandasi oleh faktor ideologi radikal kanan. Teror terjadi karena ada pemahaman radikal, dan pemahaman radikal ini ada karena ada penyebaran melalui penyampaian narasi-narasi  radikal. Penyebaran narasi radikal bisa terjadi secara verbal, langsung antar orang, atau tulisan melalui buku dan media cetak, bisa juga melalui media lain seperti video yang mudah diakses dengan teknologi internet.

Saat ini informasi dari internet dan media dimanfaatkan oleh teroris untuk mensukseskan aksinya. Informasi yang disajikan media massa menjadi pengetahuan dan bahan penyusun strategi teroris. Bahkan secara langsung di media internet disajikan teknik-tenik melakukan teror.

Dengan internet  orang belajar dengan mudah dan cepat untuk menjadi teroris. Internet menjadi media yang sangat efektif untuk menyebarkan narasi radikal, sarana efektif untuk melakukan perekrutan kelompok radikal, bahkan sarana efektif untuk menjjadi media tutorial dalam melakukan aksi radikal terutama teror.

Pengaruh Kelompok 

Model aksi terorisme biasanya didahului dengan perekrutan, penanaman nilai atau paham-paham (doktrinasi), setelah calon pelaku mempunyai keyakinan yang kuat dan loyalitas yang militan maka baru disusun aksi terorisme yang penuh dengan strategi. Di dalam kelompok inilah calon pelaku aksi terorime memperoleh paham-paham dan doktrin keyakinan bahwa kekerasan adalah cara untuk mencapai tujuannya.

Untuk mempermudah menanamkan paham-paham ini maka calon pelaku dipilih dari orang yang berusia muda (15-35 tahun), dengan kondisi bimbang, krisis identitas, bahkan beberapa pelaku ternyata dasar agamanya tidak kuat.

Kondisi diatas mempermudah masuknya doktrin kekerasan untuk mencapai tujuan. Calon pelaku yang krisis identitas akhirnya mempunyai keyakinan bahwa menjadi pelaku teroris adalah bentuk kepahlawanan untuk memperjuangkan nilai yang dianutnya.

Proses perekrutan kelompok radikal terdiri dari tahap-tahap sebagai berikut: diawali dengan tabligh, (penyampaian pesan/nasehat secara umum), contoh: tabligh Akbar, kegiatan pengajian, eks-skul dll, kemudian ta’lim (pengajaran), tamrin (pelatihan), tamhish (penseleksian), bai’at (melaksanakan bai’at sebagai syarat menjadi anggota)

Dalam tahapan di atas terlihat bahwa ada proses perekrutan secara sistematis kepada para anggota kelompok radikal. Pada fase ta’lim dan tamrin adalah fase yang paling mungkin ditanamkan sikap kebencian dan penggunaan kekerasan terhadap orang yang dianggap musuh.

Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa perilaku radikal yang menggunakan kekerasan ditanamkan oleh organisasi dengan doktrinasi bahwa kekerasan adalah jalan untuk mencapai tujuan.

Skenario

Negara perlu menyiapkan dan melaksanakan skenario kontra narasi radikalisme mengingat narasi radikal adalah salah satu titik awal dari terorisme. Hal ini diperlukan supaya narasi radikal tidak diterima mentah-mentah oleh masyarakat.

Skenario kontra narasi radikalisme harus lebih masif dan mempunyai pengaruh lebih kuat dari narasi radikal yang beredar dan diakses oleh masyarakat. Inti dari skenario kontra narasi radikalisme adalah menyebarkan nilai-nilai damai kepada seluruh lapisan tanpa memandang kelompok, ideologi, atau batas-batas lainnya.

Skenario itu antara lain adalah skenario normal. Skenario ini terjadi pada saat normal, pada kondisi ini narasi radikalisme bersifat ajakan untuk bergabung dengan kelompok pengikut ajaran radikalisme dan dilakukan dengan media masa.

Dalam skenario ini pemerintah sebaiknya menggerakkan elemen-elemen masyarakat untuk melakukan kontra narasi radikalisme misalnya dengan ajakan hidup damai. Kontra narasi radikalisme tidak hanya dilakukan di media masa tetapi bisa juga dilakukan di kehidupan masayarakat sehari-hari. Dengan langkah ini maka perilaku radikal akan tersisih.

Skenario selanjutnya adalah skenario yang dilakukan jika sasaran program kontra narasi radikalisme terdata secara spesifik. Misalnya sebuah orang, komunitas atau organisasi tertentu yang berpotensi melakukan aksi radikalisme. Program ini harus diawali dengan pemetaan sasaran program kontra narasi radikalisme agar program tepat sasaran dan mempunyai dampak yang siginifikan. Selain itu juga harus dilakukan pemetaan pihak-pihak yang dapat diajak bekerja sama, hal ini guna memudahkan BNPT bergerak dan secara tidak langsung akan menciptakan gambaran bahwa radikalisme adalah musuh bersama.

Kontra narasi radikalisme dalam skenario ini sebaiknya tidak dilakukan langsung oleh BNPT tetapi dilakukan oleh ulama, tokoh agama, guru, dosen, atau pihak-pihak lain yang dekat (private domain), dipercaya, dan mempunyai intensitas waktu untuk tatap muka dengan sasaran.

Skenario ketiga kontra narasi radikalisme adalah skenario yang dilakukan terhadap orang, kelompok, atau organisasi tertentu yang orang dekat atau anggotanya telah menjalankan paham radikal. Skenario ini mempunyai tantangan yang cukup tinggi karena dilakukan kepada orang, kelompok, atau organisasi yang sudah mempunyai model radikal.

Kegiatan ini harus dilakukan secara intensif dan dilakukan pendampingan terus menerus agar pengaruh dari bahaya radikal dapat ditahan. Kontra narasi radikalisme dengan sasaran pada skenario 3 ini harus dilakukan secara simultan dan kerja sama antara orang terdekat, keluarga, ulama, tokoh agama, aparat pemerintah, dan orang lain yang dapat dipercaya dan berpengaruh bagi sasaran.

Jika kontra narasi radikalisme pada skenario 3 ini kalah kuat dengan narasi radikalisme yang ada maka Skenario ini akan gagal.

Kesimpulan

Kontra narasi radikalisme dilakukan untuk mencegah paham radikal di masyarakat. Program ini sebaiknya dilakukan bukan oleh petugas BNPT tetapi mengedepankan masyarakat sebagai pelaku. Kontra narasi radikalisme akan efektif jika sasarannya tepat dan pelakunya juga tepat.

Program ini harus melibatkan orang terdekat, orang yang dipercaya, atau orang yang berpengaruh dari sasaran. Jika kontra narasi radikalisme dilakukan oleh orang yang mampu mengakses sasaran maka program ini akan lebih efektif.  Program skenario kontra narasi radikalisme sebaiknya tidak bernuansa  proyek tetapi lebih pada suatu kegiatan yang membumi dan menyatu dengan aktifitas masyarakat.

Program mencegah teror sebaiknya tepat sasaran, dilakukan oleh orang yang tepat dan dapat diterima sasaran. Program ini harus berorientasi pada perubahan, sehingga efektif untuk membendung paham radikalisme di masyarakat. Semua berujung supaya teror tidak terjadi lagi.***

*) Stanislaus Riyanta, analis intelijen dan terorisme, alumnus Program Pascasarjana bidang Kajian Stratejik Intelijen Universitas Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here