KURBAN MENURUT “MEREKA”

0
21

KURBAN DAN KELOMPOK TERORIS

Abdullah, NU Online | Kamis, 23 Agustus 2018 05:29
Oleh Aris Adi Leksono
Tentu kehadiran Idul Adha bukan sekadar seremonial kebahagiaan syiar Islam, tetapi mesti diambil hikmahnya karena segala sesuatu yang disyariatkan Allah SWT tidak akan sia-sia. Dengan kata lain, pasti mengandung berjuta makna dan pesan bagi kehidupan umat seluruh alam, “rabbana maa khalakta haadza baatila”.
Makna mendalam dari Idul Adha atau Idul Qurban bisa digali dari dua aspek. Pertama, aspek ibadah yang langsung berhubungan dengan Allah SWT. Makna dari aspek ini adalah disyariatkannya haji dan umrah yang tidak akan terjadi di bulan lainnya. Tentu ibadah ini memiliki nilai yang istimewa dan hadapan Allah SWT.
Sebagaimana keterangan dalam sebuah hadits: Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: “Barangsiapa berhaji ke Baitullah tanpa berkata keji, tanpa bersetubuh dan tanpa berbuat kefasikan (selama ihram), maka dia pulang (tanpa dosa) bagaikan bayi yang baru lahir.” [HR. Al-Bukhari).
Kedua, aspek ibadah yang terkait dengan dimensi sosial dan kemanusiaan. Aspek ini dibuktikan dengan perintah berkurban, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Kautsar ayat 2; “maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah”.
Berkurban bernilai ibadah yang berkaitan erat dengan dimensi sosial dan kemanusiaan. Berbagai daging binatang ternak kepada sesama dan kepala orang kurang mampu yang lebih membutuhkan.
Perintah kurban sesungguhnya telah disyariatkan sejak Nabi Adam dan diperkuat kembali melalui perintah Allah kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Ismail.
Habil yang diriwayatkan sebagai peternak. Ia melakukan kurban kepada Allah dari hasil ternak terbaiknya, sebuah domba besar. Sementara Qabil diriwayatkan sebagai petani, ia melakukan kurban kepada Allah dari hasil panennya yang buruk. Maka Allah pun hanya menerima kurban dari Habil. Wal hasil domba yang dikurbankan oleh Habil diangkat ke surga.
Pada masa yang jauh sesudahnya, di masa Nabi Ibrahim, ia diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya, Nabi Ismail. Setelah keduanya berpasrah kepada Allah untuk melakukan perintah itu, maka Allah berfirman: “Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Q.S. Ash-Shaffat: 107). Artinya Allah SWT mengganti Islmail dengan kambing gibas.
Sebagaimana keterangan yang terdapat dalam tafsir Ibnu Katsir, juz 7, Hal 31; “Sembelihan yang disembelih oleh Nabi Ibrahim adalah domba kurban Habil yang telah diterima”.
Apa mungkin ini terjadi? sangat mungkin, karena Allah maha tahu dan maha bijaksana. Allah SWT buktikan itu, dengan pasti membalas keikhlasan dan totalitas hambanya dalam beribadah dengan kebaikan yang berlipat ganda. Keikhlasan dan totalitas ibadah Ibrahim dan Ismail, dibalas dengan menghindarkan kemudaratan kepada keduanya.
Lantas apa benang merah antara hakikat kurban dan kejahatan terorisme?
Sekilas sama-sama berkurban. Menurut oknum teror, mereka juga berkurban. Mereka juga semata-mata menunjukkan totalitas dalam beribadah. Awalnya juga hampir sama, yaitu berkurban nyawa, seperti Nabi Ibrahim akan mengorbankan Ismail.
Tetapi yang patut menjadi catatan adalah terorisme berkurban dan totalitas penghambaannya dengan tetap menyakiti orang lain, membunuh orang lain, bahkan membunuh dirinya sendiri. Sedangkan Ismail yang akan disembelih ayahnya totalitas penghambaannya tetap memperhatikan nilai kemanusiaan, dalam bentuk Allah SWT mengganti Ismail dengan domba gibas.
Dalam kalimat sederhana, dapat dikatakan “Allah SWT saja sangat memuliakan manusia, meskipun pengorbanan manusia untuk ibadah kepada-Nya, Allah SWT tetap menjunjung nilai kemanusiaan dalam bentuk menyelamatkan Ismail”.
Mafhum muwafaqah dari kalimat sederhana tersebut, mestinya manusia lebih bisa memanusiakan manusia; menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, sehingga tidak akan terjadi kekerasan, pembunuhan, menyakitkan, atau bentuk teror lainnya atas nama agama atau manifestasi ideologi lainnya.
Dalam kisah Habil dan Ibrahim, di satu sisi diingatkan untuk melaksanakan  sesuatu dengan ikhlas dan penuh totalitas bila itu untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan. Namun di sisi lain juga diimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan darah manusia. Penggantian Nabi Ismail dengan domba besar adalah pesan nyata bahwa pengorbanan dalam bentuk tubuh manusia—sebagaimana yang terjadi dalam tradisi sejumlah kelompok pada zaman dulu—adalah hal yang diharamkan.
Seluruh manusia ibarat satu tubuh yang diciptakan Allah dalam kemuliaan. Karena itu membunuh atau menyakiti satu manusia ibarat membunuh manusia atau menyakiti manusia secara keseluruhan.
Larangan mengorbankan manusia sebetulnya penegasan kembali tentang luhurnya kemanusiaan di mata Islam dan karenanya mesti dijamin hak-haknya. Bukan kemudian, dengan atas nama dakwah, atas nama menegakkan ajaran Islam, nyawa manusia tidak dihargai, semisal bom bunuh diri, teror, penganiayaan dan bahkan pembunuhan.
Walhasil, pengorbanan para jihadis yang dalam lingkup terorisme adalah perbuatan yang menentang ajaran Al-Qur’an. Karena Islam dan Al-Qur’an menjunjung tinggi nilai kemanusiaan.
Maka dengan momentum Idul Adha, hendaknya para jihadis mampu bermuhasaban dengan “menyembelih” nafsu hayawaniyyah pada diri mereka untuk tidak mengorbankan diri dan orang lain. Kembali memilih jalur dakwah Islam rahmatan lil alamin seperti teladan yang ditunjukkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.
Penulis guru MTsN 34 Jakarta, Ketua Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama
Sumber: NU Online
#Muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here