ISLAM DAN CINTA TANAH AIR

0
26

post-feature-image

Tidak perlu diragukan lagi bahwa Islam adalah agama yang menjunjung tinggi pesan perdamaian.
Mungkin banyak orang yang masih menyangkal hal ini. Mereka menganggap Islam bukan agama damai. Perang yang terjadi di sepanjang sejarah Islam, mereka yakini sebagai bukti konkrit akan jauhnya Islam dengan ajaran perdamaian.

Apakah benar anggapan seperti ini? Tentu Tidak. Mari kita lihat sejarah awal dari agama ini. Nabi Muhammad saw mendapat mandat sebagai “utusan Allah swt” di Mekah. Penyebaran Islam di Mekah sendiri tidak sesuai harapan besar Nabi Muhammad saw. Karena itu, Nabi saw membentuk aliansi politik baru dengan menjadikan Madinah sebagai Negara yang menjadi alat dan sarana menyebarkan pesan perdamaian Islam.

Visi Besar nabi untuk menjadikan Madinah sebagai “corong” atau pusat penyebaran Islam bagi
generasi Islam awal sukses besar. Islam di madinah menjadi agama mayoritas yang kuat.
Tapi menjadi mayoritas tidak membuat Nabi saw menyesampingkan kelompok minoritas dengan agama yang berbeda. Kita bisa melihat melalui sejarah, bagaimana bangsa Madinah saat itu bisa hidup berdampingan, rukun dan damai walaupun mereka mempunyai perbedaan keyakinan dan cara hidup.

Memang, terdapat Narasi Kitab suci yang mengatakan adanya konflik yang terjadi antara orang-
orang muslim dan suku Yahudi di madinah. Tetapi sebenarnya, konflik itu hanya bersifat temporal
saja. Artinya hanya sebagian kelompok Yahudi yang bermasalah dengan muslim Madinah. Yang lain,
masih banyak yang hidup dalam bingkai toleransi dan cinta keberagaman.

Barulah setelah Islam Mayoritas menguat di Madinah. Nabi Muhammad saw yang kita tahu semua,
bagaimana ia tidak diperlakukan secara adil di Makah, atas perintah Allah swt kembali menuntut
keadilan sebagai warga Makah. Maka terjadilah “fathul makkah” Peristiwa penaklukkan Mekah yang
kita tahu juga tidak berakhir dengan tragedi berdarah. Melainkan adanya kesepahaman dan mufakkat
bersama untuk membentuk pemerintahan baru di Mekah. Inilah sedikit kisah sejarah Islam di masa lalu.

Berdasarkan sejarah ini, dapat disimpulkan Islam dan cinta tanah air adalah kesatuan tunggal
yang tidak terpisahkan. Jika kita amati, Nabi Muhammad saw; saat menjadi pemimpin bangsa Madinah sudah menanamkan sikap nasionalisme dalam tubuh bangsa Madinah saat itu. Nasionalisme yang dipadukan oleh semangat berislam “rahmatan lil alamin” memicu terjadinya suatu sistem Negara yang sarat dengan kehidupan dalam perdamaian dan cinta keberagaman. Didapuk jadi pemimpin Negara Madinah.

Nabi tidak serta merta memaksa penduduk yang beragama berbeda untuk tunduk pada ajaran Islam
atau mengganti agamanya “converted to Islam”. Nabi saw sadar bahwa beragama bukanlah hal yang harus dipaksakan. Sangat jelas kita tahu narasi kitab suci mengatakan, “La ikraha fi addin” Tidak ada
paksaan dalam beragama. Hal ini berlaku pada agama apapun. Tidak boleh ada pemaksaan dalam beragama oleh otoritas pemerintahan suatu Negara.

Pada zaman now, di Indonesia ada orang yang terang-terangan mengatakan bahwa Nasionalisme yang bisa diartikan cinta tanah air “Tidak ada dalilnya” bahkan dengan bangga berargumen “Saya sudah mentalak 3 keyakinan terhadap Nasionalisme” Menurut orang-orang ini, Nasionalisme hanya menjadi “penyakit” yang bisa menyebabkan rusaknya persatuan seluruh umat Islam. Dengan alasan itu, mereka merasa bisa berbuat sesuka hatinya. Misalnya, dengan menolak untuk berpartisipasi dalam Pemilu. Bukan itu saja, mereka juga banyak menggiring opini masyarakat Islam bahwa hak suara yang diberikan dalam pemilihan umum adalah sebuah kesia-siaan belaka. Lebih ekstrim lagi mereka mengatakan, “setiap celupan jari di dalam tinta pada Pemilu, merupakan awal dari “celupan” pada api Neraka.

Benarkah demikian? Tentu Tidak. Argumen seperti ini bisa dikatakan mengada-ada saja. Mereka
sebenarnya hanyalah sekelompok orang yang tidak pernah berterimah kasih terhadap jasa-jasa
para pahlawan bangsa ini dalam meraih kemerdekaan.

Tidak heran jika organisasi terbesar di Indonesia Nahdatul Ulama (NU) berjuang sedemikian rupa
dalam menghancurkan paham “khilafah” sampai ke akar-akarnya. Dan pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, HTI (Hizbu Tahrir Indonesia) mengalami cobaan yang begitu berat;dibekukan/dilarang beroprasi.

Bukan tanpa alasan otoritas pemerintah Republik Indonesia membekukan HTI. Salah satu
sebabnya adalah; ideologi mereka yang cenderung mengesampingkan/menolak Pancasila sebagai dasar suatu Negara. padahal kita tahu, Pancasila adalah bukti dari terwujudnya Negara Indonesia
yang mengayomi setiap perbedaan: Suku, Ras, kepercayaan dan keyakinan.

Memang, ada semacam anggapan di dalam masyarakat khususnya mereka yang cenderung berada pada kubu Islamis mengatakan, ” Khilafah bukanlah paham yang bertetangan dengan Pancasila, justru dalam bingkai “ideologi khilafah”, Pancasila telah mendapatkan tempatnya”. Dengan pemahaman seperti ini, mereka ingin kita tidak perlu merisaukan “ideologi khilafah” setiap ideologi pada prinsipnya hanya sebatas pemikiran tanpa gerakan. Menurut saya anggapan itu bisa jadi benar. Tapi dengan semakin bergeraknya “ideologi khilafah” ke arah ekstrimis-radikal: ISIS. Belum lagi sel-sel tidur yang berafiliasi dengan kelompok ini masih banyak dan bisa terus mengancam kenyamanan hidup kita, yang di Indonesia saja sudah banyak memakan korban dan meluluhlantakkan kantor polisi, sarana- sarana publik dan lain sebagainya. Dengan mempertimbangkan “mudarat” bahaya yang lebih besar, maka pemerintah memutuskan untuk melarang “ideologi khilafah” menjamur di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Demikian pula, NU yang dari awalnya sudah “tidak sreg” dengan Ideologi Khilafah, semakin kuat
mendukung pemerintah dalam melawan propaganda-propaganda simpatisan dan pendukung Ideologi ini. Banser yang dikenal sebagai penjaga NKRI juga tidak tinggal diam. Segala upaya dilakukan untuk bisa mengimbangi “counter attack” kelompok pembela HTI di media sosial dan ceramah-ceramah agama. Salah satu upaya mereka dalam membungkam ajaran Khilafah adalah dengan melakukan upaya verifikasi terhadap setiap penceramah yang terindikasi sebagai pendukung “khilafah”. Kita tentu melihat bagaimana upaya Banser ini dianggap sebagai bentuk “persekusi ulama”

Benarkah demikian? Tidak. Bagi Banser NKRI adalah harga mati. Jadi mencegah orang-orang yang ingin merusak NKRI adalah sebuah kewajiban dan ini bagi mereka merupakan Jihad melawan pemecah bela keberagaman di Indonesia.

Sebagai penutup. Islam dan Nasionalisme tidak pernah berada pada kutub yang berbeda. Artinya,
Nasionalisme dan Islam adalah kesatuan tunggal yang tak bisa dipisahkan. Dengan Nasionalisme
Negara Indonesia bisa terbentuk dan lahirlah Pancasila sebagai dasar Negara kita. Kita patut
bersyukur pada pahlawan-pahlawan bangsa ini yang berjuang meraih kemerdekaan dari tangan penjajah.

Hadratus syaikh Hasyim Asyari’ sebagai pemimpin tertinggi Nahdatul Ulama di masa itu, terang-terangan mengobarkan Resolusi Jihad melawan penjajah, dengan semboyan “cinta tanah air bagian dari Iman” orang-orang Islam semakin bersemangat berjuang untuk kemerdekaannya.

Lantas saat ini ada orang yang mengatakan, nasionalisme tidak ada dalilnya. Untuk mengahancurkan
argumen orang seperti ini, kita hanya perlu tersenyum dan mengatakan, ” Apa dalil untuk menjaga
rumah kita agar tetap bersih dan nyaman dihuni?”. Mari kita cerdas dalam beragama, tidak semua
persoalan yang ada di muka bumi ini ada secara literalis dalam kitab suci. Karena itu, Allah swt
menyuruh kita untuk membaca, belajar dan berpikir. Dengan mendayagunakan akal secara maksimal,
kita mengerti akan pentingnya mencintai tanah air. Cinta tanah air bukan berarti mengesampingkan
persoalan-persoalan umat Islam di Negara lain. Kita tetap bisa berjuang untuk membumikan Islam
walaupun kita hidup di Negara Indonesia.

Ada slogan ” Indonesia milik Allah” tidak ada yang salah dengan “slogan” itu, yang menjadi masalah
adalah; jika slogan ini dijadikan “tool” alat untuk tidak mematuhi standar hukum negara. Apalagi
dijadikan alasan untuk melegitimasi ketidakabshan Nasionalisme sebagai unsur penting dalam bernegara. Mari kita menjadi warga negara yang baik dengan menghargai jasa para pahlawan bangsa ini, para pendiri atau founding father kita. Tanpa mereka kita bangsa Indonesia mungkin belum bisa menghirup nikmatnya udara kemerdekaan dan kebebasan. Mari kita belajar dari bangsa lain yang saat ini masih sibuk berperang antar sesama mereka. Tidak jelas, mereka berperang atasnama siapa. Terkadang kepentingan politik yang dibalut dengan jubah agama bisa membuat orang semakin beringas dalam menyakiti orang lain.

Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here