Cegah Hoaks dan Radikalisme di Kalangan ASN, Itjen Kemenag Susun Buku

0
46

Cegah Hoaks dan Radikalisme di Kalangan ASN, Itjen Kemenag Susun Buku

Sekretaris Itjen Kemenag RI, M Tambrin
Tangerang Selatan, NU Online
Ujaran kebencian di dunia maya saat ini sangat banyak beredar. Sampai ada beberapa oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ikut terlibat di dalamnya. Padahal ASN mestinya memberikan contoh kepada masyarakat.
Sekretaris Itjen Kemenag M Tambrin mengungkapkan, ada beberapa ancaman dan tantangan bagi ASN, yakni darurat narkoba, pornografi, perselingkuhan, Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN) serta intoleran, radikalisme, terorisme.
Hal itu disampaikan saat membuka Kegiatan Penyusunan Buku ASN, Transnasional dan Media Sosial di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kemenag RI, Jalan Ir H Juanda No 37 Ciputat, Selasa (13/11).
“Sebab itu Itjen menginisiasi harus ada panduan buku untuk ASN, khususnya di lingkungan Kemenag. Ini menjadi bacaan dan panduan wajib bagi ASN di lingkungan Kemenag, saat ini ada 127 ribu ASN yang ada di bawah Kemenag,” terangnya.
Menurutnya, masalah-masalah yang menimpa ASN menjadi tantangan bagi para ASN, tidak menutup kemungkinan ASN terlibat dalam salah satunya. Misalnya, radikalisme dan intoleran. Ini menjadi salah satu tantangan bagi para ASN. Berawal dari pandangan agama kemudian berlanjut pada klaim kebenaran.
Ia berpesan, jangan sampai ASN di lingkungan Kementrian Agama (Kemenag) berwawasan radikal, mengusung khilafah dan menganggap demokrasi bertentangan dengan agama.
“Dengan adanya buku panduan ini,  diharapkan menjadi pedoman bagi mereka. Karena penyebaran radikalisme ini sangat masif. Dengan berkembangnya media sosial. Bahkan berdasarkan penelitian, ada 21% guru tidak setuju adanya peribadatan agama lain di lingkungannya. Dan 54% persen pandangan masyarakat tidak setuju dengan adanya rumah ibadah agama lain,” terangnya.
Pandangan islamis, lanjutnya, menjadi faktor pendorong para guru mengajarkan agama yang eksklusif. Faktor lain yang mempengaruhi pandangan intoleran adalah penghasilan. “Semakin rendah penghasilan, semakin tinggi opini dan aksi radikal,” tegasnya.
Acara diselenggarakan oleh Inspektorat Jendral (Itjen) Kemenag RI dari hari Selasa sampai Jum’at, 13-16 November 2018 diikuti para penulis terdiri dari kalangan dosen, guru, peneliti, wartawan, pegawai KUA, penghulu, dan petugas Bimas dari masing-masing agama. (Suhendra/Muiz)
Sekretaris Itjen Kemenag RI, M Tambrin
Tangerang Selatan, NU Online
Ujaran kebencian di dunia maya saat ini sangat banyak beredar. Sampai ada beberapa oknum Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ikut terlibat di dalamnya. Padahal ASN mestinya memberikan contoh kepada masyarakat.
Sekretaris Itjen Kemenag M Tambrin mengungkapkan, ada beberapa ancaman dan tantangan bagi ASN, yakni darurat narkoba, pornografi, perselingkuhan, Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN) serta intoleran, radikalisme, terorisme.
Hal itu disampaikan saat membuka Kegiatan Penyusunan Buku ASN, Transnasional dan Media Sosial di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kemenag RI, Jalan Ir H Juanda No 37 Ciputat, Selasa (13/11).
“Sebab itu Itjen menginisiasi harus ada panduan buku untuk ASN, khususnya di lingkungan Kemenag. Ini menjadi bacaan dan panduan wajib bagi ASN di lingkungan Kemenag, saat ini ada 127 ribu ASN yang ada di bawah Kemenag,” terangnya.
Menurutnya, masalah-masalah yang menimpa ASN menjadi tantangan bagi para ASN, tidak menutup kemungkinan ASN terlibat dalam salah satunya. Misalnya, radikalisme dan intoleran. Ini menjadi salah satu tantangan bagi para ASN. Berawal dari pandangan agama kemudian berlanjut pada klaim kebenaran.
Ia berpesan, jangan sampai ASN di lingkungan Kementrian Agama (Kemenag) berwawasan radikal, mengusung khilafah dan menganggap demokrasi bertentangan dengan agama.
“Dengan adanya buku panduan ini,  diharapkan menjadi pedoman bagi mereka. Karena penyebaran radikalisme ini sangat masif. Dengan berkembangnya media sosial. Bahkan berdasarkan penelitian, ada 21% guru tidak setuju adanya peribadatan agama lain di lingkungannya. Dan 54% persen pandangan masyarakat tidak setuju dengan adanya rumah ibadah agama lain,” terangnya.
Pandangan islamis, lanjutnya, menjadi faktor pendorong para guru mengajarkan agama yang eksklusif. Faktor lain yang mempengaruhi pandangan intoleran adalah penghasilan. “Semakin rendah penghasilan, semakin tinggi opini dan aksi radikal,” tegasnya.
Acara diselenggarakan oleh Inspektorat Jendral (Itjen) Kemenag RI dari hari Selasa sampai Jum’at, 13-16 November 2018 diikuti para penulis terdiri dari kalangan dosen, guru, peneliti, wartawan, pegawai KUA, penghulu, dan petugas Bimas dari masing-masing agama. (Suhendra/Muiz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here