Islam dan humor

0
7
Oleh: Abdur Rouf HanifSuatu hari Abu nawas menggegerkan penjuru pasar. Ia menantang tebak-tebakan warga. Jika berhasil menebak ia akan memberi imbalan dan bila gagal ia meminta imbalan.

Isi tebakanya yang tak lazim membuat semua orang gagal menebak. Ia memberi tebakan “Limadza ana aghna mina Allah?” (kenapa saya lebih kaya dari Allah?). Semua orang gagal memberikan alasan. Tak terkecuali Sang Raja Harun Ar-Rasyid. Karena penasaran sang raja mengaku nyerah dan minta jawabanya.

Abu Nawas pun dengan tersenyum puas menjawab: “Karena saya punya istri, anak dan punya hutang. Allah tidak punya semua itu”. Sontak Harun Ar-Rasyid pun tertawa terpingkal-pingkal sambil berkata: “Majnun! (dasar wong edan)”.

Dan masih banyak kisah-kisah lucu lainnya dari seorang sufi yang seumur hidupnya dihabiskan untuk menghibur manusia.

Di era Nabi juga ada sahabat yang selera humornya kelewat batas.

Dikisahkan seorang sahabat Nabi yang bernama Nuaiman. Ia adalah pribadi yang humoris tapi gemar mabuk-mabukan. Satu hal yang membuat para sahabat iri dengannya yakni kecintaannya pada baginda Nabi yang sangat luar biasa. Sehari tanpa bertemu nabi ia merasa pusing, sebagaimana sehari tanpa meneguk khamr. Wal-hasil Nabi selalu mengajaknya dalam berdakwah hingga sahabat-sahabat iri melihat kedekatan Nabi dengan Nuaiman.

Para sahabat pun bertanya kenapa Nabi begitu dekat dengan Nuaiman. Nabi menjawab bahwa Nuaiman lah yang selalu menghibur Nabi dengan humor-humor segarnya, meskipun ia sering di-takzir (dihukum) oleh Nabi karena terciduk sedang mabuk. Tetapi Nuaiman rela, asal selalu dekat dengan baginda Nabi.

Selepas Nabi meninggal Nuaiman semakin menjadi-jadi keusilannya. Suatu hari ada seorang yang buta mencari toilet. Oleh Nuaiman ia diantar ke tempat pengimaman masjid dan disuruh kencing di sana. Sontak para sahabat pun geram dan memarahi si buta tersebut.

Esok harinya si buta tersebut jengkel dan ingin mencari siapa gerangan yang menuntunnya untuk kencing di pengimaman masjid. Sialnya ia kembali bertemu dengan Nuaiman.
Nuaiman berkata pada pengemis buta bahwa ia tahu siapa yang menjerumuskannya kemarin. Kemudian dituntunlah si buta tersebut menuju masjid. Ia diarahkan kepada Sayyidina Utsman yang sedang berdzikir di dalam masjid. Kata Nuaiman, orang yang dzikir di masjid itulah yang menjahilimu kemarin. Sontak sahabat Utsman lari tunggang-langgang karena dipukuli si buta dengan tongkatnya.

Para sahabat yang tahu bahwa itu ulah Nuaiman, tak berani mencemooh apalagi mengafirkanya karena Nuaiman adalah sahabat Nabi yang gemar menghibur baginda Nabi.

Agama Islam bukanlah agama yang keras dan kaku. Nabi sendiri adalah pribadi yang humoris. Islam bukan hanya soal perang, kafir, musrik, murtad, bid’ah maupun kosa kata-kosa kata menghakimi lainnya. Oleh karenanya di era sosial media kini, mari bijak memilah dan memilih dai yang beredar di internet. Ceramah yang disertai humor cenderung menyejukkan ketimbang ceramah yang berisi ujaran kebencian.

Penulis adalah Pengurus GP Ansor Kecamatan Gisting, Tanggamus, Lampung
Sumber : http://www.nu.or.id/post/read/99922/islam-dan-humor

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here