Jihad ala Generasi Masa kini

0
27

Kelompok militan radikal Islamic State in Irak and Syiria (ISIS) mengklaim bahwa jihad sebenarnya adalah perang. Mereka melandaskan pendapatnya pada hadis berikut.

مَنْ مَاتَ وَلَمْ يَغْزُ وَلَمْ يُحَدِّثْ نَفْسَهُ بِغَزْوٍ مَاتَ عَلَى شُعْبَةٍ مِنَ النِّفَاقِ

“Siapa yang mati dan tidak pernah perang serta tidak terlintas sedikitpun di hatinya untuk perang, maka ia mati dalam kemunafikan.” (HR. Muslim, No. 157)

Ibn Mubarak, dikutip oleh Ali Mula al-Qari dalam Mirqah al-Mafatih Syarh Misykah al-Mashabih, dalam buku Meluruskan Pemahaman Hadis Kaum Jihadis, mengatakan bahwa hadis tersebut tidak berlaku umum, tetapi hanya berlaku pada saat perang saja. Hal tersebut mengartikan bahwa dalam situasi aman tanpa adanya peperangan di wilayah masing-masing, perang bukanlah jihad dan jihad bukanlah perang.

Zainuddin al-Malibari menegaskan dalam kitabnya Fath al-Muin, bahwa jihad tidak mesti dengan mengangkat senjata dan berperang. Tetapi mengajarkan ilmu agama dan menyelesaikan permasalahan masyarakat juga merupakan bagian dari jihad.

Jihad dalam Alquran

Islam dijuluki oleh orang Barat sebagai agama pedang. Hal ini didasarkan pada ekspansi militernya sampai benua Eropa yang jauh dari negeri kelahirannya, Arab. Selain itu, konflik internal dalam perebutan kekuasaan antara pemimpin dan oposisi juga menjadi salah satu sebabnya.

Alwi Abdurrahman Shihab menjelaskan dalam bukunya Islam Inklusif Menuju Sikap Terbuka dalam Beragama, bahwa Jihad dalam Alquran dibagi menjadi dua, yakni jihad fi sabilillah dan jihad fillah. Jihad pertama merupakan usaha sungguh-sungguh dalam menempuh jalan Allah, baik dengan mengorbankan harta benda, maupun nyawa.

Adapun jihad kedua adalah upaya sungguh-sungguh dalam rangka mendekati Allah guna memperdalam spiritualitas. Upaya tersebut diwujudkan dengan pembersihan jiwa dari hal-hal negatif semacam iri, dengki, hasud, dan sebagainya.

Baca Juga:  Mengobati Luka Bangsa

وَجَاهِدُوْا فِي اللهِ حَقَّ ِجهَادِهِ…الاية

Dan berjihadlah kamu sekalian demi (menegakkan agama) Allah dengan sebenar-benarnya jihad… (QS al-Haj : 78)

Imam Jalaluddin al-Mahalli menafsirkan lafal fillahi dengan liiqamati dinihi, untuk menegakkan agama Allah. Sementara frasa haqqa jihadih, maksudnya adalah dengan mencurahkan segala kemampuannya dan menegakkan kebenaran.

Jihad dalam damai

Berjuang dengan menggunakan senjata hanyalah salah satu di antara jihad. Hal ini masuk pada jihad yang pertama. Tetapi, hal tersebut bukanlah satu-satunya wujud atau penafsiran jihad sehingga jihad seolah-oleh identik dengan peperangan. Makna jihad sangatlah luas.

Jihad dalam keadaan damai, tidak ada peperangan, tentu saja beda maknanya atau penerapannya. Sutan Mansur menjelaskan dalam bukunya yang berjudul Jihad, bahwa jihad di waktu damai berarti membangun, menegakkan, dan menyusun. Sebagaimana sabda Nabi, bahwa jihad di waktu damai inilah jihad yang besar. Mansur menegaskan bahwa jihad di masa damai tidak boleh berhenti sampai hari kiamat. Jihad di sini dapat diartikan mendidik dan mengajar. Dua hal tersebut menjadi pondasi penting dalam berjihad di masa damai. Keduanya juga harus ditempuh dengan menguras harta dan tenaga, biamwalikum wa anfusikum.

Bagi generasi milenial, jihad bisa diartikan dengan belajar secara sungguh-sungguh. Hal itu penting guna menghadapi masa depan dan menghadapi kehidupan dan pergaulan yang lebih luas lagi sebab globalisasi sudah tidak dapat dibendung. Generasi masa kini mungkin akan kesulitan membendungnya. Tetapi hal itu bukan suatu masalah, jika kita dapat mengaturnya.

Melawan hoaks dengan membuat klarifikasi, menulis narasi positif di berbagai media guna mengimbangi narasi negatif yang telah mendominasi dunia juga merupakan jihad masa kini. Seperti yang diungkapkan di atas, jihad sebenarnya adalah upaya sungguh-sungguh yang tentu saja untuk kepentingan positif bagi masyarakat dan pribadinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here