Anak Di Era Radikalisme

0
27


Gejala radikalisasi yang kian masif di negeri ini sedikit banyak memberikan pelajaran berharga bagi masyarakat. Pasalnya, gejala-gejala demikian tanpa sengaja memberikan efek kehati-hatian pada masyarakat dalam memilah dan memilih pesan-pesan yang tersebar. Alhasil, budaya berbagi pesan-pesan yang belum diketahui kebenarannya, untuk saat-saat ini mulai tereduksi. Meski tak bisa dimungkiri pula ada sebagian kecil gejala tersebut yang juga masih meracuni beragam pikiran masyarakat dalam ironitas radikalisme. Namun gencarnya radikalisasi dalam beragam bentuk, tanpa disadari telah membuka pemahaman banyak orang tentang wujud-wujud radikalisasi.
Terlepas dari terbukanya pemahaman masyarakat dalam memahami gejala demikian. Setidaknya Dr. Saud Usman Nasution (2017) mengatakan bahwa ada delapan akar permasalahan yang akan menjerumuskan masyarakat ke ranah radikalisme dan terorisme. Kedelapan akar permasalahan tersebut ialah dendam, ketidakadilan, kebencian, kesenjangan sosial, kemiskinan, kebijakan yang diskriminatif, residu kebebasan era reformasi maupun otonomi daerah dan ideologi/paham. Dari kedelapan akar permasalahan tersebut, peruncingan radikalisasi secara sederhana bisa dimafhumi oleh khalayak luas. Akan tetapi, tentu sangat bertolak belakang dengan pemahaman yang dimiliki oleh anak-anak.
Pada era digital semacam ini, anak-anak yang tumbuh dan lahir bersama teknologi, dalam pandangan Marc Prensky (2012), disebut sebagai generasi digital native. Anak-anak yang berkembang pada dekade 2000-an, selain memperoleh amunisi pengetahuan lewat lembaga-lembaga pendidikan juga melalui kecanggihan teknologi dan komunikasi. Kecanggihan teknlogi yang tak terbendung dalam penyebaran informasi dan komunikasi untuk saat ini, bagi pertumbuhan anak-anak adalah kegelimangan, bahkan tren yang tak bisa dilepaskan. Syarat makna demikian, sedikit banyak tentu akan berkecimpung pada zona narasi dan kontradiksi radikalisasi lewat beragam media, termasuk media sosial.
Berangkat dari kenyatan demikian, tentu sedikit banyak akan membuka kran radikalisasi pada setiap anak terbuka lebar. Sebab secara umum anak-anak tidak akan memilah dan memilih pesan-pesan yang diwartakan lewat media-media sosial. Hanya ukuran kesenangan dan keunikan yang tentu akan dijadikan patokan oleh anak-anak dalam mengambil pesan-pesan yang tersebar. Oleh sebab itulah, pembentengan deradikaisasi pada anak-anak adalah keniscayaan yang mesti diwujudkan agar paham-paham bengkok tak menyasar pada anak-anak.
Bahkan sefaham dengan itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Anak Berhadapan Hukum (ABH), Putu Elvina dalam sesi konferensi pers kejahatan terorisme menegaskan bahwa keterkaitan paparan radikalisme medsos pada anak-anak sangatlah memilukan. Sebab, anak-anak di era sekarang secara gamblang mengakses internet dan tanpa sengaja menemukan situs-situs radikalisme yang tersebar di dunia maya. Sebab itulah, perlu diperhatikan bersama mengenai gerak dan langkah tunas-tunas muda agar tak mudah terdoktrin bahaya radikalisme.
Butuh Perhatian
Dalam buku “Technopoly; The Surrendur Of Culture to Technology” Neil Postman mengatakan bahwa “jika para pelajar mendapatkan pengajaran cukup tentang sejarah, efek sosial, dan dampak psikologis dari teknologi, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang mengetahui bagaimana menggunakan teknologi dan bukan sebaliknya, generasi yang diperbudak teknologi.” Cukup mafhum, apabila Neil Postman sampai mengkhawatirkan dampak teknologi yang sampai demikian. Bahkan seperti yang telah disebutkan di muka, bahwa perkembangan tekonologi untuk dasawarsa ini adalah tren yang tak bisa dilepaskan. Karena itulah, perhatian khusus para orang tua secara seksama harus dicurahkan agar anak-anak—lewat kecanggihan teknologi—tak menjadi korban kebengisan radikalisasi oleh para generasi tua.
Selanjutnya, untuk membentengi anak-anak dari bahaya radikalisme yang kian melebar, diperlukan narasi-narasi positif yang berguna untu menarik simpati anak-anak. Contoh konkritnya, kesukaan dalam bermedia bagi kebanyakan anak sampai kalangan remaja adalah berkecimpung di dunia medsos dan anime. Dua dunia ini secara nyata telah menyeret pemahaman anak-anak untuk lebih cenderung pada pola kehidupan yang individualis dan jauh dari hakikat kebersamaan. Bahkan dalam dunia media sosial, anak-anak sampai kalangan remaja pada umumnya lebih mendominasi bermain media sosial untuk menyambung pertemanan dan bahkan aktivitas pacaran.
Lewat rekaan demikian, setidaknya plot-plot berbagi pesan yang belum diketahui kebenaran dan yang mengandung unsur radikalisasi juga marak beredar. Karena itulah, pemahaman dunia anak dalam bermedia sosial juga perlu diberikan pemahaman bahkan pelatihan untuk mengetahui radikalisme lewat media yang tersebar. Untuk yang selanjutnya, Dunia anime atau yang lebih disapa dengan manga kartun secara seksama juga memberikan dampak yang signifikan terhadap kehidupan anak-anak. Sebab, tanpa disadari dunia anime—secara kebanyakan—akan menarik anak-anak untuk berimajinasi fantasi sebagaimana yang termaktub dalam anime-anime yang ditonton. Bahkan apabila kita selami masa kecil kita sendiri. Maka tak terkirakan tentang perebutan tokoh protagonis yang berada dalam anime tersebut.
Berangkat dari kenyataan itulah, perhatian publik untuk menayangkan kampanye positif pada anak-anak melalui gambar atau film-film anime perlu diselaraskan. Sebab kecintaan kebanyakan anak-anak pada dunia anime juga sesekali menampilkan wajah buram peperangan yang tak bisa dijelaskan. Sefaham dengan itu, hasil penelitian Sujud Slamet Riyanto yang berjudul “Pengaruh Anime Di Kalangan Remaja” menyebutkan bahwa dampak anime bahkan sampai memengaruhi pola kehidupan setiap anak. Bahkan tak jarang ada yang bercita-cita untuk menjadi tokoh prtagonis pada setiap film-film anime yang ditonton. Oleh sebab itu, kontra propaganda lewat jaring-jaring narasi anime juga perlu dipupuk, agar racun-racun radikalisasi tak menyebar ke pemahaman anak-anak.
Terlepas dari perihal demikian, perhatian lebih para orang tua dan dunia pendidikan juga turut serta dalam pemberantasan radikalisasi sedari dini. Pembelajaran tentang literasi media dan penggunaan teknologi secara bermartabat harus diajari sejak kecil oleh para orang tua dan lembaga pendidikan agar anak-anak mampu bermedia secara turut dan patut. Sebab gelombang radikalisasi yang tersebar lewat beragam media secara seksama akan memahat karakter setiap anak hingga dibawa sampai pada masa dewasa. Karena itulah, apabila keberimbangan pengetahuan bermedia oleh anak-anak diperhatikan sedari dini, tentu akan menyelamatkan negeri ini dari regenerasi radikalisasi. Lewat mereka, mimpi-mipi perdamaian kita gulirkan. Sebab mereka adalah tunas-tunas muda yang akan meneruskan perjuangan generasi tua. Wallahu a’lam bi al-shawaab.

#muslimsejati

Summer: https://www.harakatuna.com/anak-di-era-radikalisme.html.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here