Jihad tidak semata mata perang

0
102

 

BincangSyariah.Com –Salah satu perang paling tersohor di era kehidupan Nabi Muhammad adalah perang Badar, yang dimenangkan dengan hasil gemilang. Saat itu pasukan muslim yang berjumlah sekitar 300 tentara tentara, berjihad menghadapi lawan yang jumlahnya jauh lebih besar, sekira 1000 orang. Bisa dipahami kalau perang yang sangat berat ini dikenang dengan bangga oleh kaum muslim.

Namun begitu pulang dari medan perang, Nabi berkata, “kita baru saja kembali dari peperangan kecil (jihadul ashgar), dan akan menuju perang besar (jihadul akbar).” Sontak para sahabat kaget mendengarnya. Perang Badar yang demikian beratnya dikatakan hanya perang kecil?

“Peperangan apa lagi (yang lebih besar dari perang Badar) wahai, Nabi?” tanya sahabat.

“Peperangan melawan hawa nafsu (jihadun nafsi)”.

Kebetulan saat itu sedang dalam waktu bulan Ramadhan, bulan di mana umat muslim diperintahkan melawan berbagai hawa nafsu secara intens. Fragmen kecil ini kemudian menjadi salah satu rujukan penting para ulama dalam memaknai kata “jihad” dalam ajaran Islam.

Jihad adalah salah satu konsep sensitif dalam Islam. Istilah ini berasal dari kata “jahada” atau ”jahdun”, secara bahasa berarti usaha atau kekuatan. Secara umum jihad bisa diartikan sebagai, mengerahkan segala usaha atau kekuatan untuk menuju kepada jalan yang diyakini sebagai kebenaran.

Para pengidap islamofobia kerap memersepsikan jihad sebagai ajaran untuk memerangi kelompok-kelompok lain di luar Islam. Tapi kesalahpahaman ini kadang diamini juga oleh kelompok tertentu dalam Islam. Sebagai contoh, kelompok-kelompok teroris yang mengatasnamakan Islam seringkali memakai doktrin jihad sebagai landasan gerakan dan rekrutmennya, serta menebar angkara membabi-buta.

Jihad yang sebetulnya bermakna sangat luas, dimaknai secara sempit, sekadar membenci dan memerangi orang “kafir”. Perintah jihad seolah-olah sudah pasti membawa unsur kebencian kepada kelompok lain. Padahal perkara memberi label “kafir” pada orang lain saja bukan perkara main-main. Apalagi kalau menilik riwayat yang disebut di atas, Nabi Saw. justru menekankan perjuangan yang sangat personal sebagai jihad skala besar, yakni melawan hawa nafsu.

Baca Juga :  Jihad: Antara Salah Paham dan Paham Salah

Dalam sejarah Indonesia, istilah jihad pernah dikaitkan dengan ajakan peperangan kepada kaum penjajah. Hal ini dilakukan oleh K.H. Hasyim Asy’ari bersama banyak ulama lainnya dalam seruan Resolusi Jihad yang antara lain berbunyi, “Wajib hukumnya bagi umat Islam Indonesia berperang melawan Belanda (penjajah)”.

Seruan yang diumumkan pada 22 Oktober 1945 ini dikeluarkan karena konteks Indonesia saat itu yang tengah mempertahankan kemerdekaan yang baru seumur jagung. Sementara pihak penjajah secara agresif terus menekan dan menginvasi beberapa wilayah Nusantara dengan gerakan bersenjata.

Selepas perjuangan kemerdekaan dan berakhirnya era perjuangan bersenjata, K.H. Hasyim Asy’ari dan ulama lainnya meneruskan perjuangan lewat pengabdian kemasyarakatan, untuk mengisi kemerdekaan dengan baik. Praktik jihad para ulama selepas masa perang biasanya berkonsentrasi pada bidang pengembangan pendidikan umat melalui pesantren-pesantren, serta melakukan kerja-kerja kebudayaan yang bermanfaat untuk kemajuan bangsa.

Dari sini kita bisa melihat pemaknaan jihad secara kontekstual. Jihad bisa saja diartikan sebagai anjuran perang secara fisik, saat kondisi memang tak memberikan pilihan. Tapi dalam kondisi normal, jihad bisa berupa gerakan penuh kasih sayang untuk mengedukasi masyarakat.

Jihad bukan monopoli umat muslim yang hidup dalam kondisi perang. Pada masa damai seperti sekarang kita juga tetap bisa berjihad, berlomba-lomba menjadi muslim yang berguna bagi orang banyak. Karenanya dalam konteks kehidupan modern seperti sekarang, seorang pengojek yang bekerja keras mencari nafkah buat keluarganya bisa menjadi pejihad (mujahid). Pemimpin politik yang bekerja sekuat tenaga untuk kemakmuran negaranya juga sedang melakukan jihad. Begitu juga kerja seorang wartawan yang memberitakan seakurat mungkin untuk melawan berita-berita bohong.

Mengutip ucapan Nabi Saw. bahwa jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu, dalam konteks saat ini jihad mestinya dilakukan tanpa kebencian. Bahkan kita mesti berjihad menaklukkan hawa nafsu dan diri sendiri untuk memerangi kebencian kepada kelompok lain.

#muslimsejati

Sumber : bincangsyariah.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here