Optimisme kerukunan beragama dalam masyarakat plural

0
109

Oleh: Mohammad Sholihul Wafi*

Apapun sebabnya dan bagaimanapun bentuknya, kekesaran atas nama agama merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Hal ini karena secara normatif seluruh agama mengajarkan kerukunan, perdamaian, dan sangat menjunjung tinggi harkat kemanusiaan. Namun, interpestasi dari normativitas tersebut justru sering dijadikan alasan pembenaran oleh para pemeluk agama tertentu untuk melakukan aksi-aksi kekerasan terhadap pemeluk agama lain. Maka, tak berlebihan kalau kita mengatakan, tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama merupakan kejahatan terbesar dalam sejarah peradaban manusia.

Terkait akan hal tersebut, lewat buku ini Huston Smith mengajak semua orang kembali menumbuhkan rasa toleransi dengan memahami aturan emas dari beragam agama besar dunia Hindu, Budha, Konfusianisme, Toisme, Islam, Yahudi, dan Kristen. Hal ini karena agama yang hidup dalam diri akan menggerakkan individu dan kelompok pada sebuah petulangan batin yang sunyi, dan selanjutnya dapat memancarkan energi positif ke dalam kehidupan. Inilah seharusnya cara memaknai bentuk keberagamaan agama yang autentik. Dalam perjalanan sejarah, kita menemukan bahwa model keberagamaan yang sejati ini melahirkan tokoh-tokoh perubahan yang sangat dihormati, seperti Konfusius dan Laotze, Buddha, Yesus, Muhammad, dan yang lainnya (hlm. 18).

Buku ini menguraikan sejarah dan nilai-nilai atau ajaran dasar tujuh agama besar dunia, yakni Hinduisme, Buddhisme, Konfusianisme, Taoisme, Islam, Yahudi, dan Kristen, ditambah dengan uraian tentang agama-agama purba. Meski demikian, patut sedikit disayangkan juga karena Smith tidak memberikan penjelasan khusus dalam buku ini tentang pemilihan agama-agama yang dibahas serta urutan pembahasannya. Akan tetapi, melalui buku ini setidaknya kita akan memahami betapa semua ajaran-ajarannya sangat luhur dan bersifat universal.

Lebih lanjut, Smith memaparkan bahwa pada dasarnya agama merupakan jalan manusia untuk memahami hal-hal mendasar dalam hidupnya, seperti tujuan hidup, jalan kebahagiaan, atau makna kematian. Jalan itu ditempuh dalam kerangka spiritualitas, yakni dengan memberi tempat khusus yang luas bagi dunia batin manusia. Selain aspek spiritualitas, nyatanya agama juga mengusung misi kemanusiaan, yakni mencita-citakan kehidupan yang lebih beradab dan manusiawi. Ini terlihat jelas dari peran-peran agama-agama besar dalam memberi warna dan sumbangan berharga pada perkembangan peradaban. Sebagai contoh, sumbangan Hinduisme bagi India pada khususnya dan Buddhisme pada China dan Jepang. Tak hanya itu, Konfusianisme dalam uraian Smith juga tampak berperan penting bagi tumbuhnya etos ekonomi di kawasan Asia Timur hingga saat ini (hlm. 211).

Baca Juga:  Membaca Kaedah Fiqih Lewat Karya Ulama Nusantara

Namun demikian, sisi spiritualitas agama juga seringkali menunjukkan hasrat revolusionernya. Ini terlihat saat Nabi Muhammad mulai mendakwahkan Islam di Arabia. Menurut Smith, monoteisme yang diajarkan Muhammad telah mengusik keyakinan politeisme masyarakat Arab Pagan yang sebenarnya dipertahankan karena bisa memberi keuntungan ekonomi yang besar bagi penduduk Mekah. Selain itu, ajaran moral Islam juga sangat kritis dalam memandang praktik tidak adil yang berlangsung pada kehidupan sosial waktu itu (hlm. 260).

Lebih lanjut, agama Kristen juga membawa pesan spiritual yang kurang lebih senada. Dalam pandangan Smith, Kristen berpijak pada kekaguman bahwa kasih sayang Tuhan kepada manusia sungguh amat luar biasa. Tuhan mencintai manusia secara mutlak, tanpa menimbang fakta-fakta tertentu yang terkait kepantasannya untuk dicintai, bahkan termasuk mencintai mereka yang tidak beriman pada-Nya. Terilhami oleh ketulusan Tuhan dalam mencintai makhluk, doktrin cinta dan kasih inilah yang dijadikan pijakan dan dikembangkan oleh Kristen (hlm. 367).

Pilihan Smith memilah-milah yang terbaik dari sejarah agama yang penuh gejolak dengan menfokuskan perhatiannya pada berbagai klaim teologis saja bisa menjadi kekurangan dan bisa jadi kelebihannya. Ini karena Smith menggali sejarah agama secara parsial. Namun demikian, ia benar-benar menggali nilai-nilai kebajikan dari sejarah terbaik agama-agama. Dengan upaya itu, Huston Smith tidak hanya berusaha menetrasi dunia kaum Hindu, Budha, Islam, misalnya, tapi juga berupaya membangun “jembatan” dari dunia kita yang tersekat agama-agama agar dipahami pembaca yang tentunya memiliki latar belakang lebih beraneka lagi. Dari sini, Smith seolah-olah sedang menyuarakan optimisme melalui buku ini, bahwa agama masih akan dibutuhkan dan bermakna bagi pembangunan peradaban umat manusia.

Dalam kaitannya dengan optimisme ini, Smith menyadarkan kita bagaimana seharusnya menyikapi pluralitas agama tanpa menghakiminya, yang terkadang saling-silang dan bertabrakan meski sejatinya nilai-nilainya sejalan. Smith mengajarkan kepada kita betapa pentingnya upaya saling memahami dan saling menghormati yang dibangun dengan kehendak untuk saling mendengar.

Maka, kalau kita ingin membangun peradaban plural yang rukun, kita tak boleh abai dari segala bentuk penghormatan kepada sesama pemeluk agama. Hal ini karena suara bijak agama yang sarat dengan pesan kemanusiaan akan terancam bila sikap menghormati ini diabaikan. Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here