Medsos dan Jalan Pintas yang Tak Pantas

0
146
Main social networks - Brands

Medsos dan Jalan Pintas yang Tak Pantas

Oleh: Ali Usman*

Ada pepatah Arab yang berbunyi: bul ‘ala zamzam, artinya “kencingilah air zamzam”. Ungkapan ini bermakna sebagai jalan pintas untuk meraih popularitas yang bisa ditempuh oleh seseorang jika ingin cepat terkenal seantero dunia, maka lakukanlah suatu aktivitas yang oleh akal sehat dianggap tidak etis.

Makna dari pepatah tersebut juga memiliki relevansi dengan situasi mutaakhir di sekitar kita, terutama dalam aktivitas media sosial (medsos). Banyak orang terkenal lantaran kepopulerannya di medsos, baik positif maupun negatif. Hal yang positif tentu tidak mempunyai relasi langsung dari uangkapan di atas. Karena itu, ungkapan bul ‘ala zamzam tentu saja bukan perintah atau anjuran yang perlu dicoba, tetapi justru perlu dihindari.

Namun sebaliknya, perangai negatif yang ditunjukkan oleh seorang pengguna medsos untuk menyatakan tidak setuju kepada pendapat atau perkara tertentu, misalnya, seringkali disampaikan dengan cara-cara yang tidak sopan atau dalam terminologi agama disebut su’u al-adab. Pelaku seolah tidak punya beban moral melakukan penyerangan berupa bully, fitnah, teror, dan padanan negatif lainnya.

Itulah relevansi pepatah Arab di atas. Korban bully bisa beragam, dari politisi hingga tokoh agama (kiai) sebagaimana marak terjadi akhir-akhir ini, seperti Buya Syafii Maarif, KH. Ma’ruf Amin, KH. Said Aqil Siradj, dan terakhir KH. Musthafa Bisri (Gus Mus). Para tokoh tersebut tentu disadari sebagai manusia biasa, pasti juga tidak luput dari salah, dan karenanya boleh dikritik jika menghendaki demikian, tetapi caranya juga wajib etis, santun, dan elegan, tidak mencaci-maki secara emosional.

Di hadapan para penggunanya, medsos tidak bisa diposisikan sebagai “realitas” yang netral, tetapi penuh dengan kepentingan dan ideologi. Seorang yang menganut agama Islam lebih enjoy mengakses berita dan informasi pengetahuan dari website bernuansa agamanya sendiri dibanding agama non-Islam; seorang yang mendukung calon pemimpin dalam sebuah kontestasi politik selalu dipastikan menyukai update berita-berita positif berkaitan dengan calon idolanya, sementara berita-berita negatif terkait lawan idolanya, meski juga melakukan akses, seringkali digunakan sebagai senjata untuk menyerang; dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Menakar Fitnah Untuk Quraish Shihab

Begitulah yang terjadi sekarang, maka berhati-hatilah, sebab medsos jika digunakan untuk hal negatif akan berujung malapetaka yang dapat merugikan penggunanya. Medsos sebagaimana dunia nyata memberikan sarana kebebasan berekspresi, tetapi kebebasan itu tetap dibatasi oleh hak kebabasan orang lain. Medsos justru sangat rawan dan lebih “berbahaya” dibanding dunia nyata.

Indonesia mempunyai perangkat hukum tentang tindak pidana berbasis medsos lewat UU ITE. Dan oleh karena itu, setiap individu yang melakukan provokasi, fitnah, pencemaran nama baik, berpotensi akan dijerat oleh UU No. 11 Tahun 2008 tentang ITE. Apalagi di musim kampanye pilkada dan jelang pemilu, fluktuasi pelanggaran berbasis medsos akan semakin meningkat.

Maaf dan nilai etis

Berdasarkan realitas itu, penting menjadikan nilai-nilai etis, baik bersumber dari agama maupun adat tradisi sebagai acuan perilaku ber-medsos. Kalau prinsip ini dapat dipegang teguh, maka tidak akan terjadi seorang anak muda yang baru mengalami pubersitas beragama melakukan caci-maki dan sinis mengumpat perkataan kotor kepada seorang kiai. Artinya, kalau berpikiran “sehat”, seseorang akan berpikir seribu kali kalau ia hendak mencaci-maki Gus Mus, misalnya, sebab akan mempertimbangkan etika layaknya seorang anak kepada orang tua, kiai, dan panutan umat.

Beruntung Gus Mus memaafkan para pencela itu sebelum sowan bertemu langsung dengannya di Rembang selang beberapa hari kemudian setelah itu. Inilah wajah Islam yang ramah, rahmat li al-‘alamin,tidak seperti ditunjukkan oleh sebagian kalangan, yang kokoh tak berkutik enggan memaafkan orang yang bersalah. Gus Mus mengamalkan apa yang oleh al-Qur’an disebutkan setidaknya dalam tiga bentuk: memaafkan kesalahan manusia (wa al-‘afina al-nas), maafkanlah mereka (fa’fu ‘anhum), dan jika kamu memaafkan (wa in ta’fu).

Baca Juga:  Menanamkan Nilai Piagam Madinah dan Pancasila di Generasi Melineal

Memaafkan dan proses meminta maaf, meminjam istilah Jacques Derrida, merupakan “rahasia batin yang tak terungkap”. Pengalaman meminta maaf dan memaafkan membutuhkan lapang dada antar keduabelah pihak, meski Derrida sendiri pesimis: adakah pemberian (maaf) yang tulus dan tanpa syarat? Ikhlas, dalam istilah agama, juga membutuhkan balasan dari Tuhan. Lalu bagaimana? Jalan terakhir, melupakannya. Ya, lupakan saja tragedi bersalah dan pe(maaf)an itu.

Kita perlu belajar dan mengambil hikmah dari apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang suci. Kanjeng Nabi Muhammad Saw. layak jadi tauladan. Dikisahkan, meskipun Nabi seringkali diperlakukan hina, ia tetap meaafkan kezhaliman para pelakunya.

Peristiwa Fathu al-Makkah (pembebasan kota Mekkah) menjadi bukti historis, ketika Nabi dan umat muslim memperoleh kemenangan, di sanalah ia menunjukkan akhlak mulia dengan memaafkan kaum Quraisy Mekkah yang selama bertahun-tahun melakukan penistaan kepadanya berupa provokasi boikot ajaran Islam, para pengikutnya dianiaya, bahkan dibunuh, tetapi Nabi tetap dalam pendirian: memaafkannya.

Itulah misi profetik Islam. Memberi maaf kepada orang, yang, apalagi secara tulus mengaku bersalah, adalah keniscayaan. Sebab dari sinilah kehidupan masyarakat yang harmonis tersemai. Jika dalam suatu masyarakat memupuk subur kebencian, curiga, dan balas dendam, maka ini penanda sebagai masyarakat yang sakit. Obatnya hanya satu, yaitu rokonsiliasi (islah) dengan cara saling memaafkan. Semoga.

 

*Penulis adalah Pendidik dan aktivis sosial di Yogyakarta

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here