Menjadi Indonesia yang Kafah

0
17

Oleh Wahyu Noerhadi

Satu tempo, saya berjumpa, ngopi, dan ngobrol ngidul-ngalor-ngetan-ngulon dengan seorang kawan dari NU Online. Dari obrolan sore hari itu, ada satu topik (cerita) yang hingga kini masih terpatri dalam batok kepala saya. Kawan saya yang wartawan itu berkisah, pada saat ia melakukan peliputan tentang Hari Raya Imlek atau Tahun Baru China, ia bersua dengan seorang kakek tua penjaga Hok Tek Bio di kampungnya, di Cirebon. Dan ketika ia mengenalkan bahwa dirinya adalah wartawan NU Online, katanya, kakek tua itu tiba-tiba menampakkan wajah yang semringah dan terkesan begitu karib. Kata kawanku, sang kakek tersenyum lebar hingga tampaklah beberapa gigi yang sudah tanggal.

 

Setelah berkenalan dan kawanku sudah mendapatkan bahan berita, kawanku mengungkapkan, si kakek bercerita atau tepatnya berharap, benar-benar berharap pada Nahdlatul Ulama (NU) agar senantiasa mampu menjaga keutuhan NKRI. Kakek itu berharap agar NU selalu mampu mengawal persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang besar. Kata kawanku, yang terus diingat olehnya itu ialah saat si penjaga kelenteng menyampaikan rasa terimakasihnya kepada NU sebagai Ormas yang sampai saat ini selalu menebar kedamaian.

 

“Islam yang rahmatan lil ‘alamiin,” kata kawanku pada si kakek.

 

Selanjutnya, satu tempo yang lain, di kantin kampus, saya bercakap-cakap dengan seorang kawan baru yang awalnya saya kira dia itu muslim, dan ternyata Katolik. Percakapan bermula ketika kami menuju kantin, dan kawan kelas saya itu berkata sambil menyenggol tubuh saya dengan sikunya, “Kader muda NU, ya?” Saya pun kaget.

 

Mengapa dia tiba-tiba bertanya begitu? Saya membatin. Ah ya, di dalam kelas, waktu perkenalan, saya menyebutkan bahwa saya bantu-bantu di sebuah lembaga di PBNU.

 

“Mmm, NU kultural, Bung. Hehe,” sanggah saya, yang kemudian berpikir setelahnya bahwa NU itu memang dibangun dari kultur.

 

“Bung, gue seneng lihat kader-kader muda NU yang rajin meng-counter radikalisme dan mengampanyekan kesatuan Republik Indonesia. Gue percaya bahwa semua agama mengajarkan kebaikan dan perdamaian, bukan kekerasan dan perpecahan, termasuk agama Islam. Maka itu, gue juga kurang sepakat tuh adanya Islamophobia di Barat sana. Anggapan mereka tentang Islam gue kira sangatlah subjektif. Mereka belum paham betul bagaimana Islam di Indonesia. Mereka mungkin tak pernah mendengar cerita tentang orang-orang Islam yang menghajar penjajah di Surabaya. Meski dengan kalimat-kalimat Islam, gue pikir, semangat kebangsaanlah yang digaungkan sama Bung Tomo waktu itu, buat ngusir penjajah dan untuk kemerdekaan Indonesia,” jelasnya di hadapan muka saya yang hanya manthuk-manthuk saja mencerna ucapannya.

 

Saya mencerna bahwa kawan saya yang berkacamata bundar itu sedang bicara soal peristiwa 10 November 1945 atau yang juga kita kenal dengan Pertempuran Surabaya, yang semangatnya lahir dari Fatwa Resolusi Jihad Founding Father NU, Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari pada tanggal 22 Oktober 1945.

 

Bagi saya, pada peristiwa 10 November yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan itu, sumbangsih kiai seperti KH Hasyim Asy’ari, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Mas Mansur, KH Wahid Hasyim, serta santri-santrinya amatlah besar. Bung Tomo, TKR (Tentara Keamanan Rakjat), etnis Tionghoa, dan laskar santri Hizbullah-Sabilillah bertempur dengan 30 ribu pasukan Britania Raya. Saya pikir, itulah persatuan Indonesia!

 

“Gue serius, Bung, NU harus berdiri tegap melawan radikalisme Islam. Gue agak khawatir juga dengan aksi-aksi itu, Bung. Jangan sampai deh Islam nantinya mengalami zaman kegelapan, di mana dominasi agama begitu kuat masuk ke ranah politik. Jangan sampai agama dijadikan alat untuk berbuat semena-mena, mengawasi dan menghukum siapa saja yang diangap sesat. Tapi gue rasa aksi-aksi entu hanya politik belaka dan sifatnya sementara. Bentar lagi juga reda. Tapi kalo ampe NU turun ke jalan bareng mereka, lha itu udah bahaya. Harapan gue sih, NU juga

Muhammadiyah bisa konsisten dan komitmen buat jaga keutuhan NKRI,” ungkapnya.

 

Saya menanggapinya dengan tersenyum. Dan, tiba-tiba teringat Gus Dur. Ya, kita tahu, Gus Dur itu berdiri di atas semua golongan; dekat dan terdepan membela minoritas, Contohnya terhadap etnis Tionghoa. Kita mafhum, pasca tragedi Mei 1998, Gus Dur—yang saat itu masih menjabat sebagai Ketum PBNU—menyerukan kepada warga Tionghoa yang berada di luar negeri agar balik lagi ke Indonesia. Dan, Gus Dur menjamin keselamatan mereka. Gus Dur pulalah, melalui Keppres No. 6 tahun 2000, yang mengubah tanggal Tahun Baru Imlek menjadi tanggal merah, hingga kita pun bisa berleha-leha di rumah.

 

Terbitnya Keppres itu bikin banyak orang terheran-heran. Bahkan bikin kaget sendiri Budi Tanuwibowo selaku Sekretaris Dewan Rohaniwan Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia. Budi kaget karena proses terbitnya Keppres itu terbilang cepat (Kompas, 7 Februari 2016).

 

Gus Dur memang kerap disebut sebagai presiden yang nyeleneh dan kontoversial. Padahal, kata guru ngaji saya, Gus Dur itu ibarat lokomotif Jepang yang super cepat, sedang kita masyarakat Indonesia adalah gerbong kereta ekonomi Indonesia. Tentunya banyak dari kita yang terseok-seok mengikuti laju pemikiran Gus Dur. Hal itu terbukti ketika pada akhirnya Gus Dur dijuluki Bapak Bangsa, tokoh pluralis ataupun humanis. Meskipun cukup sulit juga menyematkan atau menyebut Gus Dur dengan satu-dua gelar atau title.Wong Gus Dur sudah manusia yang manusia; yang memanusiakan manusia. Gus Dur itu mengajarkan kebangsaan; mengajak kita untuk menjadi bangsa Indonesia yang kafah, yang utuh; menunjukkan hakikat persatuan dan kesatuan bangsa, sebagaimana amanat salah satu butir Pancasila, sebagai dasar berdirinya Republik Indonesia.

 

Ya, andai saja Gus Dur masih ada. Harapan kakek tua penjaga kelenteng dan harapan kawan katolik saya bakal langsung dijawabnya: “Berapa pun besar biaya dan resikonya, NU akan menjaga keutuhan NKRI.” Harapan saya, (sifat, sikap, dan pemikiran) Gus Dur tetap ada di relung-relung batin dan kepala kita, terutama pada anak-anak muda NU atau generasi milennial macam saya.

 

Tidak hanya lewat Gus Dur, selaku tokoh NU dan Bapak Bangsa, kepada tokoh-tokoh NU lain seperti Mbah Moen, (Mbah) Gus Mus, Kiai Said, Habib Luthfi, dan kiai-kiai lainnya kita bisa belajar. Belajar mematrikan paham hubbul wathon minal iman Hadratus Syeikh KH. Hasyim Asya’ari kepada ranah rasa. Hingga cintanya betul-betul pada Indonesia. Ya, rasa cinta pada Tanah Air bagian dari iman. Menurut Gus Mus, tidak ada alasan untuk tidak mencintai Indonesia; kita lahir, hidup, dan bahkan mungkin mati nanti ada di Bumi Pertiwi.

 

Kemudian, Kiai Said pun sering mengungkapkan bahwa hanya di Indonesia ada kiai yang nasionalis dan nasionalis yang kiai. Tidak ekstrem kanan tidak juga ekstrem kiri, tapi di tengah-tengah dengan menjadi Indonesia, sebagaimana prinsip NU sendiri, yakni tawazun (proporsional), selain dua prinsip lain: tasamuh(toleran) dan tawasuth (moderat).

 

Ketiga prinsip itulah yang saya pikir perlu ada dihayati betul oleh warga Nahdliyyin pada khususnya dan warga Indonesia pada umumnya. Selain itu, di tengah radikalisme dan modernitas yang terus merongrong manusia kita, maqolah masyhur di NU, “Almuhafadhoh alal qodimis solih wal akhdu bil jadidil aslah,” atau “Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik” harus terus ada pada benak kita.

 

Saya kira itulah harapan (mimpi) saya, yang mungkin harapan kita semua untuk Indonesia, yang di dalamnya NU tumbuh dan berkembang; menjaga-mengawal jargon #NKRIHargaMati. Ya, harapan saya sebagai generasi milenial memang tak muluk-muluk, NU dan Indonesia harus seperti ini atau harus seperti itu. NU atau Indonesia harus sebagaimana adanya, sebagaimana mestinya, sebagaimana cita-cita para pendirinya; sebagaimana harapan mereka (para pendiri) kepada kita, selaku penerusnya.


Penulis adalah pegiat sastra dan literasi, kini diembani amanah mengelola nucare.id.

http://www.nu.or.id/post/read/105062/menjadi-indonesia-yang-kafah

#MuslimSejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here