Membendung Radikalisme dalam Spirit Idul Fitri

0
142

Hari yang dinanti-nanti oleh segenap masyarakat Islam dunia adalah Hari Raya Idul Fitri. Secara sederhana, Idul Fitri berarti kembali suci. Kembali suci ini memiliki kontekstuliasasi sangat beragam. Intinya, Idul Fitri adalah momentum bersih-bersih diri dari segala kotoran yang ada di dalam tubuh kita; entah itu membasmi penyakit kikir, dikit-dikit marah dan lain sebagainya.

Di tengah terpaan paham radikal yang menerpa berbagai aspek strategis dalam kehidupan berbangsa dan negara, merefleksikan Idul Fitri sebagai momentum bersih-bersih paham radikal adalah keputusan yang tidak hanya jeli. Lebih dari itu adalah merupakan langkah yang tak bisa ditunggu sampai besok lagi. Terlebih ketika merujuk pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian yang menyatakan bahwa beberapa kampus di Indonesia telah terpapar paham radikal.

Sebagaimana yang sudah diuraikan, bahkan berkali-kali ditegaskan dengan cara semacam ini (dalam tulisan) di media ini juga bahwa radikalisme yang berpotensi besar melahirkan aksi terorisme merupakan ancaman nyata bagi keberlangsungan dan masa depan gemilang Indonesia tercinta.

Untuk kesekian kalinya, kami tidak henti-hentinya mengedukasi masyarakat secara menyeluruh bahwa radikalisme dan terorisme bukanlah jalan atau paham yang dibenarkan dalam Islam. Justru ia merusak dan membuat runyam citra Islam yang damai dan penuh kasih sayang.

Oleh sebab itu pula, pada momentum hari besar umat Islam ini, kami mengajak seluruh eleman masyarakat Islam untu memaknai Idul Fitri bukan sekedar hanya salam-salaman kepada sanak-saudara dan tetangga saja, melainkan momentum untuk memperkuat Islam yang damai, toleran dan penuh kasih sayang serta membendung paham radikal yang kian menguat.

Idul Fitri, sebagaimana disinggung di awal, merupakan momentum saling memaafkan dan memper-erat tali silaturrahmi.  Jadi, Idul Fitri mengajak kepada kita semua untuk benar-benar menjalankan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin, tanpa adanya kekerasan.

Baca Juga:  Diponegoro, Santri dan Indonesia

Radikalisme dan terorisme sangat bertentangan dengan spirit Idul Fitri. Hal itu terlihat dari beberapa hal. Pertama, Idul Fitri merupakan momentum untuk sucikan diri. Kita paham betul bahwa laku radikalisme adalah merupakan kotoran atau bahkan penyakit kronis dalam tubuh atau fikiran dan tindakan manusia.

Dengan Idul Fitri inilah kita kembali sucikan diri pengaruh radikalisme dan terorisme dengan kembali ke islam yang rahmatan lil alamin, kata Imam besar Masjid Istiqlal, Nasarudin Umar.

Kedua, memperkuat tali persaudaraan. Tentu bukanlah hal yang asing bagi masyarakat Indonesia fenomena tempat ibadah non-Muslim, seperti Gereja, memasang spanduk yang bertuliskan ucapan selamat Idul Fitri. Ini merupakan cerminan betapa persaudaraan benar-benar terasa pada momentum Idul Fitri.

Setidaknya dua hal di atas sudah cukup ampuh untuk membersihkan diri dari paham radikal dan teroris. Dengan membersihkan diri dari penyakit kronis radikalisme dan terorisme serta memperkuat tali persaudaraan di atas bhinnke tunggal ika, maka radikalisme tidak akan bertahta di singgasana Indonesia.

Sedangkan out-put dari dua refleksi dari Idul Fitri sebagaimana disebut di atas adalah memahami ajaran Islam secara komprehensif; mengerti fikih prioritas dan lokalitas, sehingga puncaknya adalah mempunyai pemahaman bahwa Islam dan Pancasila merupakan sesuatu yang kompatibel. Islam kompatibel dengan Pancasila.

Kemudian yang menjadi harapan kita semua pada momentum Idul fitri ini, selain meningkatnya kualitas ibadah dan taqwa, juga semakin mencintai Tanah Air Indonesia. Cinta Tanah Air, kata KH. Wahab Hasbullah, merupakan sebagian dari iman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here