Radikalisme dan Terorisme: Dulu dan Sekarang

0
102

Radikalisme dan terorisme bukanlah barang baru. Artinya, ia sudah menggelaja sejak lama. Secara kuantitas, aksi-aksi bom mulai marak di Indonesia kisaran tahun 2000. Ya. Bom gereja yang terjadi pada tahun ini membuka gerakan radikal untuk melancangkan aksi “bejatnya”. Hingga tahun 2017, bom demi bom diledakkan.

Dari segi jumlah korban, Bom Bali I merupakan peristiwa naas yang menewaskan banyak orang. Ada 202  orang, yang terdiri dari 164  orang asing dan 38 WNI. Ini menjadi bon dengan korban terbanyak dan bersamaan dengan itu juga mengguncang dunia. Dilanjut Bom Marriot I (2003), Bom Mobil yang meledak di Kedutaan Besar Australia (2004), dan Bom Bali II (2005).

Seolah tidak mempunyai pusar, kelompok ekstrim terus melakukan kekacuan di Indonesia. Pada 17 Juli 2009, lagi-lagi hotel JW Marriot dan Ritz-Carlton menjadi menjadi sasaran bom. Rentetan ini tidak putus jua. Pada akhir September 2010, Ahmad Abdul Rabani membawa peledak yang dibawanya dengan menggunakan sepeda ontel. Belum sampai tempat yang hendak dituju, sepeda ontelnya menabrak marka jalan (Jl. KH. Nur Ali, Kalimalang, Bekasi).

Belum hilang kekhawatiran masyarakat Indonesia akan ancaman bom yang bisa sewaktu-waktu meledak di tempat umum, pada tanggal 15 April 2011, M. Syarif Astanafarif, melakukan aksi “heroik” dengan meledakkan dirinya bersama bom ditbuhnya di Masjid Adz-Dzikro. Kejadian ini terjadi persis di kompleks Markas Kepolisian Resor Kota (Mapolresta), Cirebon. Pada tahun ini, terjadi juga bom yang berlokasi di Solo.

Serangkaian kejiadian bom sebagaimana dijelaskan ada paragraf sebelumnya, menjadikan aparat kepolisian, dan lembaga yang bersangkutan serta tokoh agama berfikir keras untuk membendung aksi terorisme yang tak jarang mengatasnamakan agama itu.Berbagai cara dan program tidak cukup meredam aksi terorisme. Terbukti, pada tahun 2013, Mapolres Poso menjadi bahan “percobaan” aksi teror dengan meledakkan diri itu.  Meskipun tidak menimbulkan korban, namun kejadian ini sudah sangat cukup meresahkan masyarakat.

Baca Juga:  Sujud Sebagai Simbol Bersyukur

Pada tahun 2016, kawasan Jakarta pusat menjadi incana kelompok garis keras. Kali ini, Sarinah menjadi targetnya. Pada 14 Januari, tepat pukul 11.40 WIB, di Starbucks Cafe, terdengar ledakan yang cukup besar. Tidak selang lama, terjadilah ledakan susulan, yang terjadi di pos lalu lintas Sarinah. Kejadian kala itu lantas dilengkapi dengan drama tembak-menembak antara polisi dengan pelaku teror.

Mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia meyakini bahwa tahun lalu (2017) merupakan tahun damai, bebas teror dan semacamnya, karena dedengkot terorisme (Nurdin M Top, dkk) sudah dimusnahkan dari bumi pertiwi. Namun, tidak demikian. Tanggal 24 Mei 2017 menggugurkan asumsi ini, karena pada hari itu, di terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, telah terjadi aksi bom bunuh diri. Berselang 15 menit, bom meledak di halte Trans Jakarta.

Uraian di atas adalah sebagian kejadian teror yang terjadi antara tahun 2000 ke sini. Berangkat dari sinilah, para ahli dan akademisi meneliti atau mengkaji fenomena tersebut dari berbagai perspektif. Bertolak dari rentenan kejadian teror dari tahun ke tahun inilah, dapat ditarik sebuah benang merah bahwa penetrasi ideologi radikal, antara dahulu dan sekarang berbeda.

Jika dahulu kelompok radikal-teroris ini melancarkan serangannya pada tempat-tempat umum, yang menurut mereka, terdapat orang kafir atau instansi pemerintah thagut (pemerintah yang tidak menjalankan syariat Islam), maka saat ini, justru merambah pada orang muslim, namun yang memiliki pandangan yang berbeda.

Hal ini bisa dilihat dari pola gerakannya yang sudah merambah pada masjid-masjid. Bahkan, sebagaimana diungkapkan di atas bahwa Bom Cirebon menjadikan sebuah masjid sebagai sasaran dengan korban seluruhnya muslim.

Pola baru gerakan radikalisme yang mengarah pada terorisme saat ini adalah dengan cara penculikan. Target penculikan ini adalah untuk mengkader manusia radikal dengan cara mencuci otak (brainwash).

Baca Juga:  Ramadhan Bulan Rahasia

Barangkali dari kita pernah mendengar atau bahkan bersinggungan langsung dengan orang yang sudah dicuci otaknya oleh kelompok radikal. Ya. Korban seakan-akan lupa pada keluarga. Sarlito (2012:85), menjelaskan bahwa ada juga korban yang tiba-tiba memiliki msikap yang jauh berbeda sampai 180 derajat terhadap keluarganya sendiri. Parahnya lagi, korban menganggap orangtuanya kafir, karena pendapat dan manhajnya tidak sesuai dengan Islam yang ia anut. Sebagai contoh, cara berpakaian, ia anggap tidak sesuai dengan sunnah Rasul karena terlalu panjang hingga menutupi mata kaki. Cara-cara cuci otak bisa berbentuk indoktrinasi, diajak diskusi tentang Islam dan pemerintah thagut. Doktrinisasi tentang Islam “yang benar” kemudian diajak bergabung ( hijrah), dibaiat, dan lain sebagainya.

Melalui cara-cara seperti ini, sekarang ada semacam kecenderungan bahwa hampir setiap masjid di seluruh Indonesia dikuasasi oleh kelompok radikal. Bahkan, mereka juga memanfaatkan sekolah-sekolah lanjutan sebagai ladang perekrutan. Gambaran tentang hal ini bisa dilihat dan dirujuk dari penelitian yang dilaksanakan oleh Prof. Dr. Bambang Pranowo.

Bahkan saat ini, gerakan kelompok radikal juga telah menyesuaikan zaman. Di Zaman Now, yakni dunia digital, yang ditandai dengan besarnya jumlah pengguna internet dan media sosial, ladang perekrutan mereka juga dilebarkan. Ya. Dunia maya saat ini juga menjadi garapan kelompok radikal. Begitulah gambaran gerakan radikal dan teroris dari zaman ke zaman.

Tentu melihat paparan ini, menjadikan kita semakin mengetahui seluk-beluk kelompok yang membayakan eksistensi NKRI ini. Untuk kemudian bisa dijadikan sebagai rujukan agar kelompok radikal tidak leluasa menyebarkan ideologinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here