Menata Hati Setelah Pemilu

0
121

0
145
BincangSyariah.Com – Pesta demokrasi dalam pemilihan umum di Negeri tercinta ini telah terlewati. Mulai dari pemilihan presiden, kepada daerah, hingga anggota legislatif. Pemilu serentak 2019 disambut dengan kegembiraan dan antusiame yang tinggi oleh berbagai lapisan masyarakat Indonesia.  Hingga akhirnya pemilu pun usai dilaksanakan dengan baik dan lancar.
Namun ada satu titik yang cukup menakutkan dan bisa membuat negeri ini tidak aman lagi, dimana setiap kubu mengklaim masing-masing pribadi sebagai pemenangnya. Hal tersebut sedikit banyak mempengaruhi ketenangan hidup masyarakat. Stabilitas keamanan dan emosi kadang tidak biisa terjaga, sehingga yang terjadi adalah percekcokan yang tak diinginkan.
Menunggu hasil resmi dari KPU adalah salah satu cara cerdas dalam keadaan seperti ini. Tidak terjebak oleh hiruk pikuk survei yang hasilnya berbeda-beda dan menyebabkan perdebatan yang panjang. Menjaga persatuan dan kesatuan Negeri Indonesia jauh lebih penting daripada mendahulukan kepentingan individual.
Siapapun yang memenangkan pemilu ini, ia adalah pemimpin yang sah yang telah  ditentukan oleh suara terbanyak rakyat Indonesia. Maka wajib atas kita untuk mendengar dan taat kepadanya,  sebagaimana ajaran Al Qur’an yang memerintahkan untuk taat kepada pemimpinnya. Dalam QS An Nisa ayat 59 disebutkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ
Hai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul-(Nya) dan ulil amri di antara kalian
Langkah pertama tentunya adalah menata kembali hati yang sering tergoyahkan. Membela atau fanatik kepada golongan tertentu karena perbedaan pilihan bukan lagi poin penting, sebab keutuhan persaudaraan kita jauh lebih indah. Normalkan kembali hati pada titik senormal-normalnya, dan pasrahkan hasil pilihan terbaik kepada-Nya. Sebab siapapun yang terpilih, kita wajib taat kepadanya, selagi tidak memerintahkan keapda kemaksiatan. Nabi bersabda:
عَلىَ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أَمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
Wajib bagi seorang muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam perkara yang ia senangi dan ia benci kecuali apabila diperintah kemaksiatan.
Apabila diperintah kemaksiatan maka tidak perlu mendengar dan taat.”
[HR. Bukhari Muslim]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here