Lawan Radikalisme dengan Idealisme!

0
57

Saat ini, radikalisme sudah menjadi masalah krusial yang terus diperbincangkan dan ditentang di Indonesia. Pasalnya, paham tersebut tidak hanya sekedar menggeser ideologi pancasila, lebih dari itu juga dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Tumbuhnya radikalisme di Indonesia disebabkan oleh banyak faktor yang pelik. Diantara faktor tersebut adalah pemahaman dangkal tentang nilai dan ajaran keagamaan. Tak ayal, jika dalam konteks Indonesia, radikalisme erat kaitanya dengan agama, sehingga sering disebut dengan radikalisme-agama. Karena, pada awal kemunculannya di Britania Raya, radikalisme merupakan paham yang menutut reformasi sistem pemilihan secara radikal.

Fathorrahman Ghufron (mengutip Haidar Nashir: 2007) menyatakan ada beberapa kelompok yang ingin melakukan gerakan radikal dengan cara menginstrumentalisasi keyakinannya. Bahkan, kelompok tersebut tak segan melakukan penolakan secara keras terhadap pancasila  sebagai dasar negara dan menggantikannya dengan syariah atau khilafah. Dengan demikian, di Indonesia, radikalisme memuncak seiring dengan ide khilafah, dan dari radikalisme itulah muncul wujud terorisme.

Memangsa Pemuda

Sebagai paham, radikalisme masuk ke berbagai lini, termasuk yang menjadi target mangsa dari paham tersebut adalah pemuda. Paham tersebut mulai mengambil harta paling berharga dari generasi muda, yaitu idealisme baik secara personal maupun melalui lembaga pendidikan seperti kampus dan pesantren yang merupakan basis pendidikan besar di Indonesia. Tan Malaka, seorang bapak republika pernah berkata, “Idealisme merupakan kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda”.

Pemuda merupakan instrumen bangsa yang penting dan erat dengan idealisme. Idealisme kebangsaan khususnya harus melekat dalam jiwa seorang pemuda. Pemuda, menurut Yudi Latif, tidaklah mengarah kepada usia, melainkan situasi mental kejiwaan (state of mine). Artinya, bahwa sosok pemuda tidak selalu  diidentikkan dengan usia yang muda tetapi lebih pada pemikirannya, pengetahuannya, tekad, kualitas imajinasi, kekuatan emosi, dan yang terpenting adalah idealismenya. Dari definisi pemuda tersebut, tentu pahlawan adalah seorang pemuda.

“Bukankah tidak ada yang lebih suci bagi seorang pemuda dari pada membela kepentingan bangsanya?”. Begitulah Pram (sebutan akrab Pramoedya Ananta Toer) berusaha menyoal posisi pemuda terhadap bangsanya. Hal tersebut melukiskan letak strategis dan urgen pemuda, dalam konteks ini menjaga keutuhan NKRI dan merawat serta mengamalkan pancasila sebagai ideologi bernegara dari bentuk ancaman apapun termasuk radikalisme.

Dalam hal ini, kita perlu mengulik kembali sejarah pemuda zaman dahulu yang berhasil dua kali melakukan kongres. Yaitu Kongres I tahun 1926 dan Kongres II tahun 1928. Kongres Pemuda I yang dipimpin M Tabrani mampu memompa dan menularkan rasa persatuan Indonesia. Pada Kongres Pemuda II yang dipimpin Sugondo Djojopuspito, mencapai puncak momentum sejarah; Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda adalah puncak kesadaran berbangsa, tentang kesamaan “tanah air, bangsa, dan bahasa”. Itulah puncak pemikiran generasi baru, yang menjadi penanda abad baru (abad ke-20).

Pentingnya Idealisme

Idealisme sering dipahami sebagai sesuatu yang “mengawan” dan tidak pernah jatuh ke bumi atau konsep yang tidak realistis, sehingga harus ditinggalkan dalam menjalankan kehidupan. Oleh sebab itu, perlu pemahaman ulang tentang idealisme.

Ajie Marzuki Adnan dalam artikelnya menjelaskan idealisme adalah suatu keyakinan atas suatu hal yang dianggap benar oleh individu yang bersangkutan dengan bersumber dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya, dan kebiasaan. Idealisme tumbuh secara perlahan dalam jiwa seseorang dan termanifestasikan dalam bentuk perilaku, sikap, ide ataupun cara berpikir.

Selanjutnya Adnan menyatakan idealisme mampu memberikan pengaruh terhadap individu dan negara. Dalam konteks individu, idealisme berpengaruh terhadap nilai-nilai kebenaran, pola hidup dan sebagainya. Dalam konteks Negara, idealisme yang muncul seperti ideologi pancasila dan banyak lagi yang lainnya.

Idealisme atau keyakinan terhadap kebenaran merupakan akar dari perubahan. Soekarno misalnya, merupakan sosok yang kokoh berpegang penuh pada idealismenya. Idealismenya muncul tatkala melihat realitas masyarakat berada di bawah tekanan penjajahan Belanda kala itu. Ia meyakini itu sebagai sebuah kesalahan dan harus dilawan mati-matian. Dan masih banyak lagi tokoh lain yang mencipta perubahan atas dasar idealismenya.

Idealisme muncul tidak lain karena adanya ideologi. Dalam konteks Indonesia, sudah menjadi kesepakatan umum bahwa pancasila merupakan ideologi berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu, seharusnya yang menjadi pijakan idealisme pemuda di atas haruslah pancasila yang tidak bisa dibeli dan ditukar dengan apapun, sebagaimana Tan Malaka dan tokoh-tokoh lain memegang teguh idealismenya untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia.

Atas dasar argumen di atas, penting untuk selalu melekatkan dan menghujamkan idealisme kebangsaan, kebhinekaan, kepada setiap pemuda. Tidak kalah pentingnya adalah menghidupkan ideologi pancasila sebagai ideologi “pembebas”, dan pemuda sebagai subjeknya. Karena, ideologi melahirkan idelisme. Dalam sejarah dikatakan, revolusi, pemberontakan, dan pengorbanan hanya dapat digerakkan oleh ideologi (Ali Syariati: Ideologi Kaum Intelektual).

Dengan berbekal idealisme yang kuat dan mengakar atas dasar pancasila, pemuda bisa terbebas cengkraman isme-isme yang bercokol di Indonesia, dimana isme-isme tersebut jelas merusak tataran kehidupan berbangsa dan bernegara. Semoga! Wallahu a’lam bi al-shawab.

*Misye Maulidia Paradistin, Mahasiswi Ilmu Hukum UIN Sunan Kalijaga, Aktif di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam).

Sumber : https://www.harakatuna.com/lawan-radikalisme-dengan-idealisme.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here