Fanatisme Benalu Aneka Perbedaan

0
109

Bercengkerama dengan temen-temen di kampung serasa menyenangkan. Mereka semua ramah, tidak menggurui, sekalipun agak fanatik. Memang begitu sikap orang Madura.

Fanatisme orang Madura biasanya menjurus pada persoalan agama. Selain sebagai ormas, NU bagi mereka menjadi ideologi final. Mereka sulit membuka ruang perbedaan menyangkut ideologi. NU seakan harga mati.

Berbicara agama secara tidak langsung berbincang soal ulama. Bagi orang Madura, ulama adalah kyai. Karena, kyai yang mentransfer pengetahuan kepada masyarakat. Selain itu, kyai adalah sosok teladan. Kata-katanya didengar dan sikapnya diperhatikan.

Sikap fanatis membatasi ruang gerak berpikir. Seakan medan berpikir sesempit daun kelor. Karenanya, orang Madura tidak mau ambil pusing, bahwa jawaban setiap persoalan ada pada sosok kyai. Apa yang dititahkan kyai seakan kebenaran hakiki, padahal itu masih persepsi.

Lagi-lagi soal politik. Hampir seluruh hak suara orang Madura ada pada keputusan kyai, sampai lahir slogan “Santri ngereng kyai.” Santri ikut kyai. Suara kyai adalah suara rakyat, sekalipun suara kyai kadang bertentangan dengan hati nurani masing-masing orang.

Ikut kyai dipahami sebagai sikap taat, karena tidak melawan atau tidak berbeda. Tapi, saya tidak setuju bahwa berbeda dipahami sebagai bentuk ketidaktaatan. Karena, perbedaan adalah rahmat. Islam mencintai perbedaan. Dalam sejarah filsafat, Aristoteles pernah berguru kepada Plato, namun secara pemikiran Aristoles berbeda dengan Plato. Begitu pula, dalam catatan sejarah Islam Imam Syafi’i pernah belajar kepada Imam Malik, padahal secara ijtihad keduanya berbeda.

Perbedaan tidak sama dengan perlawanan. Berbeda tanpa menghilangkan sikap hormat adalah sikap yang dianjurkan. Mengikuti kyai bukan tidak berbeda, tapi tidak mempermalukan. Ketaatan kepada guru diukur dengan sikap memuliakan dan menghormat. Siapapun boleh menyatakan pendapat, sekalipun berbeda. Pelangi indah karena berbeda warna. Hidup serasa indah karena tidak menoton. Kita pun lahir karena pertemuan dua unsur penciptaan yang berbeda.

Baca Juga:  Hizbut Tahrir (Indonesia) dan Negara Kafir Inggris

Fanatik adalah sikap yang kurang sehat dikonsumsi. Karena, terdapat banyak sisi kekurangan saat dianalisa. Bila kyai lebih tepatnya disebut muallim atau pengajar, seharusnya kyai cukup mendidik dan mengajar masyarakat. Apakah kyai boleh berpolitik? Untuk konsumsi pribadi, boleh-boleh saja. Tapi, untuk konsumsi umum, kyai belum dianggap menguasai medan politik. Alangkah eloknya jika kyai tidak ikut melebur pada ranah politik. Bila dipaksakan masuk, dikhawatirkan kyai tergerus arus politik yang kurang sehat.

Kekurangan Indonesia salah satunya terlihat dari sumber daya manusianya. Kebanyakan bukan tugasnya dikerjakan, sehinga terjadi overlapping, tumpang tindih. Buktinya kyai berpolitik atau politikus menjadi kyai. Kyai dan politikus adalah dua identitas yang berbeda dan profesionalitasnya pun berbeda. Seharusnya kyai tetap fokus berdakwah dengan fatwa yang menyejukkan dan menghidangkan ragam ijtihad. Politikus tetap concernmemanage perkembangan politik.

Berbicara soal profesionalitas, disebutkan dalam Al-Qur’an, yang artinya: Allah berfirman: “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan”. (Qs. Hud/11: 46)

Ayat tersebut menceritakan teguran Allah kepada Nabi Nuh agar memohon kepada Allah dengan sikap yang didasari pengetahuan yang valid, agar tidak terjebak dalam kesalahan. Ibnu Juzayy menyebutkan dalam tafsir at-Tashil li Ulum at-Tanzil bahwa larangan Allah kepada Nabi Nuh adalah sebuah pendidikan-Nya agar Nuh dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Untuk membedakannya, tentunya dibentengi dengan ilmu pengetahuan.

Sebagai penutup, fanatisme bukan sikap yang baik dalam menyikapi segala sesuatu. Karena, fanatisme adalah virus yang menghapus perbedaan. Padahal, Islam menghendaki perbedaan. Di tengah perbedaan, manusia hendaknya profesional dan berilmu agar dapat membedakan mana yang baik dan mana yang lebih baik dan juga dapat menyadari mana yang benar dan mana yang salah.[] Shallallah ala Muhammad.

 

Source Harakatuna.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here