Era Milenial menurut ulama

0
44

Cepat atau lambat, kita akan dihadapkan dengan fenomena yang luar biasa pengaruhnya. Bahkan, kabar buruknya, fenomena ini sudah menyeruak masuk pada sendi-sendi kehidupan manusia. Instrumen transformatif sangat mudah ditemui dan arusnya deras sekali. Bahkan cenderung kalah dan tak bisa menyikapi.

Arus modernisasi merupakan sebuah keniscayaan yang harus kita hadapi. Arus modernisasi tak sepatutnya dianggap sebagai sebuah ancaman semata, lantas kemudian harus menolaknya. Melainkan kita hadapi dengan sebuah tantangan dan menyikapi dengan kebijakan.

Anak muda, diakui atau tidak, kini menjadi sasaran empuk teknologi informasi. Hampir tidak ada, anak-anak muda yang tidak pegang handphone alias gawai. Hidup semua hampir serba teknologi.

Sebagai orang tua di era milenial seperti sekarang ini, tentu memiliki tanggungjawab besar terhadap anak-anaknya untuk terus menanggulangi dampak-dampak negatif yang cenderung bisa menggeser moralitas kemanusiaan dan merubah pola hidup dari hal positif menjadi negatif.

Dekadensi moral memang sangat riskan dan nampak kentara belakangan ini. Lebih-lebih anak-anak terhadap orang tuanya sendiri, orang lain, bangsa dan negara. Hal ini tentu tidak bisa lepas kewajiban orang tua untuk mendidik anaknya supaya bisa berprilaku baik dan benar.

Karenanya pengarang kitab An-Nashaihu al-Diniyah (h. 62) menjelaskan bahwasanya,

وأهم ما يتوجه على الوالد فى حق أولاده تحسين الأداب والتربية نشؤهم على محبة الخير ومعرفة الحق وتعظيم أمور الدين والإستهانة بأمورالدنيا وإيثار أمور أخرى فمن فرط فى تأديب أولاده وحسن تربيتهم وزرع في قلوبهم محبة الدنيا وشهواتها وقلة المبالاة بأمور الدين ثم عقبوه بعد ذالك فلا يلزمه إلا نفسه والمفرط أولى بالخسارة فيما ذكرناه

Yang terpenting, tantangan orang tua terhadap hak anaknya adalah memperbaiki adab dan mendidiknya, agar pertumbuhan anak-anaknya bisa cinta kebaikan, mengetahui yang hak, mengutamakan urusan agama, mengesampingkan urusan dunia, dan mengedepakan urusan akhirat. Barang siapa ceroboh mendidik dan ceroboh dalam mendidik kebaikan terhadap anaknya, dan menanamkan pada hati anaknya kecintaan terhadap dunia, kesenangan dunia, serta kepeduliannya terhadap agama sangat minim (sedikit) kemudian setelah itu anak berani menentang orang tuanya maka (bagi orang tua) jangan menyalahkan siapapun kecuali dirinya sendiri. Orang yang ceroboh lebih tepat menyandang kerugian. Kebanyakan orang yang berani kepada orang tuanya, keras hatinya, di zaman ini penyebabnya adalah ceroboh terhadap apa yang saya sebutkan tadi di atas“.

Sungguh, dan penting untuk merenungkan pendapat ulama di atas ini. Sudah saya paparkan pada tulisan sebelumnya kenapa anak-anak perlu masuk pesantren. Sebab orang tua kadang tidak menutup kemungkinan bisa lalai dan tidak maksimal dalam mendidik anak-anaknya karena sibuk dengan urusan keluarga. Sedangkan pesantren adalah ladang pendidikan yang fokus mengajarkan akhlak disamping ilmu pengetahuan dan keterampilan.

Apalagi di era sekarang yang permainan sudah serba digital dan internet. Perlu adanya upaya intensif dari orang tua untuk mendidik anak-anaknya, minimal bisa mengawasi untuk tidak terperangkap dan ikut-ikutan dengan sesuatu yang berdampak negatif.

Hal yang bisa kita ambil dari pendapat ulama di atas adalah:

Satu, ajari dan didik anak-anak kita untuk cinta akan kebaikan, dorong untuk selalu bisa berbuat baik kepada sesama umat manusia. Jangan ajari anak-anak kita membenci dan bermusuhan. Sebab kebaikan itu akan mendatangkan kebahagiaan yang hakiki. Kebaikan akan selalu memihak kepada kita manakala kita punya i’tikad baik kepada orang lain.

Dua, ajari anak-anak kita untuk mengetahui hak-haknya. Tujuannya agar tidak mudah dan gampang merampas hak orang lain.

Tiga, ajari anak-anak kita untuk memprioritaskan ajaran agama, atau urusan agama. Bahwa esensi dari ajaran agama adalah kebaikan. Bahkan semua agama mengajarkan kebaikan.

Empat, ajari anak-anak kita untuk semaksimal mungkin mengutamakan urusan akhirat daripada urusan dunia. Bukan berarti kita anti terhadap dunia tapi akhirat adalah harus menjadi tujuan utama.

Maka penting bagi orang tua agar selalu introspeksi diri untuk tidak gampang menyalahkan orang lain atas kenakalan anak kita sendiri.

Wallahu ‘alam

credit : bincangsyariah.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here