Dalam Kehidupan Beragama Jangan Jadi Intoleransi

0
168

                    Kita hidup dalam negara yang penuh dengan keragaman agama, suku, dan budaya. Dengan adanya keragaman tersebut tentu kita tidak akan luput dari sebuah perbedaan. Meski kita berbeda agama, suku, dan budaya bukan berarti kita tidak bisa bersatu. Untuk mempersatukan perbedaan diantara kita, perlu adanya usaha yang maksimal salah satunya dengan bertoleransi terhadap sesama manusia.
Apabila kita menginginkan  sebuah kehidupan yang rukun, harmonis, aman, dan tentram tentu kita harus menerapkan sikap toleransi dengan baik. Terutama menerapkan sikap toleransi dalam kehidupan beragama. Pada kenyataannya di Indonesia sikap toleransi masih belum begitu stabil, untuk itu perlu adanya peningkatan dalam bertoleransi agar supaya kerukunan dan keharmonisan serta ketentraman hidup dapat terwujudkan. Sebelum melanjutkan pembahasan berikutnya, saya akan lebih dulu menjelaskan arti dari toleransi.
                    Toleransi berasal dari kata “ Tolerare “ yang berasal dari bahasa latin yang berarti dengan sabar membiarkan sesuatu. Pengertian toleransi secara luas adalah sikap atau perilaku manusia yang tidak menyimpang dari nilai-nilai atau norma-norma agama, hukum, dan budaya, dimana seseorang menghargai atau menghormati setiap tindakan yang orang lain lakukan.
Toleransi juga dapat dikatakan dalam istilah konteks sosial budaya dan agama yang berarti sikap dan perilaku yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam suatu masyarakat. Dari definisi tersebut dapat kita simpulkan bahwa toleransi adalah perilaku terbuka dan menghargai segala perbedaan yang ada antarumat beragama.
Karena di Indonesia sikap toleransi dalam kehidupan beragama masih belum stabil, perlu adanya usaha untuk meningkatkan sikap toleransi. Mengapa kita perlu meningkatkan sikap toleransi beragama? Di Indonesia masih sering terjadi intoleransi dan diskriminasi antarumat beragama. Contohnya penyerangan dan pembakaran yang terjadi di Distrik Karubaga, Tolikara, Papua pada tanggal 19 Juli 2015.
                    Tindakan yang dilakukan oleh masyarakat non muslim Papua terhadap jemaah shalat idul fitri di Kabupaten Tolikara, Papua membuka mata kita, bahwa intoleransi dan diskriminasi di Indonesia masih sangat rentan, terlebih kasus ini terjadi di hari besar umat muslim dunia. Tindakan ini juga tentu mencederai nilai-nilai pluralitas di Indonesia. Banyaknya agama seharusnya adalah keunikan hidup di Negara dengan populasi terbesar ke empat di dunia ini, bukan menjadi penjara bagi para minoritas yang sah di suatu tempat atau daerah di Indonesia.
           Tindakan pelemparan batu dan pembakaran masjid oleh masyarakat non muslim Tolikara dapat kita simpulkan sebagai tindakan radikal dan pelaku dapat dikategorikan sebagai kelompok ekstrimis. Tidak hanya itu saja, masih ada beberapa tindakan radikal lainnya yang terjadi di Indonesia. Terjadinya intoleransi dan diskriminasi disebabkan karena masyarakat memandang bahwa unsur agama adalah hal yang frusial.
             Padahal unsur agama adalah hal utama yang begitu penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Intoleransi dan diskriminasi juga bisa terjadi karena kurangnya kesadaran dalam bertoleransi dan kurangnya iman pada diri masing-masing setiap umat manusia yang memiliki keyakinan tersendiri. Kita semua tahu bahwa setiap agama, baik Islam, Kristen, dan agama-agama lainnya mengajarkan kebaikan dan hidup bertoleransi antarumat beragama. Namun pada kenyataannya justru konflik dan pertikaian sering terjadi yang mengatas namakan harga diri karena untuk mempertahankan agama.
              Agama seharusnya bisa menjadi energi positif untuk membangun nilai toleransi guna mewujudkan Negara yang adil dan sejahtera serta hidup berdampingan dalam perbedaan. Untuk itu kita perlu menyadari meski setiap agama tidak sama, namun pasti setiap agama mengajarkan sikap toleransi, baik dalam kehidupan beragama maupun kehidupan dalam dunia majemuk dan diperlukan kesediaan menerima kenyataan bahwa dalam masyarakat ada cara hidup, berbudaya, dan keyakinan agama yang berbeda.
Keanekaragaman itu indah bila kita menyadari dan mensyukuri setiap perbedaan yang ada dan menjadikan perbedaan itu sebagai warna-warni kehidupan, seperti halnya pelangi yang terdiri dari warna-warna yang berbeda namun menyatu untuk memancarkan keindahan. Untuk itu menyatukan umat manusia yang berbeda agama, suku, dan budaya diperlukan peningkatan toleransi dan iman yang kuat. Dengan iman yang kuat akan menjauhkan kita dari tindakan yang melanggar norma hukum dan norma agama. Iman juga dapat menyadarkan kita bahwa sikap diskriminasi terhadap umat agama lain dapat menjerumuskan kita pada dosa.
           Jika kita ingin kehidupan yang rukun, harmonis, aman, dan tentram antarumat beragama seharusnya kita terapkan sikap toleransi dengan sebaik mungkin. Sebagaimana yang telah diterapkan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam. Berikut kisah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dalam bertoleransi.
             “Suatu hari jenazah orang Yahudi melintas di depan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabat. Nabi Muhammad SAW pun berhenti dan berdiri. Para sahabat terkejut, kemudian bertanya : “ Kenapa engkau berhenti Ya Rasulullah?, sedangkan itu adalah jenazah orang Yahudi “. Nabi pun menjawab : “ Bukankah dia manusia? “ ( HR. Bukhari).
Ketika Rasulullah SAW tiba-tiba berdiri, tentu saja para sahabat kaget. Namun, para sahabat akhirnya paham ternyata Rasulullah SAW tidak mengikuti ritual pemakaman orang Yahudi tersebut. Beliau Cuma berdiri, tidak sampai menghantarkan ke liang lahat dengan berbagai ritualnya.
Inilah toleransi, menghormati tanpa mengakui keimanan Non Muslim. Iman tidak perlu digerus untuk menjadi toleran melainkan untuk menjauhkan kita dari perbuatan tercela termasuk diskriminasi. Iman Nabi Muhammad SAW dan para sahabat begitu sempurna, akan tetapi mereka juga bisa bertoleran.
Jadi, toleransi islam antar umat beragama itu hanya menyentuh ranah social. Coba perhatikan, Nabi Muhammad SAW berkata alasannya menghormati ; “ Bukankah dia manusia “. Dan karena itu Nabi Muhammad SAW tidak mengatakan ; “ Bukankah dia Yahudi “. Sebab toleransi bukan dengan membenarkan ke-yahudian-nya. Membenarkan keyakinan agama lain bukanlah disebut toleransi, tapi pluralisasi.
Sedangkan pluralisme tidak ada dalam kamus islam. Setiap muslim yang beriman, harus komitmen dengan keyakinannya. Coba kita renungkan dari kisah Nabi Muhammad SAW tersebut, bahwasannya toleransi diterapkan bukan untuk membenarkan agama lain tetapi untuk menghormati dan menghargai sesama umat manusia, karena pada dasarnya kita semua sama di mata Allah SWT hanya iman dan takwa kitalah yang membedakannya. Sangat disayangkan, sebagian umat manusia masih belum bisa menerapkan sikap toleransi dengan baik karena kurangnya kesadaran terhadap diri masing-masing.
Adapun cara yang dapat meningkatkan sikap toleransi antara lain :
a. Menumbuhkan rasa Kebangsaan & Nasionalisme
b. Mengakui & menghargai hak asasi manusia
c. Tidak memaksakan kehendak orang lain dalam memilih agamanya
d. Memberikan bantuan pada setiap yang membutuhkan tanpa memandang perbedaan
e. Memperkokoh silaturahmi & menerima perbedaan
Pada hakikatnya Indonesia adalah Negara yang memiliki keragaman agama, suku, dan budaya. Namun keanekaragaman tersebut tidak akan menjadikan kita tercerai berai bila kita dapat menjaga keanekaragaman itu dengan saling bertoleran. Toleransi adalah tonggak untuk mewujudkan kehidupan yang rukun, harmonis, aman, dan tentram. Untuk itu marilah kita saling toleran agar supaya perbedaan diantara kita dapat menyatu dan menjadikan Negara kita Negara yang majemuk dan sejahtera.
 
#muslimsejati
Sumber https://www.qureta.com
sumber gambar dari romokoko.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here