Umat islam Indonesia harus bersuara melawan paham radikalisme

0
197

Harakatuna.com. Jakarta-Terorisme adalah ujung dari intoleranisme. Pada gilirannya mereka yang intoleran itu akan menjadi radikal dan lalu menjadi pelaku teror sehingga mereka harus selalu menjadi perhatian bersama.

“Mereka yang sudah intoleran itu harus diajak ngomong, ngobrol, dan diskusi. Ditanya kamu belajar agama dimana? Kalau dibiarkan ini bisa bahaya. Keponakan saya juga kena, intoleran,” kata Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Hamli dalam diskusi di Jakarta Selatan, Kamis (20/6/2019).

Dalam diskusi bertajuk “Merajut Kebhinekaan Kita Bisa Apa” yang digelar oleh Pertiwi itu hadir Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati dan Sumantho al Qurtubi.

“Intoleran itu mengoyak kebinekaan. Di Surabaya (Mei 2018) ada satu keluarga menyerang tiga gereja. Dua anak lakinya mati semua serang satu gereja, ibu dan dua anaknya perempuan yang lain mati ngebom gereja kedua, dan bapaknya juga mati ngebom gereja ketiga,” imbuhnya.

Lalu, masih kata perwira bintang satu itu, satu keluarga yang lain mengebom Polrestabes Surabaya dan keluarga yang lain tewas saat bom milik mereka meledak di tempat tinggalnya di Rusunawa, Sidoarjo.

“Ini semua atas nama kebencian dan ini tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Kalau silent majority diam terus nanti kita jadi Afghanistan. Kita harus jadi vocal majority,” imbuhnya. Hamli menambahkan bahwa paham ini bisa menimpa siapa saja karena pembuat bom di Surabaya itu pun sejatinya orang biasa saja, yang dulu adalah teman sekolahnya.

Bangsa Indonesia itu menurut Hamli sebenarnya resisten dengan terorisme. Namun paham radikal itu mulai masuk ke dalam negeri di era 80-an. Mereka lalu terus berkembang termasuk hingga saat ini di mana kampus di Jawa pun mulai terpapar ide radikal.

Baca Juga:  Hindari Gunakan SARA dalam Kampanye Terbuka

“Sekali lagi kalau orang sudah intoleran ajak ngobrol. Kalau intoleran dibiarkan akan jadi radikal kalau dibiarkan lagi naik ke atas jadi teroris. Densus pun sudah menangkap 2 ribu orang selama ini. Bayangkan kalau 2 ribu itu masing-masing punya lima anak,” sambungnya.

Lebih jauh motif teror menurutnya adalah dipicu ideologi agama, soliditas komunal, mob mentality, balas dendam, situasional, dan separatisme. Soliditas komunal misalnya aksi bom di Kedubes Filipina di Jakarta di tahun 2000 karena muslim Mindanao diserang pemerintah setempat.

Sementara Sumantho mengatakan dirinya aktif menggelar kuliah virtual melalui Facebook karena dirinya kerap berada di luar negeri dan disisi lain ikut khawatir dengan fenomena politik intoleran dan radikal di dalam negeri.

“Penceramah banyak memanipulasi konflik yang ada di Timur Tengah di Indonesia untuk kepentingan mereka sendiri. Isu Palestina misalnya, umat Kristen dan Muslim di sana bersatu karena mereka juga jadi korban agresi militer Israel. Tapi di sini ada yang bilang di Palestina hanya muslim yang jadi korban,” katanya.

Kelompok-kelompok yang suka memlintir inilah yang menurutnya sekarang ini berupaya mengeyahkan pruralitas atas nama supremasi agama, ideologi, etnis, suku, klan, atau ras tertentu. Tak jarang mereka menenggelamkan pruralitas ini dengan cara kekerasan yang brutal dan manusiawi.

Sedangkan Susaningtyas mengatakan perempuan Indonesia dijadikan target radikalisasi karena faktor agama, sosial, dan kultural yang cenderung menempatkan perempuan dalam posisi marjinal dan subordinat.

“Mereka harus patuh dan tunduk sepenuhnya terhadap pasangannya. Mereka mendapat indoktrinisasi bahwa ideologi Pancasila dan sistem demokrasi adalah buatan thogut. Perempuan harus lebih berdaya melawan dominasi ini,” tegasnya.

Sumber : harakatuna

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here