Membedakan Peran Ulama dan Politikus

0
132

Suatu malam saya ngobrol bareng teman-teman. Tidak ditentukan apa tema yang dibahas. Ngalor ngidul. Biasa kan bukan diskusi formal. Pada intinya, semua obrolan ada manfaatnya, karena ada banyak pengetahuan yang didapat.

Pada sebuah obrolan itu, hadir beberapa teman, baik senior maupun junior. Tak lupa ada beberapa guru yang pernah mendidik saya dahulu. Bagi saya, guru dan teman tiada bertepi. Tidak ada mantan guru. Begitu pula tidak ada mantan teman. Tapi, yang ada adalah mantan pacar.

Dibahaslah mulai dari tema politik, bisnis, dan keislaman. Soal politik masyarakat Madura lebih melihat sosok kyai sebagai kiblat. Karena, kyai adalah sosok ulama. Sikapnya jadi teladan. Tutur katanya jadi panutan. Keputusan kyai seakan suara rakyat dan inspirasi yang dibisikkan oleh Tuhan, sehingga suara kyai menjadi penentu masa depan politik.

Soal kyai berpolitik, sebenarnya tidak ada larangan. Siapapun boleh saja berpolitik. Tapi, bagi saya kyai cukup berdakwah di luar rel politik. Karena, khawatir kyai belum menguasai medan perpolitikan, sehingga terjebak arus politik yang kotor.

Kyai itu ulama. Ulama punya kemampuan yang berbeda dengan politikus kecuali kyai yang berstatus politikus. That’s no problem. Karena, kyai tersebut sudah profesional dengan pengetahuan politik yang dimiliki. Sebut saja, Kyai Mak’ruf Amin. Beliau sosok ulama yang menjadi panutan masyarakat Indonesia. Dengan kemampuan dan pengalaman di dunia politik, akhirnya beliau ikut serta meramaikan Indonesia pada Pilpres 2019.

Ada ulama yang murni tidak ikut dalam laga politik. Quraish Shihab, salah satunya. Beliau menghahiskan hidupnya hanya untuk belajar dan belajar tanpa ada unsur kepentingan politik, bahkan beliau menghindari hiruk pikuk perpolitikan, kendati beliau sendiri pernah menjabat Menteri Agama masa kepemerintahan Soeharto. Dengan semangat mempersatukan perbedaan beliau tidak ingin masuk dalam kubangan politik yang memecah belah.

Selain politik, ada sebuah cerita yang dibahas pada obrolan tersebut. Ada seorang yang mengkritik kyai lokal di Madura. Sejatinya, dia mengkritik lembaga yang dibina (sorry, lembaganya saya sensor). Dia melihat bahwa lembaga sang kyai tidak mampu melahirkan generasi yang alim. Masyarakat melihat sikap orang tersebut yang dipersalahkan, karena secara budaya mengkritik kyai di Madura adalah sikap picik dan amoral.

Bukan soal kritiknya yang saya sayangkan menyangkut orang tersebut. Tapi, soal cara dia mendefinisikan “alim” itu amat sangat sempit. Begitu ditanya, “Apa standar alim yang kamu maksud?” Dijawabnya, “Bisa memimpin shalat dan memimpin bacaan tahlil.” Saya mengernyitkan dahi sembari berkata ketus, “Sesempit itukah standar orang alim?!” Bila hanya bisa jadi imam shalat dan bacaan tahlil yang disebut alim, tentu banyak ulama di Indonesia. Tidak usah belajar terlalu tinggi untuk jadi ulama. Sekolah SD saja bisa jadi ulama kalau sebatas itu.

Standar ulama itu tidak sesempit dan sebatas yang orang itu definisikan. Ulama yang benar-benar menjadi pewaris para nabi paling tidak dapat dilihat dari dua sisi: Pertama, ilmunya benar-benar dalam seperti Nabi. Nabi menguasai beragam disiplin pengetahuan, seperti keislaman, sosial, kedokteran, dan lain sebagainya. Kedua, sikap dan perangainya. Nabi tidak pernah berbuat lebih banyak untuk kepentingan pribadinya dibanding untuk kepentingan umum. Nabi lebih melihat kemaslahatan umat. Nabi selalu optimis melihat ke depan. Nabi tidak suka perpecahan. Nabi tidak pernah menyulut api permusuhan. Dan seterusnya.

Berpikir dan bersikap seperti Nabi tidaklah mudah. Sehingga, menjadi ulama pun tidaklah mudah. Butuh rentang waktu yang begitu lama untuk dihabiskan belajar dan belajar. Paling tidak kealiman dan sikap baik sang ulama dapat dijadikan teladan oleh banyak orang. Sebenarnya, ulama yang baik tidak pernah menebar kebencian dan tidak pernah menyulut api permusuhan. Ulama yang baik hidupnya hanya dihabiskan dengan menebar perdamaian dan menjaga persatuan.

Sudah terlalu larut dalam cerita. Tak terasa suasana makin hening. Tetangga sudah banyak yang istirahat. Beginilah suasana di desa. Malam menjadi waktu istirahat penuh setelah seharian bekerja. Bukan seperti masyarata kota yang menjadikan waktu sebagai media untuk bekerja, entah itu waktu malam. Akhirnya, diskusi berhenti tanpa kesimpulan.[] Shallallah ala Muhammad.

 

Membedakan Peran Ulama dan Politikus

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here