Menghentikan Kebencian di Media Sosial

0
39

Pilpres tidak hanya berarti bagi pasangan calon. Namun juga berdampak bagi para pendukung pasangan calon. Masalahnya, kadang dan itu bisa dilihat faktanya, pendukung pasangan calon begitu militan di dunia maya. Bahkan tatkala Pilpres sudah berakhir pula.

Para pendukung masih saling ejek. Terakhir, ada pula yang tidak hanya nyinyir pada pasangan calon tertentu. Namun juga pada aparat atau lembaga negara. Yang aparat atau lembaga itu dituding mendukung pasangan calon tertentu.

Di media sosial, sampai saat ini, tatkala keputusan final dari Mahkamah Konsititusi sudah dikeluarkan, masih saja ada pihak-pihak atau orang-orang yang saling mengejek. Pendukung yang satu masih menghujat curang pasangan calon yang tidak didukungnya.

Pendukung yang satunya lagi masih menganggap pendukung pasangan calon yang tidak didukungnya suka mencari-cari kesalahan orang lain dan berprasangka buruk.

Kalau fenomena ini diteruskan, tentu tidak sehat. Karena, saling ejek ini bersumber dari rasa benci. Kalau sudah benci, akan kesulitan nantinya untuk berlaku adil. Imbasnya, kritikan maupun pujian sudah tidak proporsional lagi.

Ada orang yang saking bencinya pada pendukung dan pasangan calon yang tidak didukungnya, lantas menuding pihak tadi antek asing. Tidak nasionalis, radikal, komunis, dan lain sebagainya. Yang rugi siapa? Yang rugi dia sendiri. Kerugiannya antara lain, satu: dia memupuk benih benci dalam hatinya.

Dua: di media sosialnya akan penuh dengan status atau komentarnya sendiri yang penuh kebencian, sekaligus umumnya berisi berita-berita hoaks (yang belum tentu kebenarannya tapi dianggap benar karena sesuai dengan pikirannya) yang dibagikannya.

Buat apa mengisi media sosial dengan kebencian dan hoaks? Apa kata orang lain yang melihatnya? Apalagi, konon saat ini, banyak pihak yang melihat media sosial calon pekerja yang melamar di tempatnya. Tiga: karena di media sosial sibuk dengan kebencian, tentu saja berpotensi mengurangi kualitas pertemanan.

Maka itu, hentikanlah saling hujat di media sosial. Perbanyak teman, perbanyak silaturahmi, sehingga bisa menjadi jalan rejeki. Kalau kebencian masih dipelihara, yang rugi ya diri sendiri.

credit : kompasiana.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here