Terorisme tidak punya Agama

0
130

Harakatuna.com. Lamongan. ISIS merupakan kelompok radikal yang mengatasnamakan Islam di Suriah. Namun, kelompok itu menurut Dosen UIN Surabaya, M. Najih Arromadloni sudah membajak Islam dengan balutan agama dan isu khilafah. Hal itu disampaikannya saat menjadi pemateri dalam Halaqah Kepesantrenan yang diadakan oleh Harakatuna di Pesantren al-Mizan Lamongan, Sabtu, (7/4).

Pria yang juga sebagai kandidat Doktor UIN Jakarta itu menceritakan pengalamannya ketika tinggal di Suriah sewaktu menjalani pendidikan S-1 di sana. Saat ia datang pertama kali, menurutnya negara itu termasuk negara yang makmur.

“Saya datang tahun 2009. Dulu suriah negara yang makmur dan sejahtera. Pendidikan dan kesehatannya gratis. Human Development Indexnya sebagai penanda kesejahteraan suatu negara berada urutan 111 jauh dari pada Indonesia,” tambahnya.

80 ribu warga negara Indonesia pada saat itu mencari uang di Suriah. Negaranya termasuk negara yang aman, makmur dan sejahtera.

Namun, sejak awal Maret tahun 2011, kekacauan mulai terjadi. Saat itu pria yang juga kontributor kajian Timur Tengah di Harakatuna.com itu masih di sana sampai tahun 2012.

“Malamnya habis perang, paginya sudah kerja lagi. Itu hebatnya orang-orang di sana. Perang dan desing peluru sudah biasa,” tambahnya.

Bahan makanan pun saat ISIS berkuasa mulai mengacau bisa meningkat mencapai 500% kali lipat. Bahkan menurutnya sampai ada ulama yang memperbolehkan masyarakatnya memakan daging kucing karena keterbatasan bahan makanan akibat perang.

Selain itu, ia juga mengulas kesalahan orang-orang radikal yang dapat ikut terjerumus ke ISIS karena salah kaprah memaknai kata Jihad di dalam Al Quran. Menurutnya ada sebanyak 39 kali kata jihad, tetapi hanya 10 kali yang mengatakan perang. Jadi, jihad tidak dapat didefinisikan secara literal sebagai perang.

Baca Juga:  Seguyub Rukun Peringati Kenduri Ketupat

Kemudian pria kelahiran Brebes itu mengisahkan Nabi Muhammad ketika melewati orang yang sedang mengasah pisau. Di depannya, ada hewan yang siap untuk disembelih.

“Rasul menegur kepada pria itu. Mau menyiksa hewan itu berulang-ulang kamu?”, ceritanya.

Bagaimana mungkin Islam membolehkan berjihad dengan jalan membunuh orang dengan brutal. Mengasah pisau di depan hewan yang mau disembelih saja menurutnya sudah termasuk penganiayaan yang ditegur.

“Terorisme itu musuh agama dan kemanusiaan. Terorisme tidak punya agama,” pungkasnya.

(M. Ilhamul Qolbi)

Sumber : harakatuna

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here