Pola Baru Pendanaan Terorisme

0
120

Pola Baru Pendanaan Terorisme


Terorisme seakan tak pernah mati. Sekalipun dedengkot kelompok terorisme dijebloskan ke penjara, bahkan dihukum seumur hidup, nyata kian hari aksi terorisme semakin menjadi-jadi. Kelompok teroris justru semakin kuat. Hal ini ditandai dengan besarnya pendanaan aksi bejat nan biadab ini. Ya. Pendanaan terorisme saat ini sudah mengalami evolusi sedemikian rupa.

Akhir pekan lalu, lima terduga teroris ditangkap oleh aparat. Ada nama pimpinan Neo Jemaah Islamiyah dalam penangkapan kali ini, yakni Parawiyanto. Dari penangkapan ini pula diungkap bahwa ada pola baru dalam pendanaan terorisme. Secara bertahab, sebagaimana diberitakan Kompas (04/07), kelompok teroris memiliki cara pengumpulan dana melalui sebuah bisnis yang terencana.

Bisnis yang dimaksud adalah perkebunan sawit. Di Kalimantan dan Sumatera, pimpinan Neo Jemaah Islamiyah, Parawijayanto mengembangkan bisnis sawit untuk mendanai segala aktivitas yang berkaitan dengan terorisme. Pria yang bergabung dengan kelompok Jemaah Islamiyah sejak tahun 2000 itu menjamin dan terbukti bisa menjamin “kebutuhan dasar” para anggotanya dengan gaji Rp 10 juta hingga 15 juta per bulan. Tak tanggung-tanggung, dalam periode 2013-2018 saja, Parawiyanto dan anggota jaringannya telah memberangkatkan enam gelombang warga Indonesia ke pusat kegiatan kelompok NIIS (Negara Islam Irak dan Suriah) di Suriah (Kompas, 04/07).

Mungkin sebelumnya kita tak menduga bahwa pendanaan terorisme, salah satu sumber utamanya, adalah dengan mengembangkan bisnis sawit. Memang, bisnis satu ini tergolong sebagai bisnis yang menjanjikan, karena keuntungan yang diperolah cukup besar. Maka tak ayal jika jaringan terorisme di Indonesia semakin kuat. Saking kuatnya, kelompok ini tak bergantung pada pimpinannya. Artinya, sekalipun pimpinannya ditangkap, aksi terorisme tetap berjalan.

Dengan demikian, bisnis sawit semacam ini bisa menjadikan jaringan terorisme kuat dan bertahan lama serta dapat merekrut anggotanya dengan iming-iming gaji yang menggiurkan. Pendanaan yang besar juga diperlukan tidak hanya untuk merekrut anggota baru, melainkan juga untuk keperluan latihan militer dan membayar para petingginya.

Baca Juga:  Takmir Masjid dan Lingkaran Radikalisme

Fondasi ekonomi yang kuat inilah, sekali lagi, yang menjadikan jaringan terorisme merebak dan gerakannya semakin masif. Cara ini juga sebagai langkah evolusi pendanaan teririsme. Jika ditelisik lebih jauh, maka akan didapati bahwa kelompok teroris era dulu lebih memfokuskan gerakannya pada bidang kaderisasi, ketimbang membangun fondasi ekonomi. Pola seperti ini bisa dilihat dari kelompok NISS dan lainnya. Sementara, kelompok lama ini mencari dana untuk mensukseskan misinya dengan cara merampok (fa’i) atau melalui harta rampasan dan sumbangan dari pihak ketiga. Cara fa’i  ini masih digunakan oleh JAD (Jamaah Ansharut Daulah).

Berkaca pada kasus Parawijayanto, pimpinan Neo Jemaah Islamiyah, pemerintah dan semua elemen harus jeli dan turut berevolusi sebagaimana pendanaan terorisme hari ini. Maka, langkah yang paling sederhana yang bisa dilakukan adalah PPATK perlu mengamati secara jeli dan fokus setiap rekening milik anggota teroris. Pengamatan ini bertujuan untuk mengungkap sumber dana terorisme. Maka, sekali lagi, jangan lihat nominal saja—yang transaksi besar-besar saja yang diperiksa. Sebab, kelompok teror bisa saja lebih licik; menyalurkan dana tak terlalu besar, tapi dilakukan secara konsisten dan ke banyak orang. Dari sini kita tak boleh terkecoh.

Beberapa langkah-langkah penyesuaian dari negara patut terus dikembangkan demi membasmi terorisme dari akarnya. Memutus sumber pendanaan terorisme merupakan salah satu langkah besar dalam menenggelamkan terorisme di Indonesi, juga dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here