Wajah Terorisme dalam Al-Qur’an

0
122

Menjadi pribadi muslim tidak segampang mengaku muslim. Menjadi pribadi muslim berupaya mengaplikasikan nilai-nilai keislaman. Sedang, mengaku muslim memoles sikap dengan kedok muslim, padahal hatinya membedai.

Menjadi muslim yang benar hendaknya tidak melanggar nilai-nilai keislaman yang menghendaki perdamaian, bukan teror. Nilai perdamaian diambil dari makna Islam yang punya akar kata salam yang menunjuk makna “selamat” atau “sejahtera.” Orang yang berpapasan dan memanggil Salam, secara tidak langsung mendoakan agar tertanam sikap sejahtera antar sesama.

Menanamkan sikap sejahtera, selain dipraktekkan dalam panggilan Salam begitu berpapasan satu sama lain, juga diucapkan begitu mengakhiri shalat. Orang Islam shalat setiap hati, setiap malam. Secara tidak langsung mereka membiasakan menanamkan cara berpikir yang damai dan kemudian mengimplementasikan dalam setiap tindakan.

Kenapa muslim menjadi teroris, padahal mereka shalat dan sering mengucapkan salam? Mereka shalat hanya sebatas formalitas. Shalat yang dijiwai akan memberikan feedback yang baik bagi masa depan seseorang. Sungguh, sangat mustahil orang yang Islamnya benar dan kaffah menjadi teroris. Hanya muslim abal-abal dan “sok-sokan” yang rentan menjadi teroris.

Sikap teroris tak ubahnya sikap munafik. Wajah mereka berdua tiada beda. Seakan keduanya kakak dan adik. Perhatikan rekam jejak terorisme dalam Al-Qur’an yang disebut al-mufsidun (teroris): Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” (Qs. al-Baqarah/2: 11).

Benar. Teroris berwajah munafik. Pura-pura berwajah muslim yang bijak. Padahal, “Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.” (Qs. al-Baqarah/2: 12).

Allah mulai ungkap sikap munafik terorime pada ayat berikutnya tepatnya Qs. al-Baqarah/2: 13: Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang lain telah beriman!” Mereka menjawab, “Apakah kami akan beriman seperti orang-orang yang kurang akal itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang kurang akal, tetapi mereka tidak tahu.

Lebih dari itu, Allah semakin tampakkan sikap picik terorime: Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok.” (Qs. al-Baqarah/2: 14).

Sikap terorisme yang berwajah munafik sudah dikhawatirkan oleh para malaikat saat Allah mendiskusikan rencana penciptaan khalifah di muka bumi. Terorisme disebut sebagai manusia provokator dan gemar menumpahkan darah dengan beragam cara. Salah satunya bom gereja, bom bunuh diri, dsb.

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Demikian yang tersebut dalam Qs. al-Baqarah/2: 30.

Sebagai penutup perlu diingat bahwa muslim yang bijak selalu menanamkan nilai-nilai Islam yang mendambakan perdamaian. Sebaliknya, muslim yang picik berpotensi mengganggu orang lain sehingga Islam tidak kembali damai. Hati-hati dengan muslim yang picik. Sebab, merekalah terorisme.[] Shallallah ala Muhammad.

Wajah Terorisme dalam Al-Qur’an

#Muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here