Bina Damai Umat Beragama

0
114

MMI (Ciputat)- Indonesia merupakan negara yang berpenduduk mayoritas Muslim. Tetapi kondisi ini tidak menjadikan Indonesia sebagai negara agama. Konsensus yang telah terbangun adalah republik. Dengan demikian, negara dan masyarakat harus mengayomi dan melindungi keragaman agama. Perbedaan harus disikapi dan diterima sebagai sunnatullah. Keragaman harus dijadikan sebagai ladang ibadah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggungjawab untuk turut serta menciptakan kondisi tentram dan damai. Dengan kondisi yang damai, sangat dimudahkan untuk mewujudkan kemaslahatan umat manusia. Di sisi lain, Islam dengan tegas menolak sikap terorisme, radikalisme, anarkisme, keberingasan, dan pengrusakan yang mengatas namakan agama. Tidak lain, karena hal tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai dan watak dasar Islam.

Kita sebagai umat Islam memercayai rukun Islam dan rukun iman. Di dalam rukun iman kita percaya pada banyak nabi dan kitab suci. Islam juga dipercaya sebagai agama yang menyempurnakan agama sebelumnya. Seorang Muslim diminta untuk percaya dan hal tersebut merupakan konsekuensi dari keimanan. Dengan kata lain, mempercayai adanya kitab-kitab suci yang diturunkan sebelum agama Islam adalah sebuah ciri bagi orang yang beriman.

Hal ini sebagaimana termaktub dalam firman Allah ta’ala:
والَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (البقرة:4)
Artinya: “Dan mereka yang beriman kepada (al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.” (Q.S. al-Baqarah: 4)
Selaras dengan firman di atas, dinyatakan juga dalam ayat lain:
شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلا تتفَرَّقُوا فِيهِ (الشورى: 13)
Artinya: “Allah telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.” (Q.S. al-Syura: 13)
Kedua ayat ini menyiratkan bahwa pengakuan terhadap keragaman adalah sebuah keniscayaan. Sudah barang tentu, harus diakui bahwa tiap-tiap agama memiliki klaim kebenaran masing-masing. Namun bukan berarti perbedaan klaim tersebut menghalangi untuk saling menghargai dan bekerja sama. Terlebih dalam upaya mewujudkan ketentraman dan perdamaian.

Islam Moderat
Kita sebagai kaum Muslim Indonesia yang menjadi mayoritas sangat mafhum bahwa Indonesia bukanlah negara agama, melainkan negara yang memiliki banyak agama serta suku bangsa. Pancasila sebagai pandangan hidup berbangsa dan bernegara juga mengambil intisari dari kitab suci al-Qur’an. Tokoh-tokoh pendiri bangsa, dengan berbagai latar belakang agama yang dianut telah bahu membahu berperan penting dalam mendirikan sebuah negara bernama Indonesia. Oleh karenanya, Indonesia bukanlah dimiliki oleh satu agama, tetapi dimiliki oleh semua agama.
Baik umat Islam maupun penganut agama lain harus berupaya memahami dan mengamalkan ajarannya masing-masing dalam bingkai merawat kemajemukan dan kemajuan Indonesia. Hal ini tidaklah berlebihan, mengingat setiap agama pasti mengajarkan nilai dan budi luhur. Oleh karenanya, hidup damai dan toleran sudah semestinya menjadi komitmen bersama. Dalam konteks ajaran Islam, toleransi antar agama juga telah ditegaskan dalam al-Qur’an:

لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (الكافرون: 6)
Artinya: “Untukmu agamamu, untukku agamaku.” (Q.S. al-Kafirun: 6)
Umat Islam harus berupaya mewujudkan ajaran-ajaran mulianya guna berlomba dalam kebaikan, menciptakan keadaban publik, serta mewujudkan kemaslahatan umat manusia. Hal ini bisa dimungkinkan jika sikap toleran dan moderat menjadi prinsip dasar dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak aneh bila terdapat hadis shahih yang diriwatkan oleh Imam al-Bukhari (194-256 H) dalam kitab al-Adab al-Mufrad dan kitab Shahih al-Bukhari, Rasulullah saw menyatakan bahwa agama yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah agama yang lurus dan moderat.
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قِيلَ لِرَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم: أَىُّ الأَدْيَانِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الْحَنِيفِيَّةُ السَّمْحَةُ (رواه البخاري)
Artinya: Diriwayatkan dari Shahabat Ibnu ‘Abbas ra, suatu ketika ditanyakan kepada Rasulullah saw: “Agama apa yang paling dicintai oleh Allah?” Maka Rasulullah saw menjawabnya: “Agama yang lurus dan moderat.” (H.R. al-Bukhari)

Hadis ini mengabari pada kita bahwa Nabi Muhammad saw secara eksplisit menjelaskan posisi toleransi dan moderasi dalam Islam. Moderasi dan toleransi merupakan esensi Islam. Allah menciptakan manusia untuk dicintai dan saling mencintai. Kita mencintai makhluk berarti kita menghargai dan mencintai ciptaan Allah.

Dari penjelasan ini, kita bisa mengambil intisari bahwa toleransi dan moderasi telah dan harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam lingkup intra-agama dan antar-agama. Meskipun memiliki perbedaan konsep teologis, bukan berarti lantas membuat kita saling curiga dan bermusuhan. Sebaliknya, komitmen untuk berlomba-lomba berbuat baik untuk sesama haruslah menjadi konsensus bersama. Salah satunya ialah dengan memahami arti penting toleransi dan saling menghormati. Memahami toleransi berarti memahami Islam itu sendiri. Bahkan juga dapat dimaknai sebagai upaya memahami agama-agama lain karena agama-agama lain juga mempunyai ajaran yang sama tentang toleransi, cinta kasih, dan kedamaian.
Realitasnya, kesadaran toleransi belum sepenuhnya disadari sebagai misi beragama, sehingga sikap intoleran kerap dijumpai di tengah-tengah masyarakat. Seakan-akan menjadi intoleran lebih mudah dibandingkan menjadi toleran. Sikap intoleransi tercermin pada tindakan kekerasan, perundungan, kata-kata kasar di media sosial, intimidasi, membakar rumah ibadah orang lain, dan tindakan terorisme sebagai puncak aktifitasnya.

Upaya membangun toleransi harus menjadi prioritas, terutama dalam konteks masyarakat yang majemuk. Pemahaman atas pentingnya toleransi mesti menjadi sebuah keniscayaan dalam rangka membangun masa depan yang lebih baik. Hanya dengan itu, hidup kita berbangsa dan bernegara akan lebih bermanfaat. Agama akan sangat bermanfaat apabila berperan membangun nilai-nilai keadaban publik dan sosial.

Al-Qur’an Kitab Toleransi
Pada dasarnya, sikap moderat dan toleran adalah dua hal yang menjadi pijakan dasar untuk hidup di tengah keragaman. Dengan dikembangkannya dua prinsip tersebut, kerjasama untuk membangun peradaban sangat dimungkinkan. Baik secara normatif maupun praksis, Nabi Muhammad saw sudah menekankan urgensinya. Risalah yang beliau dakwahkan tidak lain adalah sebagai penyempurna bagi ajaran-ajaran sebelumnya. Oleh karenanya, Islam datang bukan untuk merusak tetapi untuk memperbaiki dan menyempurnakan.
Hal ini sebagaimana termaktub dalam riwayat hadis dalam kitab Shahih Muslim:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَثَلِى وَمَثَلُ الأَنْبِيَاءِ كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنَى بُنْيَانًا فَأَحْسَنَهُ وَأَجْمَلَهُ فَجَعَلَ النَّاسُ يُطِيفُونَ بِهِ يَقُولُونَ مَا رَأَينَا بنيَانًا أَحْسَنَ مِنْ هَذَا إِلاَّ هَذِهِ اللَّبِنَةَ فَكُنْتُ أَنَا تِلْكَ اللَّبِنَةَ (رواه مسلم)
Artinya: Diriwayatkan dari Shahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Perumpamaanku dan perumpamaan para nabi-nabi terdahulu itu ialah ibarat seseorang membangun rumah lalu menyempurnakan dan memperindahnya. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mengaguminya, seraya berkata: “Kita tidak pernah melihat bangunan yang lebih indah dari bangunan ini sebelumnya, hanya saja ada satu bata (yang belum diletakkan)”, satu bata tersebut adalah aku.” (H.R. Muslim)

Hadis ini penting dilihat dan masih sangat relevan dalam kehidupan kita sekarang. Nabi Muhammad saw mengibaratkan agama-agama sebelum Islam layaknya sebuah rumah. Rumah tersebut sudah dibangun. Ajaran Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw bukan untuk merusak atau menghancurkan rumah tersebut. Nabi bahkan meneguhkan kembali bahwa Islam hadir ke muka bumi untuk menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya.
Di Madinah, Nabi Muhammad saw telah mempraktikkan toleransi di tengah masyarakat yang plural. Hal ini sebagaimana tercermin dalam Piagam Madinah. Dimana perbedaan agama dan kepercayaan tidaklah menjadi penghalang untuk saling hidup berdampingan dan bekerja sama.

Al-Qur’an sebagai pedoman dan pegangan hidup Muslim, banyak menceritakan perihal sikap toleransi dan moderasi. Jika kita percaya pada isi serta kandungan al-Qur’an sebagai kitab toleransi semestinya kita memahami dan meresapi pesan-pesan toleransi yang terkandung di dalamnya.
Selain itu, kita sebagai Muslim harus secara sadar dan aktif membumikan pesan-pesan toleransi al-Qur’an pada kehidupan nyata. Ajaran cinta kasih merupakan ajaran yang mendasar dalam agama-agama samawi terdahulu. Islam datang hakikatnya hendak menyempurnakan ajaran yang mulia tersebut. Tidak berlebihan bila kita yakin bahwa al-Qur’an adalah cahaya dan petunjuk bagi keadaban dan peradaban, terutama dalam rangka membangun toleransi dan hidup damai.

source

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here