Membumikan Islam dalam Bingkai Kebhinekaan

0
99

Indonesia adalah sebuah negeri yang tak lepas dari kata Islam. Semangat gema takbir para pejuang telah menghantarkan negeri ini pada gerbang kemerdekaan. Perbedaan bukanlah alasan untuk tidak bersatu,karena negeri ini diperjuangkan oleh keberagaman. Keberagaman adalah cara Allah menunjukan keindahan ciptaan-Nya. Keberagaman adalah fitrah manusia ketika terlahir kedunia.

Berbeda suku,agama,budaya dan karakter membuat semuanya terlihat indah dalam bingkai kebhinekaan. Manusia terlahir berbeda bukan untuk dicela. Bukan untuk melihat siapa yang paling berkuasa diantaranya. Tapi untuk saling mengenal dalam menjalin Hablumminannas dan menyempurnakan HablumminaAllah.

Manusia adalah makhluk yang Allah berikan kelebihan berupa akal,yang tidak Allah berikan pada makhluk yang lain. Manusia adalah pemimpin dimuka bumi yang minimal ia menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Namun bagaimana bisa ia menjadi seorang pemimpin yang arif tanpa keimanan dan ketakwaan kepada Allah? Agama adalah jawabannya.

Manusia merupakan makhluk monodualisme yaitu satu wujud tetapi memiliki dua unsur,jasmani dan rohani. Unsur jasmani bersifat material seperti kebutuhan akan sandang,pangan dan papan. Sedangkan unsur rohani bersifat immaterial seperti kebutuhan akan agama,kasih sayang dan kedamaian. Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya manusia diatur oleh agama.

Islam adalah agama yang sempurna bersumberkan pada Al-Quran dan Hadist yang tidak hanya berisikan perintah dan larangan Allah,tetapi juga kaya akan ilmu pengetahuan. Mulai dari kita tidur,bangun,melakukan berbagai aktifitas hingga kita tidur kembali semuanya telah diatur oleh Islam. Begitu kompleksnya Islam mengatur berbagai sisi kehidupan manusia.

Kita bisa melihat bagaimana proses masuknya Islam ke Indonesia. Islam dibumikan sesuai Q.S. Al-Baqarah:256 (tidak ada paksaan memasuki agama Islam). Islam masuk dengan cara yang begitu damai,melalui pendekatan budaya tanpa adanya unsur pemaksaan dan penindasan. Sehingga Islam mudah diterima dan menjadi agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat Indonesia.

Keadaan Indonesia yang memiliki keberagaman dalam berbagai agama,suku dan budaya,sudah lebih dulu tergambar dengan kondisi masyarakat Madinah pada masa Rasulullah SAW. Ditangan pemimpin yang arif ini,Rasulullah mampu membuat masyarakat Madinah yang penuh keberagaman hidup rukun dan damai berlandaskan nilai-nilai Islam. Masyarakatnya disebut dengan Masyarakat Madani. Masyarakat Madani membuat konstitusi tertulis untuk mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara di Madinah. Konstitusi itu disebut Piagam Madinah. Tidak hanya masyarakat Islam saja yang sejahtera, para Nonmuslim pun hidup damai dan sejahtera dibawah kepemimpinan Islam.

Masyarakat Madani adalah teladan yang baik untuk kita jadikan panutan dalam menciptakan kondisi masyarakat yang harmonis dalam keberagaman. Apalagi untuk kita para Generasi Milenial Islam yang hidup di era globalisasi. Era dimana pengaruh asing mudah masuk dan merusak generasi Islam sehingga Islam memiliki generasi yang lemah. Era dimana kita dapat dengan mudah untuk melihat,mengakses dan menyebarkan apapun hanya dengan ketikan jari. Era dimana video dan gambar menjadi wadah untuk saling menghakimi tanpa bertabayyun terlebih dahulu.

Globalisasi itu masalah masa depan. Namun 15 abad yang lalu Rasul telah memprediksi bagaimana kondisi umat Islam. Beliau menggambarkan ”umat Islam seperti makanan diatas meja makan yang menjadi santapan pihak asing”. Lalu ketika itu sahabat bertanya ”apakah umat Islam minoritas? Rasul menjawab ”umat Islam mayoritas tetapi tidak berdaya keberadaannya seperti buih dilautan”.

Faktanya tak bisa kita pungkiri saudara/i ku sekalian. Bahwa pada saat ini kita benar-benar mudah tersulut emosi. Kita lemah dalam persatuan dan rentan akan perpecahan. Perbedaan SARA dijadikan jurang pemisah untuk saling menjatuhkan. Perbedaan pemikiran,pendapat,dan pilihan seolah membuat kita tak bersaudara. Padahal Islam adalah agama yang menanamkan sikap untuk saling menghargai antar sesama.

Saudara/i ku, masa ini merupakan tantangan yang besar untuk kita para Generasi Milenial Islam dalam menebarkan nilai-nilai keIslaman. Pengaruh paham ekstrimisme,radikalisme,dan fundamentalisme terus disebarkan untuk memecah belah persatuan. Hingga wajah Islam yang damai seolah tertutupi oleh perilaku dan asumsi orang-orang yang mengidentitaskan dirinya Islam,tetapi malah membuat kerusuhan yang jauh dari nilai-nilai keIslaman. Akibatnya terjadi penyesatan opini di masyarakat tentang wajah Islam yang sebenarnya. Perlahan stigma negatif masyarakat nonmuslim pun mulai terbangun pada agama Islam. Hal ini berakhir pada hubungan sensitifitas antar umat beragama.

Kondisi inikah yang kita inginkan? Dan sekarang tepuk dada tanya selera. Akankah kita para Generasi Milenial Islam akan menjadi generasi yang lemah kualitas keimanannya dan jumud pemikirannya. Mengaku Islam tapi apatis terhadap perpecahan. Mengaku Islam tapi hanya sibuk mencari perbedaan. Hingga lalai dan tak lagi semangat untuk memajukan Islam. Atau hal ini kita jadikan motivasi untuk belajar dan saling menghargai.

Jangan biarkan keberadaan kita seperti buih dilautan yang terombang-ambing. Jangan biarkan negeri ini terpecah belah hanya karena kita berbeda paham. Kini saatnya kita membuka mata,duduk bersama dan saling berusaha untuk mewujudkan Generasi Milenial Islam yang cerdas,menjalin kasih antar sesama serta #meyakinimenghargai perbedaan yang ada.

Saudara/i ku marilah kita menjadi Generasi Milenial Islami yang sebenarnya. Berlomba dalam kebaikan dan saling merangkul dalam perbedaan. Perbedaan bukanlah hambatan untuk bekerja sama melainkan fitrah dari sang Maha Pencipta.

Sumber : milenialislami.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here