Nasionalisme Kalangan Ulama Indonesia

0
78

Indonesia dengan umat Islam terbesar di dunia memiliki ulama-ulama ternama penjaga agama sekaligus penjaga nasionalisme dikalangan masyarakat dan santri. Hal ini, tidak pernah kita dapatkan dinegara dengan mayoritas Islam di negara manapun seperti di Timur Tengah (Mesir, Suriah dll).

Seakan di timur tengah antara agama dan negara memiliki jarak yang cukup jauh, tidak jarang juga memicu konflik antar umat beragama. Konsepsi untuk menyatukan kaum nasionalis dan religius tidak menemukan titik temu di timur tengah, jelas memiliki perbedaan jauh di kalangan ulama di Indonesia, yang mengajarkan untuk tetap cinta terhadap tanah air serta ikut berjuang melawan penjajah pada masa merebut dan memepertahankan kemerdekaan.

Sikap nasionalisme di kalangan ulama tidak terjadi hari ini saja, sikap itu telah jauh ditunjukkan oleh ulama kita terdahulu. Nasionalisme ulama tidak terhalang oleh ruang dan waktu, jarak dan lamanya berada diluar tanah air tidak memudarkan rasa cinta akan tanah kelahiran. Sebagaimana yang ditunjukkan oleh ulama sekaliber Syekh Yasin bin Isa al-Fadani dan ulama nusantara yang sedang menuntut ilmu di tanah Haramayn, sekitaran tahun 1930-an.

Dalam buku Ahmad Baso Islam Nusantara jilid 1 (2017), mencatat sekitar tahun 1934 berdiri madarasah Darul Ulum yang dibangun oleh ulama-ulama nusantara, sebagai sikap atas pengajar di madrasah Shaulatiyah yang menyebut orang nusantara ‘bodoh dan mudah di jajah’. Atas peristiwa ini, madrasah Shaulatiyah yang awalnya sangat diminati oleh ulama nusantara, kemudian menarik diri dan membangun institusi pendidikan sendiri yang khas nusantara.

Maka, berdirilah madrasah Darul Ulum, madrasah ini bukan saja lembaga pendidikan yang mengajarkan agama, tetapi juga mendidik ulama nusanatara untuk mencintai tanah airnya. Sesuai dengan sejarah berdirinya madrasah Darul Ulum yang berada di tanah Haramayn ini adalah bentuk atas sikap nassionalisme, patriotisme ulama terhadap bangsanya sendiri.

Terdapat 120 santri dari nusantara yang mengenyam pendidikan di madrasah Darul Ulum dibawah pimpinan seorang ulama terkenal yaitu Syekh Yasin bin Isa al-Fadani. Madrasah inilah yang memberikan sumbangsi sikap nasionaslime dikalangan santri yang sedang menuntut ilmu di tanah Hadramayn.

Maka “ Hubbul Wathon Minal Iman “ bukanlah jargon biasa, ini adalah sikap ulama nusantara terhadap negerinya, tidak heran ulama-ulama seperti Hadratusyekh K.H Hasyim Asy’arie, K.H Wahab Chasbullah, K.H Abbas Buntet Cirebon terlibat dalam perang mempertahankan kemerdekaan yang kita kenal dengan peristiwa 10 November yang diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Bahkan fatwa ‘Resolusi Jihad’ sebagai hasil dari keputusan ulama Jawa-Madura sebagai rasa tanggung jawab mempertahankan kemerdekaan yang telah di proklamirkan oleh Ir. Soekarno-Hatta. Rasa tanggung jawab untuk menjaga tanah air inilah yang mendorong munculnya resolusi jihad oleh ulama Jawa-Madura dan berdirinya madrasah Darul Ulum ditanah Haramayn sebagaisikap nasionalisme yang ditunjukkan oleh ulama kita saat itu.

Kemudian tidak ada alasan lagi bagi kita terutama umat Islam untuk tidak mencintai dan menjaga negara ini, terutama menjaga negara dari pihak yang ingin memecah-belah persatuan, menjaga negara dari kaum radikal-ekstrimis yang berbalut kata khilafah, yang ingin mendirikan negara Islam yang telah selesai perdebatannya Pancasila telah diakui sebagai dasar negara.

Ulama terdahulu telah memberikan contoh kepada kita semua hari ini, untuk selalu mencintai tanah air dimanapun kita berada dan dalam kondisi apapun. Ulama terdahulu pun siap mengorbankan nyawa demi menjaga negara kita dari penjajah, maka kita juga sebagai penerus untuk menjaga negara kita. Jika dahulu penjajah berbentuk negara, fisik dan jelas menindas serta merusak keharmonisan masyarakat Indonesia, sekarang ‘penjajah’ itu berbentuk buah pikiran yang menjangkit yang bernama Radikalisme-Ekstrimisme, ingin merubah negara, meneror kedamaian, dari paham inilah kita perlu menjaga negara, menjaga persatuan.

Nasionalisme Kalangan Ulama Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here