Basmi terorisme dengan akhlak mulia

0
71

Rules penting dalam melawan terorisme adalah dengan akhlak mulia. Hal ini yang demikian tak banyak disadari oleh netijen dan eksekutor kampanye anti teror. Segala yang tercipta di seantero dunia disebut dengan “makhluq”, sedang yang menciptakan semua ini seringkali dikenal dengan sebutan “Khaliq”. Yang diciptakan dan yang menciptakan adalah dua hal yang berbeda. Yang diciptakan tentu berada di bawah kendali Sang Pencipta, sedang yang menciptakan memiliki hak veto yang tiada seorang pun yang mengganggunya.

Para pelaku teror, dan bahkan terorisme itu sendiri tidak manusiawi dan terntu pelakunya melanggar korideol akhlak mulia yang diajarkan agama. Kata “makhluq” dan “khuluq” adalah dua kata yang dibentuk dari akar kata yang sama, yakni kata “khalaqa” yang populer dengan arti “menciptakan”. Kesamaan akar kata ini menghadirkan makna yang saling berkaitan. Bahwa disebut makhluk karena dia diciptakan dari tiada menjadi ada. Begitu juga, disebut akhlak karena sifat ini tercipta dan terbentuk dalam pribadi manusia.

Manusia disebut makhluk karena dalam dirinya tercipta akhlak yang mulia yang Allah anugerahkan. Anugerah yang maha besar ini akan berdaya guna bila manusia menyadari dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ketidaksadaran akan bisa menggiring manusia bersikap amoral dan jauh dari akhlak yang mulia

Pribadi yang mulia digambarkan dalam Al-Qur’an dengan pribadi luhur Nabi Muhammad Saw. Disebutkan dalam Qs. al-Qalam/68: 4, yang artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” Pribadi Nabi yang luhur ini terlihat pula dari pengakuannya: “Sesungguhnya aku hanyalah diutus untuk menyempurnakan akhlak yang luhur.” (HR. Ahmad dan Al-Bukhari).

Melawan Terorisme dengan Akhlak Mulia

Ada sekian hadis Nabi Saw. yang menguraikan kemuliaan berakhlak baik. Diriwayatkan dari Tirmidzi, bahwa:  “Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kalian dan paling dekat tempat duduknya denganku pada hari kiamat adalah mereka yang paling bagus akhlaknya di antara kalian.”

Baca Juga:  Tentang Agama dan Spritualitas

Dalam riwayat lain dari Ahmad dan Abu Dawud disebutkan: “Sesungguhnya seorang mukmin bisa meraih derajat orang yang rajin berpuasa dan shalat dengan sebab akhlaknya yang luhur.” Begitu pula, dalam riwayat Tirmidzi disebutkan: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.”

Akhlak adalah titipan dari Allah kepada manusia. Sebagai titipan tentu manusia diminta menjaga akhlak ini dengan baik, tanpa menodainya. Bentuk menjaga akhlak adalah dengan menghormati hak orang lain dan menunaikan kewajibannya sendiri. Begitu pula, tidak menyekutukan Allah Swt. dengan sesuatupun. Ini hanya bagian dari implementasi akhlak manusia kepada sesamanya dan kepada Tuhannya.

Akhlak tidak memandang jenis kelamin, suku, bahkan agama. Bahkan, semua agama mengajarkan akhlak yang baik kepada pemeluknya. Salah satu buktinya, sikap mencela yang dinilai akhlak yang  buruk dalam Islam, dinilai buruk pula dalam agama yang lain. Sebaliknya, perdamaian dan sikap santun yang ditanamkan dalam Islam sebagai akhlak yang mulai, juga diakui mulia dalam agama lain. Karena itu, akhlak memiliki cakupan yang luas dibandingkan keyakinan dan ideologi.

Maka, menjadi penting membumikan paradigma melawan Terorisme dengan Akhlak Mulia di negera Indonesia yang merangkul beragam keyakinan, ideologi, dan politik. Membumikan akhlak yang mulia sesungguhnya mensyukuri anugerah Tuhan. Sebagai rakyat Indonesia pembumian akhlak, salah satunya, diimplementasikan dengan mematuhi hukum negera yang demokratis dan menerapkan moderasi. Sikap yang demokratis dan moderat adalah gambaran Islam yang dikehendaki oleh Nabi Muhammad Saw.[] Shallallah ala Muhammad.

Sumber :Harakatuna

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here