Klarifikasi Prasangka Sebagai Pembuka Gerbang Toleransi

0
15

“Bukankah dengan saling pengertian mendasar antar agama, masing-masing agama akan memperkaya diri dalam bekal perjuangan menegakkan moralitas, keadilan, dan kasih sayang?”

-Abdurrahman Wahid.

Dengan kerendahan hatinya, Gus Dur memperjuangkan hak-hak kaum minoritas sebagai warga negara Indonesia, sehingga mendapat julukan sebagai Bapak Pluralisme. Dari pernyataannya di atas, ada yang harus digarisbawahi sebagai bekal menuju toleransi, yaitu; saling pengertian mendasar antar agama.

Salah satu penyebab intoleransi adalah adanya prasangka yang terpendam tanpa ada usaha untuk mengklarifikasi. Prasangka muncul karena kurang adanya pemahaman tentang suatu hal.

Untuk itu, dibutuhkan dialog antar umat beragama sebagai mediasi, agar terklarifikasi prasangka-prasangka yang menjadi tembok penghalang persatuan antar umat beragama. Dengan dialog yang saling menghargai pendapat, maka akan terwujud jaring-jaring empati.

DIALOG, DIALOG, DIALOG

Akhir tahun lalu, saya diberi kesempatan oleh Allah untuk mengikuti kegiatan Student Interfaith Peace Camp (SIPC) di Sleman, Yogyakarta. Salah satu hal baru yang saya dapatkan ialah manfaat yang ditimbulkan dari mengklarifikasi sebuah prasangka.

Pada kegiatan itu, saya dan teman-teman muslim berdialog banyak hal dengan teman-teman kristiani. Misalnya konsep ketuhanan dalam Islam dan Kristen, apakah misi dan dakwah itu sama dengan kristenisasi dan islamisasi? Berawal dari prasangka umat muslim kepada umat kristiani, begitu juga sebaliknya, prasangka-prasangka itu pun lenyap dengan adanya dialog.

Ada pula kegiatan Scriptual Reasoning yaitu latihan membaca kitab suci kepercayaan lain (interfaith). Kegiatan ini tidak mengharuskan peserta untuk menyetujui apa yang ada dalam kitab suci agama lain, namun bertujuan agar dapat saling memahami perbedaan tanpa men-judge mana yang benar dan mana yang salah.

Sesi yang tidak kalah asyiknya adalah heart dialogue and reconciliation. Peserta muslim dan kristiani saling mencurahkan permasalahan yang pernah dialaminya mengenai sikap orang Islam yang kurang elok kepada orang Kristen dan sebaliknya.

Salah satu teman dari Riau menceritakan, di daerahnya tidak mempunyai gereja untuk beribadah. Ia juga menceritakan perjuangannya dalam usaha membangun gereja yang kemudian dipersulit oleh beberapa oknum muslim yang intoleran.  Lebih mengenaskannya lagi, beribadah di rumah sendiri pun mereka merasa kurang nyaman dan takut.

ISLAM DAN EKSISTENSI AGAMA LAIN

Peristiwa di atas tidak senada dengan Piagam Madinah. Prinsip kebebasan beragama yang dijamin dalam Al-Quran, tepatnya pada QS. Al-Baqarah ayat 256 dengan tegas dirumuskan pada Piagam Madinah pasal 25.

Rumusan ini menjadi bentuk pengakuan terhadap eksistensi agama lain di kawasan Madinah pada masa Nabi Muhammad Saw. Orang-orang Yahudi bebas menganut agama mereka dan umat muslim tidak boleh menghalangi mereka untuk beribadah. Bahkan Nabi bersabda, “Siapa yang membunuh seorang zimmy, maka dia tidak akan mencium wanginya surga.”

Kebenaran bersifat obyektif, sementara kebenaran yang hakiki hanya milik Allah. Dengan adanya klarifikasi prasangka terhadap agama lain, akan ada kesadaran untuk tidak saling mengkafirkan antara agama, sehingga lebih terfokus pada cara menggenapkan iman dan menebar kasih sayang di bumi penuh cinta ini.

Penulis: Iffah Al Walidah

Artikel ini merupakan Pemenang Favorit pada ajang kompetisi esai Milenial Islami 2017. 

sumber : milenial islami

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here