Cara Membela Agama dengan Benar

0
40


Ketika ditanyakan apakah membela agama itu penting, tentu dengan tegas harus dijawab sangat penting dan paling utama. Ulama salaf meletakkan pembelaan agama sebagai urutan utama dalam prinsip tujuan syariah (maqasyid as-syari’ah). Membela agama adalah bagian menjaga kehormatan agama (hifdz ad-din). Pertanyaannya, bagaimana cara membela agama?
Kadang kita menjadi sangat kabur dengan istilah membela agama. Apapun yang dibungkus dengan narasi membela agama dianggap sebagai membela agama itu sendiri, walaupun kadang hanya kepentingan kelompok. Membela agama sangat penting, tetapi kadang mudah digunakan dan disalahtafsirkan.
Islam mengajarkan cara membela agama dengan benar yang salah satunya adalah dengan berjihad. Namun, pengertian jihad tidaklah sempit. Kata jihad dalam Qur’an banyak ditemukan dengan makna yang beragam. Seringkali kita umat Islam mendengar kata jihad hanya dengan pengertian perang (qital). Ingat bahwa perang hanya salah satu bentuk jihad.
JIka umat hari ini hanya memaknai jihad sebatas perang, justru akan mempersempit ladang jihad. Bahkan bisa menutup kesempatan umat hari ini untuk melakukan jihad. Dalam kondisi damai, apakah orang Islam tidak bisa melakukan jihad? apakah pintu jihad sudah tertutup kita hidup di negara damai? Apakah itu artinya juga membela Islam sudah selesai?
Itulah konsekuensi ketika hanya memahami jihad dengan perang. Lantas, apabila kondisi sudah damai kita selalu mempersepsikan kondisi masih dalam perang. Lalu, apakah kita masih bisa membela Islam dengan cara berjihad di tengah kondisi masyarakat dan Negara yang damai seperti Indonesia ini.
Berjihad secara Kaffah
Jihad sekali lagi tidak hanya bermakna perang. Justru menyempitkan jihad hanya makna perang itu sangat berbahaya. Kenapa? Karena umat Islam sudah berhenti berjihad di saat kondisi damai. Jihad adalah suatu kewajiban yang terus menerus hingga akhir hayat umat Islam.
Secara bahasa, jihad bersumber dari kataJahada yang berarti kemampuan, kesusahan. Kata Ijtihad berasal dari katajahada yang artinya mengerahkan upaya apakah melalui tangan, lidah atau alat yang bisa membantu untuk mewujudkan upaya itu. Oleh karena itu seorangmujtahid adalah orang yang telah berusaha untuk mengeluarkan tenaganya untuk mendapatkan sesuatu.
Di sinilah penting melihat makna jihad secara kaffah atau menyeluruh. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zaadul Ma’ad memberi empat tingkatan dalam jihad.
1. Jihad melawan hawa nafsu
2. Jihad melawan syetan
3. Jihad melawan orang kafir dan munafik
4. Jihad melawan kemungkaran dan orang dzalim.
Empat tingkatan ini memberikan pelajaran bagi kita bahwa sejatinya ladang jihad itu sangat luas. Karena itulah, umat Islam mempunyai kesempatan yang besar untuk menjadi mujahid dan pembela agama sesuai dengan kadar kemampuan, waktu dan tempat masing-masing.
Membela Islam harus melihat kemampuan diri dan kondisi. Sangat tidak tepat apabila umat Islam mengatakan membela Islam dengan perang di tengah kondisi damai dengan berdalih jihad. Itulah salah satu kesalahan dalam diri umat dengan semangat membela Islam, tetapi dengan pengetahuan yang dangkal.
Dalam prakteknya, umat Islam seringkali diperdaya dengan kalimat-kalimat membela Islam dalam konteks yang tidak tepat. Menggiring umat dalam kepentingan tertentu menjadi sangat rentan dilakukan apabila umat Islam tidak memiliki pengetahuan keagamaan yang cukup. Lalu, apa dan di mana ladang jihad bagi umat saat ini?
Ladang Jihad untuk Bela Islam
Setelah mengkategorikan empat tingkatan dalam jihad, Ibnu Qoyyim memperinci tingkatan itu dalam bebrapa bentuk:
Pertama : Jihad melawan nafsu ada empat bentuk tahapan:
1. Berjihad untuk mempelajari ilmu-ilmu agama;
2. Berjihad untuk mengamalkannnya setelah ia mempelajarinya;
3. Berjihad untuk mendakwahkannya secara benar dan mengajarkan kepada mereka yang tidak mengetahuinya;
4. Berjihad dalam kesabaran berdakwah di jalan Allah dan sabar terhadap beban dan rintangan yang dihadapi;
Kedua ; Jihad melawan setan memiliki dua tingkatan:
1. Berjihad untuk menghindari apa saja yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesyubhatan;
2. Berjihad untuk melawan hawa nafsu dan keinginan-keinginan yang dapat merusak dirinya.
Ketiga: Jihad melawan orang kafir dan munafik memiliki empat tahapan sesuai kemampuan
1. jihad dengan hati, mengingkari dan tidak sepaham dengan orang kafir
2. jihad dengan lisan, melakukan hujjah dan argument untuk melawan orang kafir
3. jihad dengan harta, menafkahkan harta untuk melawan orang kafir
4. jihad dengan tangan, melakukan peperangan melawan orang kafir
Keempat; jihad melawan kedhaliman, permusuhan, dan kemunkaran memiliki tiga tingkatan:
1. Jihad dengan tangan jika seseorang mampu,
2. Jihad dengan lidah jika seseorang tidak mampu dan
3. Jihad dengan hati jika tidak mampu dengan lisan
Itulah ladang jihad yang tersedia bagi umat Islam saat ini. Jihad selalu disesuaikan dengan konteks kemampuan dan kondisi. Dalam kondisi damai, umat Islam bisa melakukan jihad dengan menuntut ilmu, mengamalkan, berdakwah dan terus tabah dan sabar dalam melakukan dakwah. Tidak tepat dalam kondisi damai dipraktekkan jihad melawan kafir.
Semua level jihad selalu disesuaikan dengan kemampuan. Jihad melawan kemungkaran juga tidak bisa serampangan. Dalam konteks bernegara melihat kemungkaran tidak bisa melakukan tangan dengan main hakim sendiri. Hal paling mungkin adalah dengan lisan dan hati. Karena jihad dengan tangan justru akan menyebabkan kemudharatan.
Jihad yang sebenarnya harus selalu konstan dilakukan oleh umat Islam adalah jihad melawan hawa nafsu syetan. Jihad ini sangat penting untuk menghindari kesyubhatan dan segala hawa nafsu yang merusak diri dan masyarakat.
Inilah ladang-ladang jihad yang bisa dilakukan oleh umat Islam dalam rangka membela Islam. Jihad tidak hanya sebatas perang, dan pintu jihad tidak tertutup dalam kondisi damai, karena banyak bentuk jihad yang bisa dilakukan umat Islam dalam membela Islam.

#muslimsejati.
Sumber: https://islamkaffah.id/kaffah/cara-membela-agama-dengan-benar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here