Menegakan Islam yang Rahmah

0
120

Pasca putusan Mahkamah Konstitusi terkait sengketa Pemilu 2019, itu hanya soal pergolakan politik sebagai suatu complementdalam memenuhi syarat berdemokrasi yang bersifat konstitusional. Isu yang tidak kalah penting hari ini adalah ketegangan politik yang dipandang masyarakat. Dari itu penulis merasa perlu untuk meneguhkan kembali Islam rahmah (Islam rahamatan lil ‘alamin).

Bahwa, di balik semua ini ada klaim pertarungan antara kelompok Islam radikal (esktrem) dengan kelompok Islam moderat (kontekstual).

Dalam realitas sosial politik, invasi politik ideologis ini dimotori oleh agama. Landasan berpolitik atas nama agama (political ideology) tentu menimbulkan tensi politik identitas semakin kuat, penuh kebencian, fitnah (hoaxs), dan perpecahan di kalangan umat bergarama, terutama umat Islam sendiri yang agamanya sangat mendominasi.

Agama dapat dilihat sebagai instrumen ilahiah untuk memahami dunia menurut Robert N. Bellah. Dalam konteks ini, Bakhtiar Efendi memberikan pandangan cukup menarik.

Menurutnya, Islam dibandingkan dengan agama-agama lain, sebenarnya merupakan agama yang paling mudah untuk menerima premis semacam ini. Alasan utamanya terletak pada ciri Islam yang paling, menonjol, yaitu sifatnya yang selalu “hadir dimana-mana” (omnipresence). (Din Syamsuddin, 2001: ix).

Ini sebuah pandangan yang mengakui dimana-mana kehadiran Islam selalu memberikan “panduan moral yang benar bagi tindakan manusia.” Kendati demikian, dalam praktiknya kerapkali terjadi Islam tidak lagi digunakan sebagai panduan moral, tetapi menjadi alat justifikasi alias pembenaran sepihak. Atas nama Islam kerapkali segelintir kelompok memusuhi.

Bahkan memerangi atas kelompok minoritas yang sama-sama beragama Islam. Seperti Ahmadiyah, atau aliran kepercayaan. Pemicunya tidak lain karena perbedaan cara pandang keagamaan, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) pun yang cukup mayoritas masyarakat menganut alirannya terkadang muncul klaim atau tuduhan Islam liberal.

Baca Juga:  Isra Miraj dan Suksesi Kepemimpinan 2019

Masalah Perbedaan

Meskipun, cara pandang keagamaan dan penyikapan atas perbedaan kerapkali berujung pada kekerasan, ekstremisme, dan anarkisme. Hal ini identik dengan fanatisme keagamaan relatif tinggi. Sehingga, tidak bisa menampik jika ada persepsi negatif. Bahwa, fakta tindakan intoleransi, dan radikalisme semakin masif di negeri yang plural ini.

Masalah perbedaan aliran dalam Islam ini adalah dunia pancaroba yang dapat menimbulkan gempa, dan tsunami konflik perang saudara yang jauh dari penguatan persaudaraan sesama umat Islam (ukhwah Islamiyah). Dimana sebalik-Nya dengan penuh perbedaan dalam Islam pun bagaikan pelangi, semakin banyak warna justru bertambah indah.

Inilah panorama Islam rahamatan lil ‘alamin mengajarkan semua masyarakat bersikap toleran, ramah, menghargai, dan menghormati perbedaan. Pikiran ini mewakili kehidupan kita dalam beragama, berbangsa, dan bernegara. Sehingga, masyarakat khususnya harus berbalik arah dari pemahaman-pemahaman ekstrem (radicalism).

Pikiran yang cenderung radikal ini menunjukkan sikapnya yang tidak responsif, dan tidak toleran terhadap semua kalangan, terutama kelompok minoritas. Kenyataan ini tidak dapat dipungkiri, karena tragedi tersebut perlu dijadikan catatan sejarah agar dapat berbenah diri, dan menjadikan perbedaan sebagai keniscayaan dalam Islam.

Kalau ditilik dalam realitas kehidupan keagamaan dmasyarakat Madura sangat fanatik. Bahkan, memosisikan Islam sebagai satu-satunya agama yang paling benar dan berhak berdialektika di bumi Madura.

Padahal tidak demikian, karena pada dasarnya Islam adalah agama rahmah yang menjunjung tinggi spirit kebersamaan, dan perbedaan seperti yang pernah dipraktikkan Nabi Muhammad SAW.

Pada saat hidup berdampingan dengan penduduk non-Muslim sekalipun. Inilah suatu teladan agung Nabi Muhammad SAW, yang menampilkan wajah Islam yang sejuk, ramah, toleran dan berkeadaban. Islam pada masa sang baginda besar kita inilah yang patut kita contoh sebagai terobosan politik dengan menjaga kebersamaan dalam kehidupan bernegara.

Baca Juga:  Merumuskan Hubungan Ideologi Nasional dan Agama (Bagian 1)

Islam Rahmah

Islam Rahmah adalah Islam yang mampu memberi keramahan bagi semua orang. Maka penting kemudia untuk meneguhkan kembali Islam rahmah. Islam tanpa kehidupan tidak akan kembali normal dengan seindah, dan serahmah kehidupan pelangi Islam rahamatan lil ‘alamin (Islam Rahmah).

Oleh karena itu, Islam selalu mengajarkan kita semua hidup damai, rukun antar pemeluk agama, berdampingan, dan saling menghormati, secara mendasar tujuannya untuk membangun kerukunan antar umat beragama dan harmonis di tengah perbedaan.

Dalam konteks ini, penyelesaian konflik berbasis keagamaan, dan penyebaran paham radikalisme. Seharusnya tidak diselesaikan dengan cara-cara kekerasan dalam berpikir (sarkasme, ekstremisme, radikalisme) maupun saling menfitnah sekalipun, alternatifnya mengharuskan kita ada jalan dialogis yang sejuk, ramah, toleran dan berkeadaban.

Pendekatan dialog jauh lebih baik daripada tindakan radikal, anarkis, dan ekstrem. Karena itu, butuh gagasan dan pencerahan yang baru untuk menafsirkan ajaran agama ke dalam realitas kehidupan sosial.

Selama ini, yang kerapkali terjadi adalah kesalahan interpretasi atas agama yang cenderung dipahami secara tekstual dengan merujuk pada fatwa-fatwa temporer yang parsial. Sehingga, melahirkan klaim keagamaan sepihak. Klaim ini berujung pada pembenaran alias justifikasi.

Pasalnya, untuk memahami teks-teks keagamaan tidak saja dipahami dari aspek tekstual-simbolik saja, tetapi pada aspek substansinya.

Para tokoh-tokoh agama di desa-desa perlu pencerahan keagamaan agar tidak mudah menerima doktrin-doktrin keagamaan maupun faktwa-fatwa ekstrem yang tidak jelas dasar teologisnya. Kendati pun, yang amat dianjurkan oleh Islam adalah hidup damai rukun, sejuk, toleran dan berkeadaban.

Penulis teringat pemandangan panorama toleransi dan cermin kehidupan umat Islam hampir menyerupai model yang diterpakan al-Khulafa’ al-Rasyidin Umar Ibn al-Khatthab ketika membangun Masjid berdampingan dengan Gereja umat Kristiane. Bahkan, dalam salah satu hadist Nabi Muhammad SAW, disebutkan bahwa “man adza zdimmiyan faqadz adzani”.

Baca Juga:  Ber-Islam Tak Perlu Kejam (Radikal)

Belajar Meneguhkan Kembali Islam Rahmah

Dalam rangka meneguhkan kembali Islam rahmah kita mesti belajar pada hadis di atas. Substansi hadist ini menjelaskan barang siapa mengganggu kafir zdimmi yang sudah membayar pajak kepada Negara maka dia berani mencabut bedera yang sudah ditanam olen Rasullullah SAW beberapa abad yang lalu.

Artinya, hidup damai, rukun dan harmonis di tengah perbedaan sejak zaman Nabi telah dipraktikkan, karena misi dan kehadiran Islam pada dasarnya sebagai penyelamat. Itu artinya kita mesti belajar meneguhkan kembali Islam rahmah dari beberapa hadis Nabi maupun al-Quran secara khusus.

Untuk itu, kehadiran Islam bukan sekadar mengubah prilaku buruk masyarakat Jahiliah saja, tetapi Islam telah berhasil melakukan revolusi besar-besaran hingga terwujudnya masyarakat madani (civil society) di seluruh dunia. Kehadiran Islam sebagai penyempurna bagi agama Nabi sebelum Nabi Muhammad.

Oleh karena itu, Allah SWT, menegaskan dalam al-Qur’an “al-Yauma akmaltu lakum dinakum waatmamtu alaikum nikmati waraditu lakum al-Islama dina” ayat ini turun di tengah momentum Haji Wada’ yaitu haji terakhir sekaligus perpisahan Nabi Muhammad SAW.

Dalam ayat ini Nabi Muhammad menegaskan bahwa Islam adalah agama yang sempurna, dan semoga kesempurnaan agama Islam ini tidak dirusak oleh segelintir umat yang ingin mendestruksi Islam melalui pidato-pidato atau khutbah para khotib yang bisa merusak citra Islam itu sendiri.

Hasin Abdullah adalah Peneliti Muda Bidang Hukum UIN Jakarta, sekaligus Alumni SMA-Tahfidz Darul Ulum Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan.

 

Sumber : harakatuna

#muslumsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here