Mewaspadai Gerakan Kebencian

0
184

Di mana-mana agama pecah berserakan, menjelma serpihan-serpihan sampah yang seringkali membuat kita mual. Friksi dan kebencian bertalu-talu atas nama Tuhan dan agama. Nilai-nilai suci kemanusiaan gosong oleh fitnah dan pertikaian.” (Kuswaidi Syafiie)  Perdamaian dan kebahagiaan adalah impian setiap manusia. Tidak ada satu pun agama yang memerintahkan umatnya untuk menebar kebencian. Ajaran agama-agama memiliki peran dan fungsi besar bagi kehidupan manusia, terutama dalam hubungannya dengan Tuhan dan individu dengan individu lainnya. Singkatnya, setiap agama hadir di dunia untuk memberikan kedamaian sekaligus keselamatan bagi setiap pemeluknya. Tidak terkecuali agama Islam yang memiliki watak rahmatan lil ‘alamin. Islam adalah agama kedamaian. Prinsip kasih sayang dan persaudaraan merupakan inti dari ajaran-ajarannya. Ahmad Syafiie Maarif dalam Islam dalam Bingkai Keindonesiaan (2015) menegaskan bahwa watak Islam adalah menyejukkan. Islam memberikan kesejukan dan kedamaian tidak saja kepada umat Islam sendiri, namun juga ke segenap penjuru alam. Karena itu, sudah barang tentu Islam menghargai adanya setiap perbedaan. Sebagaimana makna yang tersirat dalam kata “al-Islam” itu sendiri yang bermakna “keselamatan” dan “kedamaian”. Namun dalam perjalanannya, Islam kini seolah kehilangan makna substantifnya. Dilatarbelakangi oleh munculnya gerakan radikalisme di Indonesia yang belakangan semakin menjamur. Tentu menjadi perhatian serius bagi pemerintah dalam upaya menanggulangi sekaligus mencegah gerakan radikal yang mengancam perdamaian dan stabilitas keamanan nasional. Radikalisme dalam berbagai bentuknya sangat berpotensi memecah belah umat. Bahkan merusak bangunan kebangsaan dan ke-Indonesia-an yang dengan susah payah diperjuangkan oleh para founding fathers. Nada dasar dari ideologi gerakan-gerakan radikal adalah anti kebhinekaan, menebar kebencian, dan merusak persatuan. Menurut hemat penulis, radikalisme dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe. Tipe pertama merupakan tipe persuasif. Cara yang dilakukan oleh kelompok radikal ini tergolong senyap dan massif. Menanam bibit-bibit kebencian kepada kelompok Islam lainnya yang tidak sepaham dengan mereka melalui media dakwah dan mudah mengkafirkan seseorang. Tipologi kedua, radikalisme anarkis. Berbeda dengan tipe yang pertama, kelompok ini cenderung menggunakan cara kekerasan secara terang-terangan dan brutal. Misal radikalisme yang terjadi di timur tengah, Islamic State of Iraq and Suriah (ISIS). Penulis beranggapan, kelompok ini tak ubahnya seperti kolonialisasi agama. Atas nama Tuhan mereka menancapkan taring-taring pengaruhnya dengan semangat jihad yang diyakini sebagai jalan kebenaran mutlak. Secara umum, radikalisme harus kita tolak. Apapun dan bagaimana pun tipologinya, Menurut Yusuf Qardlawi dalam bukunya, Islam Ekstrem (1989), radikalisme lahir dari cara berfikir yang sempit terhadap teks-teks Al-Qur’an dan hadis. Mereka menolak keragaman tafsir dan pemikiran kontekstual para ulama kontemporer. Apa yang berbeda menurut pemahaman mereka, harus dihabisi dengan dalih kafir dan sesat. Di sinilah benih-benih kekerasan  akan muncul dari sempitnya cara berfikir dan memahami ajaran-ajaran Islam. Karena itu, apa pun bentuknya jelas radikalisme tidak senafas dan selaras dengan keislaman yang berkembang di negeri kita.  Menebarkan Rahmat, Bukan Laknat Ketika agama dijadikan sebagai alat untuk melancarkan kepentingan-kepentingan politis-ideologis semata, maka agama tidak ubahnya seperti barang komoditi yang sangat menggiurkan untuk diperdagangkan. Inilah salah satu fenomena yang melatar belakangi lahirnya gerakan-gerakan radikal. Kita tahu bahwa Islam di Indonesia adalah Islam yang ramah terhadap perbedaan. Islam yang diajarkan oleh para ulama kita adalah Islam yang penuh rahmat, bukan Islam yang setiap saat memproduksi laknat. Namun demikian, kini fakta yang terjadi sungguh memilukan. Ada banyak praktik “penyusupan” oleh kepentingan luar demi menguasai sekaligus menegakkan misi politiknya. Salah satu contohnya adalah kepentingan yang berlindung di bawah kedok agama. Gelombang khilafah yang sedemikian bergemuruhnya, adalah contoh yang sangat nyata. Pancasila dianggap kurang islami, sehingga perlu diganti. Kenyataan inilah yang melahirkan gerakan-gerakan radikal karena, bagi mereka, menegakkan Negara Islam sangat mulia di tengah “sistem kafir” yang diberlakukan. Mengingat begitu kuatnya gerakan-gerakan radikal, maka dibutuhkan refleksi panjang bagaimana cara yang tepat dan tegas dalam memberantasnya. Selama isu-isu mengenai khilafah atau Negara Islam masih mengemuka, maka pada saat itulah benih-benih radikalisme akan muncul, menjelma gerakan atau organisasi yang menjadikan “jihad” sebagai lahan perjuangannya. Belajar kepada Wali Songo Gus Dur pernah mengatakan bahwa kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah. Hal tersebut tercermin melalui dakwah Wali Songo di nusantara yang penuh dengan kasih sayang, Ramah tanpa menghujat kepercayaan masyarakat lokal saat itu. Wali songo merupakan tokoh yang berpengaruh dalam proses Islamisasi di tanah Jawa. Keberhasilan dakwahnya tentu tidak terlepas dari kepiawaian membaca kondisi adat istiadat masyarakat setempat dan mudah beradaptasi dengan budaya lokal. Sebut saja misalnya Sunan Bonang dan Sunan Giri. Sunan Bonang dalam dakwahnya menggunakan media kesenian sebagai perantaranya. Media tersebut dirasa efektif karena melihat kultur masyarakatnya pada saat itu terkungkung dalam jerat kemiskinan, minim akan pertunjukan kesenian. Meski unsur-unsur kesenian yang dibawakan dan dimainakan oleh Sunan Bonang tergolong masih sangat sederhana, dengan cara tersebut masyarakat merasa terhibur. Kesenian yang dipertunjukkan antara lain terdiri dari wayang, gamelan, suluk, dan lain sebagainya. Demikian juga yang dilakukan Sunan Giri. Dakwah-dakwah Wali Songo selalu berlandaskan pada ajaran luhur Islam dan semangat kemanusiaan universal. Dakwah yang dibawanya sarat akan nilai dan arti pesan moral dan etika keislaman yang multidimensional, baik spritual maupun sosial. Kesenian tersebut pada akhirnya menjadi defusi penyebaran yang tidak hanya agama, melainkan juga kebudayaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here