Bagaimana Hidup Bergandengan dengan Penganut Agama Lain?

0
179

Di Jogja, saya pernah menemukan banner iklan perumahan di pinggir jalan. Namun saya agak terganggu dengan syarat yang dicantumkan di pojok banner bagi calon pembeli.
Di sana tertulis: Moslem Only. Artinya, mereka yang non-muslim tidak boleh membeli rumah dan artinya tidak boleh tinggal di komplek perumahan itu.
Saya kemudian berpikir, kenapa muncul fenomena seperti itu? Apakah sebagian kelompok Islam ada yang tidak mau hidup berdampingan dengan orang di luar agama mereka?
Apakah mereka yang di luar agama Islam merupakan ancaman sehingga membuat tidak nyaman? Sehingga, pada akhirnya, mereka memutuskan untuk membentengi diri dengan membuat perumahan khusus muslim.

pengalaman berbaur

Di kelas tempat saya mengajar, saya bertanya kepada mahasiswa tentang kesiapan mereka hidup dengan non-muslim. Sebagian besar menjawab siang hidup berdampingan atau bertentangga dengan non muslim.
Meski demikian, ada satu dua mahasiswa yang menjawab tidak siap. Ketika saya tanya ia hanya menjawab tidak nyaman. Ia bilang hanya mau bertetangga dengan orang Islam.
Selanjutnya, di kelas lain, saya meminta mahasiswa menceritakan pengalamannya berinteraksi dengan non-muslim. Mereka saya minta untuk mengingat dan menemukan pengalaman paling mengesankan. Berikut ini beberapa jawaban mereka:
“Saya pernah hidup satu rumah dengan orang yang beragama Kristen, Budha dan Konghucu. Itu terjadi saat bekerja di Kudus. Kebetulan saya bekerja dengan orang Cina yang beragama Kristen dan mempunyai saudara yang beragama Budha. Sedangkan ibunya beragama Konghucu, asli dari Tiongkok. Toleransi mereka sangat baik. Saat saya mau salat, saya selalu dipersilakan. Bahkan ketika sudah waktunya salat, dan saya masih bekerja, saya disuruh salat dulu baru lanjut kerja.”

“Tetangga saya yang Kristen ada yang memelihara anjing. Satu hari, anjing itu masuk masjid dan liurnya menetes. Karena warga di tempat saya sudah terbiasa dengan tolerasi, kegaduhan tidak terjadi. Pemilik anjing minta maaf dan bertanggung jawab membersihkan masjid. Bahkan jamaah masjid juga ikut membersihkan.”
“Saya punya teman dekat seorang Katolik yang tinggal bersama dengan ibu dan kakaknya yang beragama Islam. Karena saking dekatnya persahabatan kami, setiap Idul Fitri dan Idul Adha kami selalu datang ke rumahnya. Begitu juga ketika Natal, kami datang ke rumahnya untuk ikut merayakan. Karena tradisi itu sudah terbentuk sekian lama, solidaritas antar kami makin erat.”

“benteng” keberagaman

Menyenangkan sekali membaca pengalaman-pengalaman mahasiswa dalam berinteraksi dengan teman mereka yang non-muslim. Saya yang tumbuh dalam lingkungan yang relatif homogen mendapat nilai-nilai baru yang memperkaya perspektif. Kisah-kisah persahabatan yang baik ini akan menjadi bekal yang baik pula bagi mereka di masa depan.
Di zaman ketika intoleransi menguat dan perbedaan agama, ras, suku kian meruncing, setidaknya mereka sudah punya benteng: pengalaman bersahabat dalam keberagaman yang indah di masa lalu.
Penulis: Zakky Zulhazmi
Artikel bisa dibaca di islami.co dan disunting atas izin redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here