Jihadmu adalah Menafkahi Keluargamu

0
186

 

Setiap wanita pasti ingin merasakan indahnya kehidupan berumah tangga. Begitupun dengan laki-laki. Akan tetapi hidup berkeluarga memerlukan sikap yang dewasa. Salah satu sikap kedewasaan dari seseorang adalah apabila ia tidak semata menuntut agar semua haknya dipenuhi tanpa menyeimbangkan dengan pemenuhan kewajiban dan tanggung jawabnya.

Sudah seharusnya orang yang berumah tangga mengerti tidak hanya hak, tetapi apa yang menjadi kewajiban dan tanggungjawab terhadap pasangannya. Upaya  sungguh-sungguh untuk memenuhi tanggungjawab dan kewajiban dalam rumah tangga adalah bagian ibadah, bahkan lebih tinggi dari sekedar beribadah. Memenuhi tanggunggjawab keluarga adalah jihad bagi suami.

Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Anas ra. ia berkata: “Saya bertanya, ‘Ya Rasulallah, mana yang lebih utama, bercengkrama (bercakap-cakap) bersama keluarga atau duduk-duduk (I’tikaf) di dalam masjid?’ Rasulullah Saw. menjawab, ‘Bercengkrama satu jam bersama keluarga itu lebih aku senangi dari pada i’tikaf di dalam masjidku ini. Anas lalu, bertanya lagi, ‘Ya Rasulallah, apakah memberi nafkah keluarga itu lebih engkau senangi daripada memberi nafkah untuk sabilillah?’ Beliau menjawab, ‘Satu keping dirham yang dinafkahkan kepada keluarganya itu lebih aku senangi dari pada seribu keping dinar yang dinafkahkan demi sabilillah.”

Inilah kemulian memenuhi tanggungjawab dan menata keluarga dalam Islam. Islam memposisikan sekedar bercengkrama dengan keluarga melebihi pahala I’tikaf. Bahkan Nabi menegaskan kembali pentingnya menjaga keluarga melalui pemenuhan kewajiban nafkah lebih berharga dari pada menafkahkan demi sabilillah.

Sangat ironis, banyak sekali kasus yang dapat kita lihat di lingkungan sekitar kita dari seorang ibu yang mengeluhkan suaminya yang enggan bekerja untuk menafkahi keluarganya. Kalaupun ia bekerja maka hasilnya semata untuk diri sendiri, untuk makan enak, dan membeli kebutuhannya. Sementara itu, untuk makan sehari-hari anak dan istrinya ditanggung oleh sang istri yang terpaksa harus bekerja jauh dari anaknya guna menghidupi diri dan anak-anaknya. Sesekali si suami mau mengeluarkan uang dari sakunya apabila istrinya telah marah-marah dan menuntut tanggung jawabnya.

Baca Juga : Evolusi Makna Jihad

Beda lagi dengan kisah seorang ibu yang memiliki 5 orang anak yang harus bekerja hingga larut malam hanya agar dapat menyekolahkan anak-anaknya dengan layak. Hal itu dilakukan karena sang suami telah mengambil jalan dakwah dengan pergi kepelosok-pelosok untuk alasan memenuhi tanggungjawab ilmu. Alasan lain dikemukan untuk berjihad di jalan Allah untuk memenuhi kewajiban. Sang suami lupa ada tanggungjawab lebih besar yang harusnya dipenuhi. Ada jihad yang lebih besar yang mestinya ia laksanakan.

Ladang Jihad Para Suami

Seorang kepala rumah tangga wajib untuk memberi menafkahi tanggungannya baik secara lahir maupun batin. Suami wajib berusaha untuk mencari rizki yang halal untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Allah ta’ala berfirman dalam surat Ath-Tholaq:7 :

لِيُنْفِقْ ذُو سَعَةٍ مِنْ سَعَتِهِ وَمَنْ قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنْفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ .

Artinya: Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.

Selain itu, Rasulullah Saw. bersabda:“Sesungguhnya Allah Swt. senang terhadap orang (hamba) yang menjaga keluarganya.” Rasulullah Saw juga bersabda: “Barang siapa semalaman berada dalam keadaan kesulitan mencari biaya untuk menghidupi anak-anaknya, maka semalaman pula dia mendapat ampunan dari Allah Swt.”

Allah sudah memberikan janji yang indah pada orang tua yang berjuang untuk menafkahi keluarganya. Seharusnya hal ini dapat menjadi motivasi para suami agar mereka dapat memenuhi tanggungjawabnya terhadap keluarga. Pahala dan janji bertanggungjawab kepada keluarga juga lebih besar dari pada ibadah. Hal ini juga sepadan dengan ancaman Allah terhadap mereka yang melalaikan dan mengabaikan tanggungjawab keluarga.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya” (HR. Abu Daud-Ibnu Hibban, dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Abi Daud)

Dari uraian di atas cukup jelas bahwa sesungguhnya menafkahi dan memenuhi tanggungjawab terhadap keluarga adalah bentuk ibadah yang paling disukai Allah. Ada pahala dan ampunan yang diberikan kepada suami yang berjihad untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Bahkan Nabi menegaskan menafkahi keluarganya lebih mulia daripada jihad di medan perang.

Rasulullah Saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian semalam suntuk dalam keadaan susah dan perihatin karena memikirkan keluarganya (sebab rizki yang sangat sempit), maka yang demikian itu bagi Allah Swt. lebih utama dari pada seribu kali sabetan pedang dimedan perang demi menegakkan agama Allah.

Memikirkan tentang pemenuhan keluarga saja melebih keutamaan berperan, apalagi bersungguh-sungguh mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Itulah jihad yang sesungguhnya dari para suami. Salah kaprah jika suami menelantarkan anak dan istri dengan alasan berjuang demi Allah.

*Tri wahyuningsih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here