Modus Pengiriman Uang Para Aktivis Underground (2-End)

0
63

Dalam rilis infografis yang saya terima, dari bulan Maret 2016 sampai dengan September 2017 terdapat 12 nama pengirim yang berasal dari 5 negara yang berbeda, masing-masing dari Trinidad Tobago sebanyak 6 kali, dari Maldives 2 kali, dari Jerman 2 kali, dari Venezuela 1 kali, dan dari Malaysia 1 kali. Total jumlah uang yang dikirim dalam kurun waktu tersebut sebanyak kurang lebih USD 28.000 atau sekitar Rp. 413 juta.

Dulu semasa saya sempat menjadi General Manager dari sebuah forum jihadi, kami biasa membayar sewa server atau domain melalui WU. Ada salah satu anggota tim yang memiliki identitas aspal yang biasa melakukan hal itu.

Lalu, apakah dua belas nama pengirim dan lima nama negara yang tercantum di atas adalah benar seperti itu adanya, ataukah merupakan permainan mereka dengan menggunakan data identitas aspal ?

Berdasarkan pengalaman saya bergaul dengan beberapa pemain ‘underground’, jawaban saya adalah : 99 % identitas yang mereka pakai itu aspal, sehingga data nama dan asal negara itu hampir pasti tidak sebagaimana tercantum dalam rilis itu.

Seorang kawan lama yang pernah menjadi aktivis dunia ‘underground’ sejak era carding sampai membobol server trading forex dan sudah meninggal dunia pernah menjelaskan kepada saya tentang bagaimana dirinya dan orang-orang di komunitas seperti dirinya itu menyiasati layanan transfer dana antar negara agar sedapat mungkin tidak terdeteksi oleh otoritas keamanan sebuah negara. Bagaimanapun, uang adalah darah bagi keberlangsungan aktivitas ‘underground’ mereka dan tak jarang menjadi mata pencaharian. Sedangkan layanan transfer uang itu ibarat urat nadinya. Mereka ini hampir pasti akan menghindari penggunaan rekening bank. Mengapa ?

Salah satunya karena : dalam dunia ‘underground’ mereka tidak tahu persis akan bertransaksi dengan siapa karena di dunia ‘underground’ semua menggunakan nama samaran, tidak pernah bertemu langsung, dan siapa saja bisa mengaku menjadi apa saja. Boleh jadi mereka akan bertransaksi dengan agen CIA, FBI, kepolisian setempat, dll yang menyamar.

Untuk itulah mereka kemudian memanfaatkan layanan seperti Western Union, Moneygram, dsb, yang sebelumnya mereka telah menyiapkan identitas aspal untuk keperluan mengirim dan menerima uang. Meskipun tidak sepenuhnya bisa menyelamatkan mereka dari pelacakan aparat keamanan, setidaknya akan sedikit merepotkan dan bisa menghindari deteksi dari lembaga semacam PPATK.

Atau jika ingin lebih merepotkan aparat keamanan lagi, bisa memanfaatkan agen perantara, yang menjadi perantara antara pengirim dan penerima. Jadi tidak langsung dikirim ke penerima, namun lewat perantara dulu. Memang ada biaya tambahan yang harus dikeluarkan, tapi hal seperti ini juga biasa dilakukan oleh para pemain ‘underground’.

Biasanya agen perantara ini berasal dari negara dengan tingkat resiko keamanan yang rendah, misalnya karena negaranya kurang peduli dengan kegiatan seperti itu atau teknologi yang dimilikinya masih rendah. Hal ini menguntungkan bagi ketiga pihak baik si pengirim, si penerima, maupun si perantara. Bagi pengirim dan penerima dengan adanya perantara yang ada di negara yang ‘lemah’ resiko mereka akan terlacak semakin kecil meskipun masih ada. Sedangkan si perantara beruntung karena mendapatkan uang atas jasanya itu.

Dari penjelasan di atas, kuat dugaan saya bahwa tercantumnya nama yang berasal dari negara-negara kecil seperti Trinidad Tobago, Maldives, Venezuela, sebagai negara asal uang yang mengalir ke jaringan ISIS di Indonesia, merupakan nama dan negara yang menjadi perantara, sedangkan pengirim aslinya bisa saja ada di Syiria, Irak, Libya, dst.

Atau bisa juga nama-nama itu memiliki paspor aspal dari negara-negara tersebut, di mana mereka mentransfernya tidak dari negara asal paspor itu melainkan dari salah satu negara di Eropa atau negara di mana pengirim itu tinggal. Karena sependek yang saya tahu memang seorang turis yang sedang berada di Indonesia misalnya, bisa mengirim uang melalui Western Union menggunakan identitas paspor. Dan di kalangan ‘underground’ sudah masyhur tersebar tentang adanya paspor-paspor dari beberapa negara yang mempunyai reputasi mudah diduplikasi.

Demikian sedikit ulasan dan analisa saya mengenai seluk beluk penggunaan layanan pengiriman uang di kalangan ‘underground’ yang saya ketahui. Semoga bisa menjadi pelajaran bagi kita semua.

Sumber: https://m.cnnindonesia.com/internasional/20150324092839-120-41357

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here