Parasit dan “Nasionalisme Masturbasif”

0
102

Pepatah lama mengatakan bahwa hanya orang bodoh yang jatuh dua kali ke dalam lubang yang sama. Ekstrimitas selalu melahirkan ekstrimitas baru. Selain ancaman radikalisme keislaman kita juga menghadapi ancaman nyata apa yang saya sebut sebagai gelombang nasionalisme “masturbasif.”

Memang benar bahwa secara diskursif jagad perpolitikan Indonesia kontemporer mengalami polarisasi narasi: narasi kebangsaan vs narasi keislaman (Hikayat Kebohongan, Heru Harjo Hutomo, islami.co). Pada perkembangan lebih lanjut, yang mungkin pula karena kepentingan tertentu, narasi kebangsaan beringsut ekstrim, berlebihan, menang-menangan, tak hirau yang lain alias “masturbasif.”

Mereka gegabah dan telah salah baca terhadap narasi keislaman. Bagi mereka, pada praktiknya, apa yang berbau “Islam” selalu dikaitkan dengan radikalisme. Pada tataran mindset mereka sebenarnya sama saja dengan kalangan yang oleh para akademisi disebut sebagai kalangan “Islamis.” Dua titik ekstrim itu, kubu kebangsaan dan kubu keislaman, bertemu pada sesat pikir yang sama bahwa “Islam” itu satu dan seragam—seperti tak ada varian, renik, atau bahkan ketegangan di dalamnya.

Kalangan kebangsaan ekstrim seperti tak butuh dasar dari agama untuk menjadi, katakanlah, seorang nasionalis. Logika sederhana mereka adalah cukuplah tak bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945. Mereka lupa bahwa agama di negeri ini adalah sebentuk modal sosial-kultural.

Tak mungkin dahulu negeri ini merdeka tanpa ada nilai-nilai keagamaan yang menggerakkannya. Kita tentu ingat fatwa jihad seorang KH. Hasyim Asy’ari yang tak langsung terberi sehingga melahirkan prinsip “hubbul wathan min al-iman.” Atau barangkali mereka tak pernah baca al-Qur’an tentang ayat yang mendukung logika bela negara? Atau mereka tak pernah kenal agama, bahkan non-muslim, hingga nahdliyin pun digebyahuyah tak ada bedanya dengan Muhammadiyah, FPI, HTI, IM, salafi wahabi dan salafi jihadi lainnya?

Baca Juga:  Hari Raya Kemanusiaan dan Kasih Sayang

Nasionalis ‘Masturbatif’ Itu Radikal?

Barangkali, mereka telah lupa pula pada sila ke-1 Pancasila dan UUD 1945 yang mengakui dan menjamin praktik dan nilai-nilai keagamaan. Taruhlah masalah jilbab, orang-orang yang mengklaim sebagai nasionalis ekstrim atau nasionalisme “masturbasif” dengan bodohnya sampai melarang pemakaian jilbab.

Perdebatannya sesungguhnya bukan pada jilbabnya atau tak berjilbab, tapi pada pemaksaannya, memaksa orang untuk berjilbab itu tak boleh dan memaksa orang untuk tak berjilbab juga tak boleh—keduanya sama sesat pikirnya, sama-sama bodohnya. Kadang saya berpikir, jangan-jangan kalangan yang menunjukkan nasionalisme ekstrim atau nasionalisme “masturbasif” hanyalah kalangan yang maunya enak sendiri, parasit, seperti orang yang tak kenal agama tapi ingin beroleh surga.

Ketika jatuh pada kesimpulan bodoh bahwa segala hal yang berbau Islam itu satu dan sama, kalangan nasionalis “masturbasif” setali tiga uang dengan kalangan Islam radikal. Ketika pun seandainya mereka berislam tak ada wajah lain yang tampak kecuali wajah radikalisme. Sesat pikir menentukan sesat tindakan, pola yang senantiasa berulang.

Apakah sulit enyahnya apa yang saya sebut sebagai populisme kanan yang menopang radikalisme keagamaan dan terorisme tersebab pula habitat—strukturisasi kebiasaan (the habbit)—untuk selalu membunuh karakter para ahli (the death of experts), untuk senantiasa dangkal dalam memahami dan menilai segala sesuatu laiknya pola pikir kaum wahabi—egalitarianisme yang membunuh, bukannya yang menumbuhkan (Era “Klambrangan,” Era Desas-desus, Heru Harjo Hutomo, alif.id)?

Nasionalisme Indonesia, seandainya hal ini ada, seperti apa kira-kira rumusannya? Saya ingat Soekarno yang butuh agama atau berangkat dari agama untuk merumuskan nasionalisme versinya: “ketuhanan dalam berkebudayaan.” Tak cukupkah hal ini untuk menampik gelagat parasit para pengikut nasionalisme “masturbasif”? Tak cukupkah hal ini untuk menyimpulkan bahwa nasionalisme Soekarno tak pula minim nilai-nilai keagamaan (religiositas)?

Baca Juga:  Beragama Berarti Menyayangi Sesama

Lantas, siapakah penggagas nasionalisme “masturbasif” tersebut? Mereka adalah kalangan yang dalam kurun tertentu pernah dimapankan oleh pola pikir populisme kanan. Selama pola pikir seperti ini dijadikan kebiasaan selama itu pula bangsa ini—entah warna apapun atau siapa pun pemenangnya—akan terus terjerumus ke dalam lubang kegamangan yang sama.

*Heru Harjo Hutomo, penulis lepas, mengembangkan cross-cultural journalism, menggambar dan bermusik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here