Memahami Ayat Muhkam dan Mutasyabih

0
101

 

 

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

 

“Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Quran) kepadamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”. (QS. Ali Imran, 03:07).

 

Ayat-ayat al-Qur’an, terdiri dari dua bagian, yaitu ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang memberikan informasi secara jelas dan mudah dipahami isinya. Sedangkan ayat mutasyabih adalah ayat-ayat yang sulit dipahami baik maknanya, ataupun maksud-maksud yang ditetapkannya. Ayat-ayat muhkamat jumlahnya jauh lebih banyak dari ayat-ayat mutasyabihat. Contoh ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang menjelaskan tentang hukum, tentang kepastian akidah, tentang hukum waris, dan sebagainya. Contoh dari ayat-ayat mutasyabihat antara lain, huruf-huruf abjad yang ada di awal beberapa surat al-Qur’an, seperti Alif Lam Mim, Alif Lam Ra’, Kaf Ha’ Ya’ ‘Ain Shad, dan sebagainya.

 

Ayat ini menjelaskan, bahwa sikap manusia terhadap diturunkannya ayat-ayat mutasyabihat tersebut ada dua macam, yaitu (1) orang-orang yang dalam hatinya terdapat penyakit kejiwaan, yang tidak menghendaki kebenaran, dan menjadikan ayat-ayat itu sebagai sarana untuk melakukan fitnah. Fitnah itu terus mereka sebarkan di berbagai kalangan dengan tujuan untuk mengacaukan masyarakat. Kelompok yang ke (2) adalah orang-orang yang memiliki ilmu yang sangat luas dan mendalam, mereka ingin mencari kebenaran dan hikmah dari ayat-ayat mutayabih tersebut dengan ilmu dan kemampuan yang dimilikinya. Apabila mereka tidak sanggup atau belum sanggup memahaminya, mereka berserah diri secara total kepada Allah s.w.t. sambil berdoa dan memohon petunjuk.

 

Mereka yang memiliki ilmu yang mendalam ini, adalah sering melakukan penelitian terhadap alam semesta dengan segala peristiwanya yang menakjubkan. Dari penelitian itu, mereka memahami kebenaran yang datangnya dari Allah s.w.t. dan dapat melahirkan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia, seperti sains dan teknologi. Ilmu itu terus berkembang dalam hidup dan kehidupan manusia, sehingga melahirkan karya-karya besar yang spektakuler, yang bermanfaat bagi umat manusia dari masa ke masa.

 

Mereka yang memiliki ilmu yang luas dan mendalam itu, selalu mendekatkan diri kepada Allah s.w.t., dan selalu memohon bimbingan dan hidayah-Nya, disebutkan ayat berikutnya:

 

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

 

“(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”. (QS. Ali Imran, 03:08).

 

Mereka memohon dan berdoa kepada Allah s.w.t. agar senantiasa dipelihara, dibimbing, dan diberi petunjuk. Mereka juga memohon kepada Allah s.w.t. agar tidak tergelincir ke lembah kenistaan dan tersesat dari jalan yang benar. Mereka selalu memohon petunjuk menuju kebahagiaan yang abadi, baik dalam kehidupan dunia maupun dalam kehidupan akhirat.

 

Orang-orang yang ilmunya luas dan mendalam, tergolong orang-orang yang paling bertakwa kepada Allah s.w.t.. Dengan ilmu yang dimilikinya, mereka akan memahami secara sempurna terhadap keagungan Allah s.w.t., dan tanda-tanda kebesaran-Nya yang ada dalam alam semesta yang berada di luar kita, yang disebut macro cosmos dan mereka juga memahami segala hal yang ada dalam dirinya yang menegaskan tentang keagungan ciptaan-Nya yang disebut micro cosmos. Selain memahami berbagai macam keagungan Allah dalam kehidupan dunia ini, mereka juga sangat memahami dan meyakini secara kuat tentang datangnya hari Akhirat. Semua manusia akan dimintai pertanggung jawaban tentang amal dan ibadahnya di dunia, pada saat mereka mengawali kehidupan di akhiratnya.

 

Selanjutnya mereka menyatakan keyakinannya tentang hari akhirat, sebagaimana disebutkan dalam ayat berikut ini:

 

رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَّا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

 

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji”. (QS. Ali Imran, 03:09).

 

Mereka yang ilmunya sangat mendalam itu, sangat meyakini tentang kehidupan hari akhirat. Hari itu merupakan hari pembalasan bagi setiap amal perbuatan manusia. Mereka yang berbuat baik akan dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda. Mereka yang tidak beriman dan berbuat keburukan akan memperoleh keburukan dan azab yang setimpal dengan aktivitasnya ketika mereka berada di dunia. Allah s.w.t. mengumpulkan semua umat manusia, untuk dimintai pertanggung jawaban atas amanah yang diberikan kepada mereka. Sebagaimana diketahui bahwa Allah telah memberikan amanah dan tugas kepada umat manusia sebagai khalifah agar mengelola alam ini bagi kesejahteraan semua makhluk. Setiap diri manusia akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat nanti, apakah ia melaksanakan amanat yang luhur itu, atau mengkhianatinya. Mereka yang melaksanakan amanat itu dengan baik akan meraih kebahagiaan yang hakiki dalam semua kehidupannya. Sebaliknya mereka yang mengkhianati amanat itu akan tercampakkan dalam kubangan kehinaan, baik di dunia apalagi di akhirat.

 

Dari tulisan ini, setidaknya dapat disumpulkan bahwa ayat-ayat dalam al-Qur’an terdiri dari dua bagian, yang paling banyak adalah ayat-ayat muhkamat, yaitu ayat-ayat yang mudah dipahami baik isi maupun maksdunya. Sebagian kecil dari ayat-ayat al-Qur’an itu terdapat ayat-ayat mutasyabihat, yang susah dipahami, baik isi maupun maksudnya. Mereka yang dalam hatinya terdapat penyakit kejiwaan sering menggunakan ayat-ayat mutasyabihat tersebut untuk menyebarkan fitnah dan kekacauan di kalangan masyarakat. Sebaliknya, orang-orang yang ilmunya sangat luas dan mendalam, akan berusaha memahami ayat-ayat itu dengan sungguh-sungguh, dan mengembalikannya kepada Allah s.w.t., apabila mereka belum atau tidak mampu memahaminya. Mereka yang beriman dan berilmu, akan melakukan berbagai penelitian terhadap alam semesta dengan segala peristiwanya untuk melahirkan karya-karya besar dan spektakuler, yang bermanfaat bagi hidup dan kehidupan umat manusia.

 

Oleh: Dr. KH. Zakky Mubarak, MA

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here