Budaya Literasi dan Semangat Pancasilais

0
40

Sumber : Harakatuna Indonesia belum sepenuhnya merdeka, sebagaimana yang dapat kita saksikan bahwa kondisi bangsa kita saat ini seperti ini adanya yang jauh dari esensi kata merdeka. Bangsa Indonesia sedang galau karena sejak era reformasi, pemerintah seperti kehilangan arah untuk menerapkan strategi penghayatan dan pengamalan nilai-nilai pancasila kepada rakyat sebagai ideologi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan baik. Kondisi itu ditambah lagi dengan berkembangnya zaman yang semua informasi dapat diakses dengan mudah, sedangkan teknologi informasi tersebut banyak digunakan oleh oknum-oknum yang mempropaganda paham-paham anti pancasila. Telah sekian lama pancasila “terasingkan” dalam kehidupan bangsa Indonesia, kini pancasila hanya menjadi dokumen sejarah dan menjadi “teks mati”, pancasila hanya tulisan yang tertempel di dinding-dinding ruangan dan hanya menjadi bacaan formalitas pada upacara pengibaran bendera. Tidak dapat dipungkiri jika generasi bangsa mulai tergerus oleh pengaruh oleh ideologi barat (liberal), ideologi komunis yang saat ini mulai muncul, dan ideologi radikal yang cenderung pada tindakan terorisme. Itulah sebab jika nilai-nilai pancasila tidak diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila diidentikkan dengan politik kekuasaan orde baru, sebuah pemahaman yang keliru bahkan salah kaprah karena pancasila merupakan ideologi dan falsafah negara yang digali dari warisan budaya bangsa oleh para pendiri NKRI. Sila-sila pancasila tercantum dalam alinea IV pembukaan UUD 1945 dan disahkan pada tanggal 18 agustus 1945. Maka, untuk menghidupkan kembali nilai-nilai pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, diperlukan gerakan-gerakan yang menyentuh semua lapisan masyarakat. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah melalui upaya gerakan literasi pancasila. Minimnya budaya literasi Sebuah penelitian melaporkan bahwa Indonesia dalam budaya literasi ditempatkan pada posisi 60 dari 61 negara. Itu artinya Indonesia setingkat lebih tinggi dari Botswana, sebuah negara miskin di Afrika. Penelitian di bidang literasi yang dilakukan oleh Central Connecticut State University di New Britain, Conn, Amerika Serikat, menempatkan lima negara pada posisi terbaik yaitu Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia (The Jakarta Post, 12 Maret 2016) Melihat data diatas nampaknya kita sebagai bangsa Indonesia khususnya generasi muda bangsa harus bekerja ekstra keras dalam membangun budaya literasi. Dalam konteks kekinian, budaya literasi menjadi hal yang urgent untuk kemajuan suatu bangsa. Makna literasi sendiri kini harus dikembangkan lagi, bukan hanya tulis-menulis tapi juga melek teknologi, bersikap kritis logis, peka terhadap situasi bangsa. Dengan berbekal kemampuan tersebut, maka negara Indonesia akan menjadi lebih baik dalam pengembangan di berbagai sektor. Penulis sangat mengapresiasi strategi dalam menumbuhkan kembali semangat budaya literasi yang mulai digalakkan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Korkom Walisongo, Cabang Semarang. Bertepatan hari pahlawan 10 November 2017 dengan penuh semangat kepahlawanan, pengurus HMI Korkom Walisongo mengadakan perlombaan menulis artikel yang mengusung tema “Semangat Hari Pahlawan: Jihad Mengawal dan Mengamalkan Pancasila”. Sebuah inovasi cemerlang dan strategi jitu dari generasi muda dalam pembangunan budaya literasi sangat diharapkan bagi bangsa. Membumikan Pancasila Kondisi saat ini memang sangat menghawatirkan dimana masyarakat yang jangankan memahami, menghayati, apalagi mengamalkan nilai-nilai pancasila, bunyi sila-sila dan lambang pancasila saja tidak hafal. Memang menghafal tidak terlalu penting khususnya para lansia yang ingatannya tak lagi sempurna. Tapi logikanya, jika teks pancasila saja tidak hafal lalu bagaimana dapat bersikap dan berlaku sesuai ninai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Ironis memang, negri ini telah dikuasai dan dipimpin oleh orang-orang “ngawur” dalam mengambil suatu kebijakan. Belum lama dan mungkin masih terngiang di telinga kita bahwa ada kasus orang yang “iseng” menghina pancasila malah diangkat menjadi duta pancasila, ada juga foto-foto pemuda yang sempet viral di media sosial yang menduduki patung pahlawan. Kasus seperti ini terlihat sepele, tapi sangat membahayakan bagi bangsa karena generasi muda saat ini mengalami kemerosotan moral, bahkan mencapai titik terendah dengan kata lain kehilangan identitas. Maka dari itu semangat membangun kembali budaya literasi, melalui gerakan-gerakan literasi pancasila dapat memberikan dampak baik bagi masyarakat indonesia dalam pengetahuan dan pemahaman tentang nilai-nilai pancasila, sehingga masyarakat dapat menghayati, mengamalkan, serta melestarikan nilai-nilai pancasila dalam keidupan sehari-hari. Upaya ini akan terealisasi dengan melibatkan semua pihak untuk selalu menyadari akan pentingnya ideologi pancasila bagi kemajuan bangsa Indonesia. Rendahnya pemahaman masyarakat khususnya generasi muda harus menjadi perhatian bersama terutama pemerintah dalam menentukan dan memutuskan suatu kebijakan baiknya didasari dengan kemaslahatan rakyat, melalui sistem pendidikan yang mengembalikan semangat kewarganegaraan seperti bela negara dan juga penanaman nilai-nilai pancasila dalam jiwa generasi muda bangsa adalah tugas kita bersama. Momen hari pahlawan 10 november ini mari kita bangun kembali semangat budaya literasi untuk mewujudkan masyarakat yang “kembali” pada ideologi pancasila sehingga dapat bersikap pancasilais. Wallahu A’lam Bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here