Pancasila Era 4.0 Kebangkitan atau Terlupakan

0
114

Secara bentuk Pancasila itu adalah “ideologi” yang berarti cara berpikir dan bertindak atas suatu ide. Kita asumsikan seorang sahabat yang tidak sejati (mau fasilitas doang), ketika sahabatnya sakit teman ini banyak alasan dan tidak perduli. Tetapi seorang sahabat yang sejati pasti akan datang ketika mengetahui sahabatnya sakit. Kata kunci dari persahabatan itu adalah “kesejatian/kemurnian”.

Itulah idea, prinsip hidup yang mewarnai hidup seseorang. Dimana sahabat sejati adalah tolong menolong, sementara sahabat ” pura-pura” saat senang ingin bersama saat susah tidak mau memberi bantuan.

Demikian pula dengan Pancasila sebagai pondasi negara yang berbentuk ideologi. Seandainya berbicara tentang pondasi bangunan rumah, kita cukup mencampur semen dengan kualitas terbaik, memberi rangka besi berkualitas dan campuran pasir terbaik, maka pondasi itu akan menjadi dasar yang kuat untuk menopang bangunan dari terpaan angin yang kuat.

Masalahnya, memasukkan ide Pancasila kedalam benak seseorang agar menjadi seorang Pancasilais yang menjadikan warga negara menjadi lebih baik, tidak semudah memasukkan semen dan besi kedalam cetakan pondasi. Perjalanan pembentukan karakter seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan sekelilingnya dan cara menanggapi setiap ide yang diterimanya.

Secara internal, tabir penghalang itu dapat berupa kebosanan, kejenuhan, ketidak nyaman dalam mendengar apalagi mempelajari ideologi Pancasila. Secara rasional orang lebih suka mendengar kata motivasi yang dapat menghasilkan profit, mendengar lagu yang dapat membuat fresh atau belajar suatu ilmu pengetahuan yang dapat memudahkan kehidupannya sehari-hari.

Dengan kata lain tidak ada waktu untuk Pancasila, apa lagi pada era revolusi industri 4.0 ini. Orang-orang berpacu dalam waktu untuk beriklan mencari orderan sebanyak mungkin, berpacu menyiapkan pesanan dan mengirim orderan secepatnya.

Satu dengan yang lain lebih banyak berinteraksi melalui mesin (handphone), industri e-commerce yang berkembang ditengah masyarakat bawah hingga atas membutuhkan dan menyita banyak waktu untuk berpikir dibanding pergerakan tubuh. Alhasil suatu kegiatan diluar pekerjaan tidak disukai guna mendapat refreshing mental agar memperoleh waktu senggang lebih banyak.

Sejak tanggal 18 Agustus 1945 Pancasila disahkan sebagai dasar negara indonesia merdeka. Didalam perisai burung garuda pun kelima sila menjadi 5 kekuatan yang menangkal, menahan dan menghalau setiap kekuatan yang hendak mengancam negara Indonesia. Pastinya ke 5 sila ini sudah melalui pembahasan panitia sembilan perumus Pancasila yang digali dari pidato Sukarno pada tanggal 1 Juni 1945.

Panitia Sembilan (terdiri dari Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Mr. AA Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Abdul Kahar Muzakir, Agus Salim, Achmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Mohammad Yamin).

Jelas mereka adalah para cendekiawan kritis pada masa awal persiapan kemerdekaan, menyadari betapa pentingnya dasar negara yang dapat menampung aspirasi banyak suku (1340) dan banyak bahasa (1001). Dasar negara juga berarti fondasi yang harus tertanam kuat guna menahan pilar-pilar penyangga kekuatan negara Indonesia agar tetap tegak.

Bayangkan seandainya pondasi ini dibangun diatas pasir, maka tidak akan pernah pilar berdiri kokoh menahan terpaan angin yang semakin hari semakin besar.

Memasukkan ideologi Pancasila berupa pelatihan, dikhawatirkan akan membenam di dalam benaknya selama masa pelatihan saja. Begitu mereka kembali pada kehidupan sehari-hari, berpacu dengan waktu, berpikir untuk mengejar target produktifitas, menghadapi permasalahan kerja maka pelatihan yang baru melekat itupun rontok berkeping-kepng. Jelas pada era 4.0 ini, kemampuan individu sangat menentukan pasar industri yang tentunya berpangaruh kepada egosentris.

Namun Pancasila adalah rahmat Tuhan yang maha kuasa yang turun di bumi Indonesia, Pancasila adalah ideologi yang mampu merekatkan kebinekaan yang ada di Indonesia.

Pemerintah harus mencari jalan agar Pancasila dapat masuk, dan hidup di dalam hati rakyat, harus lebih dikagumi dan lebih dipercaya. Tentunya titik nol kebangkitan itu, haruslah dari pemerintah sendiri.

Membangun aparatur yang bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme, maka opini yang baru pun akan muncul bahwa pemerintah adalah pelindung dan pengayom yang membanggakan rakyat, semoga.

credit : kompasiana.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here