Iman yang Menakjubkan

0
93

Pernahkah kita, sebagai umat muslim, bertanya-heran dalam diri. Mengapa percaya kepada kebenaran Islam yang dibawa oleh Rasul-Nya, sementara kita tidak hidup sezaman dan bertemu langsung dengan Nabi Muhammad Saw? Pertanyaan ini penting direfleksikan sebagai penguji iman.

Bahwa jika seorang sahabat (orang yang bertemu langsung dengan Nabi Muhammad Saw.) beriman kapada Allah dan rasul-Nya, itu hal wajar karena hidup sezaman dengan Nabi dan menyaksikan langsung kebenaran itu. Begitu pula dengan generasi setelah sahabat, atau lazim disebut tabi’in dan tabi’ al-tabi’in,masih dekat dan bahkan pernah berinteraksi langsung dengan para sahabat, sangat wajar jika memercayai kebenaran Islam itu.

Bagaimana dengan kita, yang jarak generasinya sangat jauh dengan Rasulullah, sahabat, tabi’in,dan tabi’ al-tabi’in, namun masih setia dan percaya tentang kebenaran Islam? Refleksi terhadap pertanyaan ini mengingatkan pada kisah atau dialog Rasulullah dengan para sahabatnya.

Dirindukan Rasulullah

 

Dikisahkan bahwa ketika para sahabat sedang berkumpul, Rasulullah Saw. menangis amat dalam, hingga tetes air matanya membasahi janggutnya. Nampak pada wajahnya sebuah pancaran kerinduan yang amat sangat pada seseorang.

“Apa yang membuatmu bersedih, ya Rasulullah?”, tanya para sahabat. Rasul menjawab, “Aku sedang merindukan sahabat-sahabatku”. Sahabat terdiam. Saling berpandangan. Kemudian mereka berkata lagi, “Bukankah saat ini kami ada di dekatmu, yaa Rasulullah?

Baca Juga : Amalan Rasul Bernama Istighfar

Rasul mendongak. “Bukan kalian yang aku maksud”, ujarnya lirih. Sahabat menjadi terheran bingung. “Jika bukan kami,” ujar para sahabat lagi. “Lalu siapa yang engkau maksud, ya Rasulullah, hingga engkau merindu begitu mendalam terhadap mereka. Sungguh mulia dan berbahagialah mereka karena mendapatkan kerinduan dan cintamu”.

“Kalian adalah sahabatku yang aku mencintai kalian dan kalian juga mencintaiku, kalian tinggal dan hidup bersamaku, berjuang bersamaku dan telah berkorban banyak untukku”.

“Mereka begitu mencintaiku seperti kalian mencintaiku. Mereka sholat seperti aku sholat, mereka berhaji seperti aku berhaji, mereka makan dan minum seperti aku makan dan minum, mereka berpakaian seperti aku berpakaian. Mereka menjalankan semua tuntunanku dalam ketaatan dan cinta. Sungguh aku amat merindukan perjumpaan dengan mereka, kelak di yaumil akhir aku baru bisa berjumpa dengannya”.

“Sahabat yang aku rindukan tadi adalah umatku di masa yang akan datang. Mereka tak pernah berjumpa denganku, tak pernah belajar langsung dariku, kecuali dari para ulama-ulama mereka”.

Karakter iman kita, yang disindir oleh Rasulullah Saw. di atas itu disebut sebagai a’jab al-iman(iman yang menakjubkan). Dan Rasulullah bangga serta merindukan kita ini, sebagai generasi yang menyandang predikat a’jab al-iman.

Kisah itu, dalam riwayat lain, sebenarnya diawali oleh prolog Rasulullah yang menanyakan tentang man huwa a’jab al-iman (siapakah orang yang memiliki karakter iman yang menakjubkan)? Para sahabat seketika menjawab, malaikat. Sebagian lain menjawab, sahabat.

Mendengar jawaban para sahabat, Nabi tidak menyalahkan, namun jawaban itu dianggap kurang tepat dan tidak seperti yang diinginkan olehnya. Menurut Nabi, malaikat memiliki ketaatan yang hebat kepada Allah sangatlah wajar karena sebagai makhluk yang paling dekat dengan-Nya, juga tidak memiliki nafsu kemungkaran. Begitu pula dengan sahabat, yang sangat wajar beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, karena memperoleh informasi langsung dari Nabi.

Tetapi, kata Rasulullah Saw., generasi yang hidupnya jauh dari zamanku bersama kalian (sahabat), mereka mau membenarkan Islam, mengimani Allah dan Rasul-Nya hanya berdasarkan informasi dari sumber tertulis al-Qur’an dan hadis, mata rantai para ulama, maka itulah yang sebenar-benarnya a’jab al-iman.

 

Jadi, kita ini, oleh Rasulullah Saw. telah sejak lama dipuji dan dirindu bertemu pada saatnya nanti. Semoga.

*Ali Usman, aktivis sosial, pengurus Lakpesdam 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here