Untuk Apa Beragama, Jika Mengkerdilkan Kemanusiaan

0
119

Dibawah Ketuhanan (Tauhid) seharusnya adalah kemanusiaan, baru setelah itu Agama. Tuhan lebih dulu menciptakan Manusia sebelum Dia kemudian memberikan ajaran-ajaran agama. Jika agama mengesampingkan kemanusiaan, berarti ia menolak konsep ketuhanan sesungguhnya, sebab agama tercipta untuk kemanusiaan.

 

Maka, kira-kira gambaran kecilnya begini :

Kotak yang kecil itu aku sebut sebagai Islam, lebih besar diatasnya adalah Agama, lebih besar dari Agama adalah Kemanusiaan, Tauhid ditopang oleh kemanusiaan. Namun semuanya berada dalam lingkup Tuhan Semesta Alam (Rabbi al-Alaamin)

 

Mereka yg sering berdebat soal Hukum-hukum syariat Agama, Dosa dan Pahala, Surga dan Neraka tetapi menolak memanusiakan manusia, melakukan kekerasan dan dosa atas nama agama, sesungguhnya mereka lah yang tersesat, mereka yang melakukan kerusakan-kerusakan dimuka bumi. Jangan mengira bahwa kerusakan yang disebutkan dalam alQuran hanya pada konteks Alam secara fisik, tetapi juga kerusakan tatanan hidup bermasyarakat.

 

Untuk mempelajari nilai-nilai kemanusiaan, Islam paling depan memberikan tuntunan agar saling hormat dan menghormati, tenggang rasa, gotong royong dalam kebaikan dan saling mengingatkan dengan cara yang baik dan lain sebagainya.

 

Tetapi hanya karna wawasan pengetahuan kita baru pada batas Syariat dan aturan-aturan hukum yang dipahami sebisanya, maka kita cenderung merasa paling Tahu dan merasa mewakili Tuhan dimuka bumi. Padahal al Gazali secara tegas mengingatkan bahwa Tujuan ditetapkannya Syariat (Maqasid al Syar’i) adalah untuk melindungi nilai-nilai kemanusiaan dan menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia.

 

Lantas, apa gunanya Agama jika mengkerdilkan kemanusiaan? Justru hanya karna kesadaran beragama, seseorang seharusnya semakin menghormati orang lain baik seiman atau tidak, memuliakan sesama, menolong dan saling tenggang rasa. Agama menjadi dasar pijakan agar kita selalu memanusiakan manusia.

 

Kemudian, tahapan yang harus dipahami sebelum mencapai drajat keilmuan yang lebih tinggi itu masih teramat jauh, aturan dan dasar-dasar hukum syara’ adalah pengantar untuk benar-benar mengerti maksud dan tujuan Tuhan menciptakan manusia, maka jika terdapat hukum syariat yang menyebabkan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan, seperti Hukuman mati (Qishash) tentulah memerlukan pertimbangan yang lebih kompleks dengan prisip kehati-hatian dan kepasrahan kepada Tuhan. Namun faktanya, orang merasa benar dan bahkan menghalalkan darah sesamanya.

 

Merekalah, sebenarnya orang-orang yang jauh dari rahmat Tuhan, tersesat dalam pemahaman syariat yang salah, menjadi kebanggaan Iblis dan seangkuh Tuhan serta merasa paling benar tetapi kurang meyakini kebenaran Tuhan dalam hatinya.

 

Al-Quran kita, diawali dengan kalimat “al-Hamdulillaahirabbil ‘aalamiin” (Segala puji bagi Allah Tuhan sekalian Alam). Dari sini saja seharusnya kita bisa memahami, bahwa Allah adalah Tuhan semua Mahluk tanpa terkecuali termasuk bagi mereka yang menentang kebenaran Allah, tetap Allah tuhan Semuanya, mengasihi dan menyayangi hamba-hambanya. Tidak mampukah kita sebagai Hamba bersikap secuil saja dari sikap kasih dan sayang Allah?

 

Maka biarlah pelaku dosa besar Allah yang menghakimi, ingatan dan nasihat dari kita dijadikan sebagai ajang mengingatkan dirisendiri tanpa ikut-ikutan menghakimi apalagi melakukan tindakan-tindakan diluar batas. Padahala kita sesama hamba yang sama-sama berlumuran dosa dan kenistaan

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here