Perdamaian di Ruang Perbedaan dengan Pancasila dan Berkoplo

0
57

Sumber : HarakatunaSejatinya perbedaan merupakan fitrah manusia sebagai mahkluk hidup. Baik berbeda suku bangsanya, agama, etnis dan ras. Perbedaan telah dijelaskan dalam al-Qur’an surat al-Hujurat ayat: 13. Akan tetapi, perbedaan tidak boleh menjadi halangan terciptanya kasih dan sayang antara sesama manusia. Karena yang terjadi akhir-akhir ini justru sebaliknya. Perbedaan membuat manusia terpecah belah dan saling bermusuhan. Saling menghakimi satu di antara lainnya, menciptakan persepsi salah dan benar, memandang perbedaan dengan sudut pandang hitam putih. Padahal dalam kitab suci al-Qur’an sudah dijelaskan lewat surat al-Hujurat ayat 13, perbedaan merupakan fitrah manusia dan yang paling mulia di sisinya adalah yang paling bertaqwa. Penulis kira tidak ada agama yang mengajarkan pemeluknya untuk berbuat kekerasan, meskipun manusia diciptakan berbeda-beda. Karena agama merupakan manifestasi kasih sayang Tuhan terhadap hambanya. Agama diturunkan untuk dijadikan pedoman bagi pemeluknya supaya jangan sampai tersesat dalam mengarungi bahtera kehidupan dunia ini. Tidak hanya mengajarkan bagaimana cara pemeluk agama menyembah Tuhannya. Akan tetapi, bagaimana cara manusia berinteraksi dengan sesama manusia dan makhluk hidup lain juga menjadi pembahasan penting dalam agama. Apalagi tahun 2018 kali ini merupakan tahun politik. Kerap kali agama dan perbedaan dijadikan ladang basah untuk berpolitik. Tidak jarang pula isu-isu SARA juga dilibatkan. Contoh riilnya yakni ketika Pilkada DKI Jakarta tahun 2017  dan pemilihan presiden 2014 lalu. Agama bahkan ayat suci al-Qur’an dijadikan alat untuk politik. Pancasila  dan Koplo sebagai Lem Perekat Setelah berbicara panjang lebar tentang perbedaan, penulis ingin kembali mengingatkan urgensi pancasila sebagai perekat bangsa dan negara kita. Sudah berpuluh tahun lamanya kita berpancasila dengan mengalami pasang dan surut. Sudah tak terhitung berapa kali ancaman yang hendak menghancurkan keragaman bangsa ini. Ancaman itu bisa lewat dimensi sosial, budaya, sosial, ekonomi dan politik. Marilah kita kembalikan lagi pancasila ke negeri kita sendiri. Karena di zaman sekarang ini pancasila kerap dilupakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Justru akhir-akhir ini muncul kelompok yang ingin mengganti ideologi pancasila dengan ideologi lain. Ideologi tersebut cenderung eksklusif dan anti terhadap perbedaan. Tentu kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh tinggal diam. Reaktualisasi kembali pancasila dalam konteks kehidupan sekarang sangatlah penting. Karena sepertinya kita mulai lupa dengan pancasila. Yang lebih parahnya kita tidak hapal dengan pancasila. Bahkan di era sekarang ini popularitas dan pengamalan pancasila telah kalah dengan dangdut koplo. Bagaimana mungkin? Tidaklah lebay apabila penulis katakan demikian. Marilah kita melihat realitas yang terjadi. Di tv-tv, radio-radio, koran-koran hingga media-media daring  semua asyik menampilkan keasyikan serunya ber-koplo ria. Meskipun demikian, gemerlap dan ketenaran dangdut koplo tidaklah sepenuhnya negatif. Kita saksikan ribuan hingga puluhan ribu orang  bisa berkumpul bersama, tanpa melihat suku, agama, ras dan etnisnya. Semua tumpah ruah berkumpul di satu tempat. Berjoget ria. Tidak peduli yang sebelumnya tiap-tiap orang punya masalah masing-masing, misalnya punya utang, ditolak pacar, diputusin pacar, gajian nunggak, lagi berantem sama istri, hingga sampai yang tidak punya duit semua berjoget ria bersama. Masalah mendadak hilang. Kama qola (Seperti katanya) Cita-citata, “ayo goyang dumang, biar hati senang, pikiran pun tenang, galau jadi hilang, ayo goyang dumang, biar hati senang, semua masalah jadi hilang.”  Berkaca lewat dangdut koplolah seharusnya kita berpancasila dan berkehidupan berbangsa dan negara. Berkoplo merupakan cara masyarakat desa dan pinggiran melepas penat. Berkoplo merupakan cara masyarakat pada umumnya untuk berkumpul, bersama-sama, bersatu dengan rukun dan damai tanpa pandang agama, suku, etnis dan ras. Jika selama ini dangdut koplo identik dengan kerusuhan dan pertengkaran, itu hanya segelitir yang disebabkan oleh sebagian orang atau oknum yang tidak bertanggung jawab. Bisa juga karena mereka dalam pengaruh miras. Jadi, penulis tekankan kembali bila perbedaan itu merupakan fitrah. Apalagi kita hidup di bumi Indonesia yang terdiri dari beribu-ribu pulau, berbeda-beda bahasa,  budaya, suku, ras dan agama. NKRI merupakan harga mati. Pancasila merupakan dasar negara yang sudah disepakati oleh founding father kita yang telah teruji berpuluh-puluh tahun lamanya. Dan yang terakhir jangan lupa berkoplo ria agar hidup tidak spaneng. Karena spaneng menyebabkan pola berpikir ekstrim. Dan berpikir ekstrim berbahaya bagi kesatuan, persatuan dan perdamaian bangsa kita. Ingat ya!! Ahmad Solkan, penulis adalah alumni PP at-Taslim Soditan Lasem Rembang dan saat ini melanjutkan kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta serta aktif di LPM Paradigma UIN Sunan Kalijaga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here