Demokrasi dan Generasi Milenia

0
131

Generasi milenial merupakan kelompok penting dan utama dalam demokrasi Indonesia saat ini, khususnya yang berkaitan dengan aktifitas mereka di ragam media sosial (medsos). Karakter muda atau milenial sangat potensial dalam memajukan demokrasi yang tengah berlangsung. Sebab, mereka memiliki semangat yang sangat tinggi (emosional), berpikir besar dan memiliki mimpi yang besar pula.
Karakter milenial mempunyai banyak sikap positif dalam beberapa hal antara lain, bekerja cepat, suka perubahan dan kreatif-inovatif, artinya suka mengadopsi nilai-nilai atau sesuatu yang baru, fairness, artinya mereka segera mengakui kesalahan apabila merasa salah, baik terungkap atau tak terungkap dan segera mengoreksinya, heroisme sekaligus ‘Megalomania.’
Sisi minus atau negatifnya adalah karena suka melakukan sesuatu secara cepat, karakter milenial cenderung tergesa-gesa dan mengambil suatu keputusan tanpa analisa mendalam, karena instan. Generasi milenial cenderung mudah galau (melodramatik), cepat putus asa, kurang mau mendengar, kurang mendalam tingkat analisisnya, kurang pengalaman, kurang bijaksana terhadap situasi dan kondisi yang dihadapinya, serta mudah terpengaruh lingkungannya baik lingkungan sosial sekitarnya maupun lingkungan medsos.
Misalnya, terpengaruh tontonan di Youtube, terpengaruh ceramah-ceramah yang provokatif oleh sosok orang yang mengaku pandai atau paham agama. Karena kurang ilmu dan pengalaman tadi, generasi milenial mudah tervirusi ajakan-ajakan yang cenderung provokatif yang diajarkan “pendakwah” di Youtube. Misalnya, ajakan untuk memusuhi dan menghina agama orang lain, bahkan paham orang lain meski masih satu akidah atau seagama.
Sekali lagi, karena kurang pengalaman dan pendalaman ilmu (dalam hal ini ilmu agama), maka generasi milenial sangat mudah membenci bahkan memerangi orang lain yang dianggap tidak sesuai dengan pandangan mereka. Sesungguhnya yang terjadi adalah mereka memahami agama hanya berdasarkan teks semata tanpa melihat konteks (asbabun nuzul) atau substansi dari ayat-ayat dan ajaran agamanya. Mereka lupa inti dari ajaran agama itu sendiri, yaitu kasih sayang (rahmatan lil ’alamiin).
Contoh lainnya, dalam konteks kehidupan demokrasi yang tengah kita jalankan di republik tercinta ini,yang sudah barang tentu di dalam berdemokrasi pasti terjadi pro dan kontra. Dengan karakter minus dari generasi milenial tadi, mereka tidak mau mendengar pendapat atau pandangan dari kelompok yang mereka anggap kontra dengan mereka. Mereka hanya mau mendengar dan menerima pandangan yang pro dengan mereka saja.
Seolah-olah, kebenaran itu hanya berdiri sendiri dan mutlak, padahal di dunia ini tidak ada kebenaran yang mutlak. Sebab, yang mutlak hanyalah Tuhan Yang Maha Esa saja dengan segala ke-Maha-annya. Padahal, dalam konteks demokrasi, agama, budaya, dan lain-lain, semuanya berhubungan atau berhadapan dengan manusia (dealing with people). Dan, manusia merupakan tempatnya salah dan lupa (khilaf). Artinya, kebenaran seseorang tentu dibatasi oleh kebenaran orang lainnya.
Lantas pertanyaanannya kemudian, bagaimana seharusnya generasi milenial harus bersikap dan bertindak di zaman modern seperti sekarang ini (zaman now), zaman atau era kemajuan teknologi informasi (IT)? Dulu, generasi sebelum milenial selalu diajarkan suatu istilah atau sikap alon-alon asal kelakon yang artinya pelan-pelan asal terlaksana, biar lambat asal selamat. Apakah ajaran ini sesuai dengan karakter dasar generasi milenial? Jawabannya bisa iya bisa tidak. Kita tahu, karakter milenial ingin segala sesuatunya serba cepat.
Maka istilah alon-alon asal kelakon bisa saja kita padukan dengan karakter milenial, yakni cepat asal kelakon, artinya biar cepat tapi pasti dan tetap selamat. Bagaimana caranya?
Pertama, generasi milenial harus mempunyai sifat selektifitas, terutama selektif terhadap informasi-informasi yang berkembang utamanya informasi di dunia maya yang belum terverifikasi benar atau salah, pas atau tidak pas, baik atau buruk, atau masih samar-samar, perlu check and balancingatau check and richeck. Sehingga, tak mudah termakan provokasi isu pecah-belah, dan hoaks apalagi isu-isu murahan. Atau sebaliknya, jangan sampai kebanyak informasi malah jadi bingung sendiri.
Kedua, generasi milenial harus membekali dirinya dengan skill (sesuai dengan minat-bakatnya), gunanya untuk menyeleksi informasi yang dibutuhkan.
Ketiga, generasi milenial perlu menanamkan serta mengembangkan sikap bijaksana dan ketenangan dalam menghadapi situasi yang berkembang serta menyaring informasi yang beredar. Dengan bahasa lain, tidak gampang emosional dan hanyut menanggapi isu yang berkembang terutama isu sentimen suku, agama, ras dan antar-golongan (SARA) dan isu pecah-belah lainnya.
Penulis adalah Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB), menulis beberapa buku di antaranya: “Ideologi Kaum Fundamentalis: Menjawab Persoalan Kagalauan Agama Dan Negara” (2018) dan “Ironi Demokrasi: Menyibak Tabir dan Menggali Makna Tersembunyi Demokrasi” (2019).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here