Rapor Merah Hizbut Tahrir

0
125

Khilafah, sebuah sistem Negara berdasarkan syariat Islam yang kini kerap digaungkan oleh kelompok-kelompok ekstrimis kanan dengan dalih Jihad. Salah satu diantara sekian banyak kelompok tersebut bernama Hizbut Tahrir. Ia didirikan oleh Taqiyuddin al-Nabhani tahun 1953 setelah kecewa dengan Ikhwanul Muslimin karena ikut andil dalam melakukan kudeta hingga berhasil mengantarkan Gamal Abdel Nasser berkuasa.

An-Nabhani curiga bahwa Ikhwanul Muslimin tidak serius dalam memperjuangkan Syariat Islam, akhirnya Ia merintis sebuah gerakan yang bernama Hizbut Tahrir atau Partai Pembebasan. Sesuai namanya, maksud dari dibentuknya partai ini untuk membebaskan Negara Palestina dan Yordania dari dinasti Hashemite. Ia juga ingin membebaskan seluruh Negara dan membentuknya kembali di bawah system tunggal Khilafah Islamiyah.

Sayangnya seruan Khilafah yang digaugkannya tersebut masih bersifat absurb, konyol. Bagaimana tidak, mereka mengutamakan akal di atas Al-Qur’an dan Sunnah, memperbolehkan seorang perempuan menjadi Qad’i, memperbolehkan orang kafir mengqisash orang Muslim dan bahkan mengatakan bahwa berjabat tangan dan berciuman dengan wanita asing diperbolehkan. Tentu saja ini ajaran yang sangat menyimpang daripada Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah.

Ulama dan Hizbut Tahrir

Ulama di dunia beramai-ramai menolak Hizbuth Tahrir karena dianggap ajarannya amat melenceng dan menyesatkan. Akidah mereka hampir-hampir menyerupai kaum Mu’tazilah Wahabiyah. Tentu saja tuduhan ini bukan tanpa dasar. Ia juga kerap andil dalam beberapa kudeta, pembunuhan dan terorisme.
Menarik sebenarnya mengulas terkait keterlibatan Hizbut Tahrir dengan sel-sel terorisme Internasional seperti ISIS. Tak bisa dipungkiri memang anggota HT beberapa terlibat dalam jaringan terorisme Internasional. Namun kendati begitu, HT sangat lihai dalam strategi ‘Cuci tangan’ seolah mereka tak mengenali si terdakwa.

Di buku “Catatan Hitam Hizbut Tahrir” karya Mohammad Nuruzzaman ini, anda akan disodorkan beberapa data tentang bagaimana kesesatan pemikiran HT, sejarah sejak ia lahir hingga ditolak bahkan dibubarkan di beberapa Negara di dunia, serta rapor merah Hizbut Tahrir. Sayangnya penulis tidak banyak mencantumkan seluk beluk Hizbut Tahrir di Indonesia sejak lahir hingga pembubannya dan juga playing victimnya di media-media. Kendati begitu, buku ini sangat menarik untuk dibaca, dipahami dan sedikit menjadi referensi kita dalam menolak gerakan HT.

Baca Juga:  Auto Kafir, Auto Munafik dan Tudingan Sepihak Para Netizen

HT identik dengan kekerasan. Sang Muassis dalam bukunya ‘System of Islam’ mengatakan bahwa setiap ada hambatan fisik, maka mungkin ditempuh dengan cara kekerasan. Sebab itulah ia kerap bergabung di jaringan-jaringan kekerasan dan terorisme dengan dalih meneggakan Khilafah yang masih Absurb tersebut.

Rapor Hizbut Tahrir di Indonesia

Di Indonesia sendiri Hizbut Tahrir (HTI) sejak awal pndirian ormas sudah ‘Ngawur’. Izin mereka mendirikan Partai, namun ternyata yang terjadi bukanlah demikian. Ia justru mengklaimkan diri sebagai Organisasi Masyarakat seperti NU dan Muhammadiyah. Beberapa kali ia menunggangi demonstrasi mansyarakat dengan membumbui Agama sebagai latar belakangnya, namun kemudian ia cuci tangan begitu saja. HTI juga memecah-belah dan mengadu-domba sesama umat muslim atau sesama Bangsa Indonesia. Sejak awal berdiri, ia sudah berkhianat dengan mengatakan bahwa Indonesia Darul Kufr (Negara Kafir/tidak berpedoman pada syariat Islam), padahal ia sendiri acapkali berlindung dibalik dalih-dalih yang selalu ia kafir-kafirkan.

Pemerintah jelas melarang dan membubarkan organisasi teroris ini. Namun tetap saja hingga detik ini mereka tetap beroperasi dan mendoktrin kalangan muda-mudi Indonesia supaya ikut serta berjuang. HTI bergabung dengan ormas-ormas Islami seperti FP dan HASMI. Bisa dikatakan, HTI adalah gerakan illegal yang sangat lihai dalam bermetamorfosa dan berkamuflase. Indonesia harus waspada dengan gerakan, ajaran dan pemikiran mereka yang amat berbahaya dan menyesatkan ummat manusia.

Vinanda Febriani, mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Sumber : Harakatuna

#muslimsejati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here