Pancasila Pagar Betis Radikalisme

0
189

Indonesia adalah negara besar dengan berbagai keragaman didalamnya. Meliputi keragaman adat, budaya, kesenian, suku, agama, ras dan budaya. Keragaman inilah yang seharusnya membuat bangsa ini menjadi bangsa yang besar karena indahnya perbedaan, bukan bangsa yang tercerai berai karena keaneka ragaman.
Tentunya kita sebagai rakyat Indonesia masih ingat betapa beratnya perjuangan para pahlawan dalam mencapai kemerdekaan bangsa. Selama 350 tahun negeri ini dijajah oleh Belanda. Penjajahan di Indonesia tak berhenti sampai di situ. Seolah keluar dari mulut harimau masuk ke mulut buaya.  Tanggal 11 Januari 1942, adalah awal Jepang memijakkan kaki di bumi pertiwi. Di wilayah Tarakan, Kalimantan timur saat pertama Jepang menaklukkan salah satu wilayah Indonesia.
Pada tanggal 8 Maret 1942, saat itulah Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Dan babak baru sejarah penjajahan Jepang di Indonesia dimulai. Seumur jagung, yaitu selama 3,5 tahun Indonesia di bawah jajahan Jepang.
Sampai tiba waktunya, yaitu tanggal 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada Sekutu. Inilah awal terbukanya gerbang kemerdekaan bagi bangsa Indonesia, yaitu dengan dibacanya teks proklamasi oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945.
Menjelang kemerdekaan RI, yaitu tanggal 29 Mei-1 Juni 1945  sidang BPUPKI yang pertama dilaksanakan di Jakarta. Dari sanalah diperoleh rumusan yang dikenal dengan “Asas dan Dasar Negara Kebangsaan Indonesi” , yaitu:
Peri Kebangsaan
Peri Kemanusiaan
Peri ke-Tuhanan
Peri Kerakyatan
Kesejahteraan Rakyat
Dalam perjalanannya Pancasila yang kita kenal saat ini banyak mengalami perubahan dalam perumusannya. Hingga tepat satu hari setelah proklamasi diproklamirkan, PPKI yaitu Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia melakukan perubahan rumusan Pancasila yang telah disusun sebelumnya oleh BPUPKI. Hal ini tentu saja dalam rangka menjaga keutuhan NKRI.
Salah satu rumusan yang berbunyi, Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya digubah menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa. Adapun hasil perumusan baru dari Pancasila, yaitu:
Ketuhanan Yang Maha Esa
Kemanusiaan yang adil dan beradab
Persatuan Indonesia
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijkasanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Kelima sila tersebut sesuai dengan rumusan Pancasila yang saat ini kita lihat, yaitu sesuai dengan rumusan dalam UUD 1945.      Pancasila adalah cerminan kepribadian bangsa. Menjadi keharusan, kita sebagai rakyat Indonesia mengamalkan tiap-tiap silanya dalam kehidupan sehari-hari. Baik dalam kehidupan beragama ataupun kehidupan bersosial. Baik dalam konteks hubungan vertikal dengan Tuhan maupun konteks hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Namun di era globalisasi ini, pengaplikasian nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari mulai mengalami pergeseran. Sebut saja salah satunya tindakan radikal. Definisi radikal sendiri menurut KBBI merupakan suatu tindakan yang sangat keras dalam rangka menuntut perubahan undang-undang.
Ada beberapa pengaruh paham radikalisme yang belakangan ini banyak meracuni kaum radikal, yang pada akhirnya mendorong gerakan radikal, antara lain:

  1. Adanya anggapan bahwa semua hal yang bertentangan dengan pelaku adalah salah, bahkan adanya anggapan sebagai musuh bagi pihak yang tidak menyetujuimya.
  2. Memiliki keyakinan yang sangat kuat, sehingga tak ayal dalam mencapai tujuan sering menggunakan kekerasan. Bahkan tak jarang berujung pada pelanggaran Hak Asasi Manusia.
  3. Sebelum terjadi perubahan drastis seperti yang diinginkan, akan terus melancarkan berbagai penolakan.

Saat ini kita semua tentunya sangat miris dengan berbagai pemberitaan yang beredar. Berbagai bentuk tindakan radikal banyak terjadi di Indonesia bahkan di luar negeri. Tak hanya secara agama, tindakan radikal juga terjadi dalam bentuk aksi separatis.
Adalah teroris, sebutan untuk gerakan radikal yang mengatas namakan agama. Dalam prakteknya mereka melakukan berbagai terror dan pengeboman. Tak hanya di Indonesia, saat ini di luar negeri juga tengah banyak terjadi ancaman teroris.
Masih segar dalam ingatan kita tentunya beberapa aksi pengeboman yang terjadi di Indonesia. Bom Bali 1 tahun 2002, bom Hotel JW Marriott 2003, bom KEDUBES Australia tahun 2004, bom Bali 2 tahun 2005 dan  yang masih segar bom Plaza Sarinah 2016.
Dampak buruk tentunya tak dapat dielakkan. Bisa dikatakan kerugian yang diakibatkan sangat kompleks, dari skal kecil sampai skala besar.  Aksi bom Bali 1 yang begitu dahsyat, meninggalkan duka yang mendalam.  Tidak sedikit nyawa yang menjadi korban. Tidak bisa dipungkiri juga berdampak pada keterpurukan industri pariwisata di Bali.
Bagaimana tidak, wisatawan yang datang berkunjung untuk melepaskan penat justru keamanannya terusik. Perasaan was-was, takut dan trauma bercampur menjadi satu. Hal inilah yang mengakibatkat wisatawan enggan untuk berlibur ke Pulau Dewata.
Karena tak cukup aksi bom Bali 1, tapi adanya susulan aksi bom Bali 2 yang membuat Bali dan Indonesia dirundung duka. Kerugian tentunya tidak dirasakan pada dampak aksi bom Bali 1 atau bom Bali 2 saja. Namun semua aksi bom akan menimbulkan berbagai dampak negatif dan meninggalkan luka.
Perasaan sedih  tidak hanya dirasakan oleh korban dan keluarganya. Namun kondisi sedih juga pasti menghampiri keluarga pelaku. Bagaimana tidak, adanya berbagai pemberitaan pasti akan menimbulkan rasa malu. Belum lagi adanya feedback yang diterima dari lingkungan sekitar.
Lebih luas lagi terorisme dapat mengganggu kedaulatan bangsa. Berdampak pada menurunnya citra bangsa Indonesia di kancah Internasional, yang berakibat adanya penurunan terhadap perekonomian negara.
Berbicara gerakan radikal, tak hanya aksi teroris teroris saja yang terjadi di negeri ini. Gerakan separatis juga terukir dalam sejarah bangsa Indonesia. Mari kita sedikit mengingat sejarah tentang beberapa gerakan separatis yang terjadi beberapa saat setelah Indonesia merdeka. Sebut saja DI/TII di wilayah Jawa Barat, gerakan yang dipimpin oleh Kartosuwiryo ini ingin mendirikan Negara Islam Indonesia. Adalah GAM, contoh  gerakan separatis lainnya yang dilancarkan di wilayah Aceh dipimpin oleh Hasan Tiro.
Dari semua peristiwa yang pernah terjadi. Dalam ukiran sejarah bangsa ataupu catatan era now, banyak kita temukan gerakan-gerakan radikal yang dilakukan dengan didasari kekerasan. Sangat disayangkan gerakan-gerakan ini mengatasnamakan agama. Dan ini suatu peristiwa yang sangat ironis, di tengah-tengah bangsa Indonesia yang memiliki ideologi Pancasila.
Sesuai sila pertama Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan kita bagaimana menjadi seorang umat beragama dalam konteks seorang insan Tuhan mengamalkan ajaran masing-masing agama. Karena pada dasarnya semua agama mengajarkan suatu arti perdamaian, bukan adanya kekerasan dalam pencapaian suatu tujuan.
Akan tetapi tidak cukup hanya pengamalan dari pengamalan sila pertama saja, namun pengamalan dari kelima silanya yang akan membawa kita menuju masyarakat madani. Pengamalan seluruh sila dalam Pancasila secara keseluruhan akan menuntun kita bagaimana untuk bertindak atas dasar ketuhanan, kemanusiaan dengan memperhatikan indahnya persatuan di tengah perbedaan.
Ukiran sejarah bangsa Indonesia hendaknya menjadi cermin bagi kita masyarakat Indonesia untuk tetap menjaga keutuhan NKRI. Karena dalam merebut kemerekaan bangsa memerlukan waktu yang sangat panjang dan tidak mudah, belum lagi berapa banyak tenaga dan nyawa para pahlawan yang telah berkorban untuk negeri ini.
Indonesia memang terlahir dengan kodratnya sebagai bangsa dengan  keindahan berbagai keragaman di dalamnya. Janganlah suatu perbedaan menjadi api dalam sekam yang menyulut timbulnya perpecahan. Kelima sila Pancasila bukanlah rumusan semata, akan tetapi merupakan ideologi bangsa yang harus diamalkan dalam setiap langkah kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Untuk menuju Indonesia lebih maju.
qureta.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here