Islam (di) Nusantara yang Ramah

0
155

Yang perlu dan penting untuk diperhatikan dalam usaha membangun peradaban baru adalah kesadaran atas karakteristik sebuah konteks. Karakteristik sebuah konteks menjadi penentu bagi keberlangsungan dan perkembangan gagasan atau ajaran yang ketika ditawarkan mengatasnamakan dirinya sebagai produk yang menyimpan semangat perdaban baru. Termasuk juga dalam membangun peradaban beragama di Nusantara, norma nusantara dan telah menjadi karakter bangsa ini sudah semestinya untuk diketahui dan menjadi landasan penting dalam membangun peradaban keberagamaan.

Dalam bukunya yang berjudul Suluk Sang Pembaharu: Perjuangan dan Ajaran Syaikh Siti Jenar vol. 3, Agus Sunyoto menampilkan satu peristiwa adikodrati penting yang perlu untuk menjadi bahan perenungan dan alat bantu sudut pandang yang berbeda dalam menganalisis corak dan karakter keberagamaan yang pernah ada di Nusantara sepanjang sejarah. Peristiwa adikodrati yang dimaksud adalah perbincangan antara Abdul Jalil dengan Dang Hyang Semar. Dalam perbincangan itu, diantara yang menjadi poin penting adalah syarat sebuah agama bisa berkembang dan diterima ditanah Nusantara. Peringatan Dang Hyang Semar kepada Abdul Jalil terkait dengan hal ini adalah apapun nama baru bagi ajaran yang akan disebarkan dan bisa berkembang di telatah nusantara ketika ajaran tersebut tidak berlawanan dan bertolak belakang dengan ajaran kapitayan. Untuk itu, kapitayan, menurut paparan Agus Sunyoto, adalah agama asli yang dianut oleh masyarakat Jawa pada waktu itu.

Jauh sebelum Abdul Jalil, adalah Syaikh Syamsuddin al-Baqir al-Farisi yang telah menancapkan kukunya ditanah nusantara ini untuk menyebarkan agama islam. Ketika para pengikut Syamsuddin al-Baqir titinggal pergi ke negeri Persia, mereka berbuat onar dan menyalahi kodratnya sebagai manusia. Tuhan yang mereka sembah dibayangkan sebagai sosok yang bengis seperti komandan perang yang tidak sungkan untuk memenggal kepala yang dianggapnya sebagai musuh, dan malaikat-malaikat digambarkan sebagai panglima-panglimanya. Dengan mindset seperti inilah, mereka tidak sungkan untuk membunuh siapa saja yang dianggap kafir, padahal hanya Sanghyang Wenang (Allah) yang berhak untuk mencabut nyawa mahluk-makhluk yang ada di dunia ini.

Baca Juga:  Radikalisme, Kampus dan Religiusasi Pancasila

Dilihat dari timbulnya pertumpahan darah dengan mengatasnamakan islam yang dilakukan oleh para pengikut Syamsuddin al-Baqir pasca ditinggal ke Persia adalah bermula dari mindset yang salah dalam menilai Allah sebagai nama Tuhan yang dibawa dalam ajaran Syamsuddin al-Baqir. Asghar Ali Engineer dalam Islam dan Teologi Pembebasan-nya menyebutkan bahwa al-Qur’an tidak mengajari untuk tidak menghormati, membenci dan menyakiti agama lain. Al-Qur’an justru mengajarkan untuk saling bertoleransi dan menghormati. Nilai pokok al-Qur’an ini, menurut Asghar, mulai lebur dan kehilangan karakter liberatif dan demokratisnya terjadi pada tiga dekade pasca wafatnya Nabi Muhammad Saw.

Seandainya mindset bahwa Allah bagaikan komandan perang yang dengan mudah untuk mengajak prajuritnya untuk menghunuskan pedang -dari sini perlu untuk dikaji lebih ulang adagium al-islam tahta dhilli al-suyuf (islam berjaya berkat kejantanan menghunuskan pedang)- dengan argument bahwa Allah tidak hanya bersifat rahman dan rahim namun Allah juga memiliki sifat al-qahhar dan al-jabbar, namun dalam instruksi yang Allah sampaikan didalam al-Qur’an tidak sebagaimana mindset yang dibangun tersebut. Dalam kata lain, Allah tidak menganjurkan manusia untuk saling membenci, menyakiti apalagi membunuh.

Karakter Nusantara Lainnya

Disamping budaya ramah yang dimiliki oleh bangsa ini, karakter lain yang tidak bisa dikesampingkan adalah kekayaan alam dan hasil bumi. Ketertarikan bangsa Eropa untuk menikmati hidup berlama-lama di Indonesia adalah karena kekayaan alamnya yang melimpah ruah. Berangkat dari kondisi negara yang sedang jeblog, Belanda meraup dan merampas kekayaan bangsa ini untuk membangun negaranya.

Keramahan yang dimiliki oleh penduduk Nusantara ternyata tidak hanya diaplikasikan dalam realita kehidupan dengan sesama manusia, lebih dari itu, keramahan yang menjadi karakteristik bangsa ini dituangkan dalam bersosialisasi dengan alam. Sebelum Islam menjadi agama mayoritas, bahkan sebelum dikenal oleh penduduk nusantara, hubungan manusia dengan alam telah dibangun oleh penduduk nusantara. Sebagai penjelas saja, kita kenal sekarang dengan istilah sedekah bumisedekah laut, dll.

Baca Juga:  Dosakah Membakar Bendera HTI?

Secara metode, kepedulian terhadap alam yang diwacanakan oleh islam baru muncul akhir-akhir ini sebagaimana bisa disaksikan dalam konsep khifd al-bi’ah (menjaga eksistensi ekologi) yang dimunculkan oleh Yusuf al-Qardhawi. Namun secara konsep, Islam pada masa Nabi Muhammad telah menyadarkan akan arti penting ekologi.

Meskipun masyarakat nusantara pada waktu itu belum bersentuhan dengan ajaran agama yang disebut islam, masyarakat nusantara telah mengaplikasikan dan meluaskan cakupan paham toleran secara objeknya. Ketika islam datang, kesadaran-kesadaran ini tetap dijaga, dalam hemat penulis, bukan karena sekedar menghargai yang sudah menjadi tradisi, melainkan karena islam tidak hanya mengajarkan untuk menyembah Tuhan tetapi harus berbaikan dengan sesama manusia, alam sekitar, dan mahluk lainnya. Sehingga, Islam (di) Nusantara yang mengikuti petuah Dang Hyang Semar untuk tidak bersebrangan dengan ajaran kapitayan, tidak hanya berkonsentrasi untuk menjaga hubungan Manusia-Tuhan dan manusia-manusia, namun sudah semestinya memberikan ruang untuk konsentrasi kepada masalah relasi manusia-alam.

Sebagai peradaban baru, islam di nusantara datang dengan caranya yang lembut atau dalam istilah yang sempat digunakan oleh Nurcholis Madjid dalam bukunya Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan dan Ahmad Syafi’i Ma’arif dikenal dengan penetration pacifique (perembasan perdamaian). Terobosan baru dalam membawa dan mencitrakan islam di nusantara ini sangat bertolak belakang dengan penyebaran islam pada abad-abad sebelumnya.

Dilihat dari paparan diatas, syarat kelembutan dan menghargai tidak hanya berhenti dalam membuka pintu untuk menyampaikan islam, namun karakter ini berlanjut dalam karakter ajaran berikutnya. Karamahan tidak hanya finish dalam relasinya antara sesama manusia, melainkan lebih luas dari itu adalah relasinya dengan alam sekitarnya. Islam bukan hanya agama kemanusiaan, tetapi islam juga adalah agama berperasaan.

Baca Juga:  Membangun Pendidikan Berwawasan Kebhinekaan

Ade PradiansyahAnalis keagamaan dan kebangsaan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here