Mena Muria, Mari Kita Merdeka!

0
78

Monyet Papua! Itulah sebutan yang sementara ini menjadi satu kalimat yang jika didengar, sungguh sangat menyayat hati bagi mereka yang hati dan pikirannya waras, murni dan suci. Ini bukan lagi persoalan kriminalitas dan atau semacamnya, akan tetapi ini sudah persoalan hakikat kemerdekaan, anti-penjajahan, anti-ketidakadilan, dan anti kepada setiap sikap yang diskrimintif rasial!
Tulisan ini sengaja saya tulis sebagai orang yang sungguh-sungguh anti terhadap setiap bentuk diskriminasi, penjajahan, dan ketidakadilan dalam segala macam bentuk dan rupanya. Tulisan ini sengaja saya tulis sebagai bentuk kecaman bagi usaha sebagian kalangan yang dengan sengaja atau secara tidak sadar bukan hanya menampakkan rasialisme mereka ke muka umum, namun juga menyimpannya dalam hatinya atau dalam obrolan-obrolan kelompoknya!
Ini adalah suatu bentuk solidaritas kemanusiaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan yang adil dan beradab!
Memang, pekerjaan berat kaum intelektual dan agamawan adalah bagaimana mereka mampu menyadarkan masyarakatnya masing-masing, bahwa membangun hubungan sosial dengan membiarkan penyakit rasialis yang masih tertanam dalam diri sebagian besar masyarakat mereka sendiri adalah suatu kebiadaban, dan itu tak bisa dimaafkan!
Sebab rasialisme, diskriminasi, dan lain sebagainya lahir dari pemahaman dangkal yang mengira bahwa sebagian ras, warna kulit, atau suku tertentu lebih mulia dari yang lain, yang notabene memiliki pertalian erat dengan kecenderungan menjadi kapitalisme, berujung imperialisme dan kolonoialisme.
Pemikiran dan sikap semacam ini adalah wujud kebiadaban yang paling nyata!

Jadi pemahaman semacam itu bukan hanya lahir dari tradisi barat, melainkan suatu kecenderungan umum setiap masyarakat yang mendominasi suatu teritorial tertentu. Dan tidak terbatas untuk itu, jika tak ada kekuatan lain yang mampu menghalaunya, maka mereka akan berkembang menjadi apa yang kita sebut sebagai imperialisme dan kolonialisme.

Bung Karno pernah mengingatkan dunia bahwa pasca perang dunia ke-2, setelah berakhir era penjajahan fisik, umat manusia akan dihadapkan dengan gaya penjajahan gaya baru, yang beliau sebut dengan: Neoimperialisme dan Neokolonialisme.
Jika kapitalisme melahirkan imperialisme dan kolonialisme, maka neokapitalisme juga melahirkan neoimperialisme dan neokolonialisme. Jika Bung Karno juga pernah mengingatkan bahwa musuh kita adalah bangsa kita sendiri, yakni kapitalisme dalam negeri itu, yang kelak akan menjadi lawan dan musuh kita bersama, maka kapitalisme dalam negeri itu juga akan berubah menjadi neokapitalisme dalam negeri pula, yang kini melahirkan apa yang disebut sebagai neoimperialisme dan neokolonialisme dalam negeri pula!
Maka benarlah apa yang diingatkan oleh Bung Karno kepada kita itu, musuh kita saat ini adalah bangsa kita sendiri. Musuh kita adalah mereka yang menjunjung tinggi persatuan di lisannya, sementara di hatinya mendiskriminasi sebagian yang lain!
Apa bedanya kita dengan penjajah dari Eropa, semisal Belanda yang pernah menanamkan kekuasaannya dari Sabang sampai Merauke selama 350 tahun? Jika setelah kepergian mereka, justru sesama kita malah saling mengejek dan menghina atas dasar sentimen rasial?!
Kita harus kembali mengingat sejarah bangsa kita sendiri, bahwa selama masa kolonial, Belanda menanamkan sebuah rezim segregasi (pemisahan) rasial tiga tingkat; ras kelas pertama adalah “Europeanen” (“Eropa” kulit putih) dan pribumi Kristen/Katolik misalnya tentara KNIL dari Ambon; ras kelas kedua adalah “Vreemde Oosterlingen” (“Timur Asing”) yang meliputi orang Tionghoa, Arab, India maupun non-Eropa lain; dan ras kelas ketiga adalah “Inlander”, yang kemudian diterjemahkan menjadi “Pribumi”.
Sistem ini sangat mirip dengan sistem politik di Afrika Selatan di bawah apartheid, yang melarang lingkungan antar-ras (“wet van wijkenstelsel”) dan interaksi antar-ras yang dibatasi oleh hukum “passenstelsel”. Pada akhir abad ke-19, Pribumi-Nusantara sering kali disebut dengan istilah Indonesiërs (“Orang Indonesia”).
Menurut KBBI, Inlander adalah sebutan ejekan bagi penduduk asli di Indonesia oleh orang Belanda pada masa penjajahan belanda; pribumi. Lalu, apakah saat ini istilah itu sedang kemudian digunakan oleh sebagian kita yang lain untuk menyebut sebagian kita yang lain pula, dalam bentuk dan rupa yang berbeda?
Apakah saat ini kita akan membiarkan sebagian kita mengolok-ngolok sebagian suku yang lain dengan sentimen rasial, menjadi bahan olok-olokan, menjadi suatu sebutan yang jelas-jelas secara tak sadar telah menomorduakan sebagian yang lain?! Apakah sebutan Papua, atau Orang Timur atau semacamnya menjadi sedemikian buruknya sehingga ketika menyebut mereka, identik dengan kehinaan dan bahkan kehewanan?!
Oh sungguh, tindakan itu adalah kejahatan terbesar bagi kemanusiaan. Adalah kebiadaban yang paling biadab

“Monyet Papua”. Ini bukanlah persoalan orang Papua. Ini bukan urusan orang Papua untuk sibuk mengklarifikasi. Bukan suatu kewajiban orang Papua untuk membersihkan keluhuran dan kesucian ras mereka. Tapi ini adalah kewajiban warga Jawa Timur, atau siapa pun yang membiarkan sebutan rasial semacam itu terjadi.
Ini tugas dan tanggung jawab kemanusiaan kaum intelektual, agamawan, dan seluruh umat manusia di republik ini, bahwa tindakan semacam itu harus dikecam, harus dilawan, bahkan harus diperangi sampai ke akar-akarnya. Kami juga menggugat kaum intelektual dan seluruh ‘masyarakat yang di sana’, untuk menyadarkan, atau bahkan melawan ras mereka sendiri, yang picik, yang dangkal, yang penuh dengan kebiadaban rasialis!
Jika mereka tidak mampu melakukannya, maka kita akan mengajukan pertanyaan gugatan kebangsaan ke muka umum. Untuk apa kita merdeka, jika pasca merdeka selama 74 tahun kita masih saja menyaksikan sentimen rasial di antara kita? Untuk apa kita merdeka, jika merdeka untuk dihina?!
Kita cinta kemerdekaan, tapi kita lebih cinta kemanusiaan! Jika merdeka, namun masih seperti ini; dihina, diinjak-injak martabatnya sebagai manusia, maka kami akan tegas berteriak dengan lantang, “Mena Muria!” Mari kita merdeka!
Mari kita bangun suatu bangsa dan negara yang bebas dari segala macam bentuk penjajahan, atau segala macam bentuk dan rupa rasialisme, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan! Mari kita bangun bangsa dan negara dengan dasar falsafah Pancasila, yang sebenar-benarnya Pancasila.
Mari kita bangun satu bangsa dan negara yang sebenar-benarnya menjunjung tinggi bhineka tunggal ika sejati, yang tidak menyimpan kemunafikan rasialisme sejak dalam pikiran dan hatinya!
Sekali lagi, jika kondisi-kondisi ini tidak mampu diatasi, dan sebagian kaum intelektual tidak mampu menyadarkan masyarakatnya sendiri, maka kita akan berteriak lantang; “Mena Muria!”
qureta.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here