Perspektif Kultivasi dalam Menghadapi Persolan Radikalisme

0
108

Ekstremisme dan Psikologi Kekerasan

Indonesia tidak henti-hentinya dilanda dengan berbagai permasalahan yang kritis. Masalah-masalah tersebut semakin hari kian mengakar dan menggrogoti tubuh bangsa ini. Masalah besar seperti teror atau kekerasan dan ancaman terhadap jiwa manusia seakan menjadi bukti bahwa Indonesia dalam keadaan darurat akan rasa damai. Ada yang sedang salah dalam tubuh bangsa ini.
Pilu nampak terlihat di raut wajah penduduk Indonesia, melihat kepasrahan dan kegelisahan seakan memuncak akibat dari terganggunya hak kedamaian dan kebahagian dalam hidupnya. Harapan dan cita-cita rasa akan kemerdekaan nampaknya terusik kembali. Impian kemerdekaan kembali diuji dengan musuh melawan penyakit bangsa sendiri.
Tentu ada yang harus memulai untuk segera bangkit dari keterpurukan ini dengan melawan segala bentuk dominasi kekuatan yang merampok nilai kesatuan, persatuan dan kedamaian bangsa. Diam tidak akan mengubah keadaan, sedangkan bergerak gegabah juga tidak mampu menyelesaikan persoalan.
Melihat di sisi lain solusi demi solusi telah jauh dipikirkan hingga dikonstruksikan untuk diciptakan, berbagai analisa dan teori telah dibuktikan, namun semua belum banyak berarti dalam mengubah mata rantai dari akar masalah ini. Sempitnya sudut pandang dan cara dalam menghadapi keterpurukan ini menjadi salah satu sebab dari kegagalan mengelola masalah.
Perlu pembaharuan perspektif lain diharapkan memberi keajaiban dengan ikut andil menyumbang gagasan baru dalam upaya menangani masalah akut ini sekaligus menciptakan solusi apa yang harus diperbaiki dalam tubuh bangsa ini.
Masalah radikalisme sekarang ini semakin liar berkembang dan menyebar cepat di lapisan masyarakat. Hal itu mengisyaratkan bahwa sudah tidak cukup lagi hanya menggunakan gagasan-gagasan yang cenderung usang, atau keajegan pola yang dipakai sebelum-sebelumnya yang mana sudah mudah ditebak arah finalnya.
Maka hal yang mendasar adalah kesegeraan dalam perbaikan pola yang menekankan kapasitas angka rasionalitas dan transparansi dari cara pemikiran yang matang dan sehat.
Pikiran tersebut nantinya diharapkan banyak mempengaruhi tentang cara menciptakan parameter solusi yang proporsional, konsisten, berkeadaban dan berkeadilan.
Lemahnya penanganan masalah radikalisme diakibatkan dari kegagapan sudut pandang dalam melihat persoalan ini. Diperkeruh dengan kebimbangan kontekstual cara berfikir dalam menyerap segala informasi, termasuk ketidakmampuan dalam merawat akal pikiran.
Keadaan yang ada justru suplus komunikasi propagandis dari narasi-narasi yang justru merekonstruksi arti kekerasan itu secara lebih luas di masyarakat. Interpretasi dari paham radikal itu semakin liar diterjemahkan dari berbagai sudut pandang media atau pihak para propagandis yang menyebarkan ketakutan.
Meminjam istilah radikalisme dalam kamus besar bahasa Indonesia dapat dikatakan sebagai paham atau aliran yang menuntut perubahan keadaan sosial dan politik dengan cara “kekerasan”. Kekerasan itu yang intinya menjadi permasalahan, karena kata tersebut yang mengaburkan perbedaan dialektika antara keberadaban dan kebiadaban.
Kebiadaban itu yang terus tumbuh dan menggumpal membentuk sebuah narasi “radikalisme”. Maka istilah itu dapat dikatakan sebagai tindakan yang berakar pada hilangnya akal pikiran yang sehat. Menghasilkan bentuk pemikiran yang sempit, kerdil, tertutup dan inkonsistensi pada nurani moralitas. Maka perspektif lain dalam melihat masalah radikalisme ini sangat diperlukan.
Melihat secara cermat dari sudut pandang yang lain, media massa di Indonesia televisi misalnya berlomba-lomba dalam keikutsertaanya dengan terburu-buru menghadirkan informasi secara cepat, mempertontonkan peristiwa dan memperlihatkan opini-opini baru yang liar beradu tentang angka layar radikalisme, agresivitas , sekaligus kekerasan yang memancing sikap saling curiga dan permusuhan antar individu dan kelompok.
Hadirnya media massa dalam menginformasikan persitiwa-peristiwa tersebut pada jam tayang prime time atau quality time membuat hegemoni baru dalam pusaran paradigma masyarakat yang menyaksikannya. Ada yang seolah tercipta dan terbentuk karena kuatnya rangsangan imaginer media.
Lahirnya sebuah ketakutan, kecemasan, kengerian dalam pikiran-pikiran masyarakat dalam menghadapi dunia baru telah dihadirkan media massa. Yaitu sebuah dunia yang dipenuhi oleh kejahatan, kekerasan dan kerusakan akibat angka agresivitas dan teror yang meningkat tajam.
Tanpa disadari keadaan itu perlahan mengkristal di tengah masyarakat media. Hadirnya kesertaan media yang berkelanjutan, masif, keblabasan, propaganda justru menimbulkan kekacuan yang mengacaukan pikiran masyarakat. Maka terpolarisasi menjadi apa yang dimaksud dengan kekerasan dunia maya (hate speech) dan informasi hoax.
Sebuah gambaran di mana pikiran masyarakat yang secara berkelanjutan dan terus menerus dijenuhkan dengan berbagai media yang banyak menginformasikan tentang kekerasan, kejahatan kemanusiaan, agresivitas, dan pembunuhan membentuk sebuah pola realitas pikiran yang ditanamkan media kepada kita.
Suatu pikiran atau persepsi yang berkumpul, teradiasi, berkumulatif membentuk sebuah sensasi baru yang dipenuhi dengan produksi-produksi sikap kecemasan, kekhawatiran, ketidak percayaan, saling curiga, permusuhan dan ketakutan yang melampaui batas.
Pandangan ini sesuai dengan apa yang telah jauh dan lampau terjadi dalam teori komunikasi massa yang menciptakan sebuah realita dari hasil produksi media massa. Komunikasi massa adalah sistem yang sangat kompleks dan memiliki sejarah penelitian yang sangat panjang selama bertahun-tahun.
Para peneliti telah mengembangkan berbagai teori ketika meneliti hubungan antara media massa dan khalayak massa. Hal ini didasarkan pada sebuah postulat yang diungkapkan oleh Denis McQuail bahwa media memiliki hegemoni efek terhadap khalayak massa yang luar biasa dahsyat. Sehingga tidak heran terpaan informasi hoax atau informasi yang berisi kekerasan verbal (hate speech) telah meracuni masyarakat.
Menurut teori kultivasi, media massa menjadi media utama dalam menjadikannya sebagai referensi publik di mana para penontonnya itu belajar tentang masyarakat dan kultur di lingkungannya. Dengan kata lain, persepsi apa yang dibangun dan diciptakan di benak kita tentang masyarakat dan budaya sangat dipengaruhi oleh sudut pandang media massa itu sendiri.
Ini artinya, melalui berbagai sajian dan tayangan yang disuguhkan di tengah masyarakat, kita banyak belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilainya serta adat kebiasannya. Di mana semua itu dipengaruhi dari sudut pandang yang telah dipersepsikan dan dipersiapkan media terhadap khalayaknya.
Teori kultivasi pada dasarnya menyatakan bahwa media massa (televisi) tidak menutup kemungkinan media cetak, media online bertangggung jawab dalam membentuk atau mengkultivasi konsepsi atau cara pandang masyarakat terhadap realitas sosial.
Efek massif media massa dengan televisinya, media cetak dengan korannya, dan media online dengan segala senjata amunisinya menerpa khalayak secara terus menerus dan bertahap membentuk persepsi baru tentang realitas sosial bagi individu dan karakterisitik budaya secara menyeluruh di berbagai lapisan masyarakat.
Dari perspektif kultivasi ini memberi sebuah gambaran untuk media dalam memberikan informasi harus dengan kehati-hatian, kecermatan dan batasan-batasan norma. Heterogenitas latar belakang usia, pendidikan, agama, budaya mempengaruhi cara khalayak dalam menafsirkan sebuah informasi dari media, penafsiran yang liar tentu tidak diharapkan terjadi. Maka hal itu harus benar-benar diperhatikan.
Konsep radikalisme tidak mudah begitu saja hilang, lenyap hanya dengan serangan media lewat berita-berita yang disajikan, poster yang ditempel di jalanan, baliho, maupun pola-pola komunikasi lainnya.
Meski hal itu dilakukan sebagai bentuk sosialisasi atau tindakan preventif dini, tentu juga harus diimbangi dengan cara menyikapi atau melihat persoalan ini. Kegagalan sudut pandang ditakutkan justru akan membuat hegemoni radikalisme baru yang berkoloni dengan membentuk kekuatan besar.
Perspektif kultivasi ini mengisyaratkan kepada media untuk memberi kebenaran di atas superioritas kepentingan sekaligus mengedukasi masyarakat lebih cerdas, dan tidak mudah terkondensasi dengan ideologi-ideologi baru yang bertentangan dengan falsafah pancasila. Namun cara media dalam mengelola opini publik yang berimbang dan sesuai itu yang belum segera dilakukan dalam menghadapi isu-isu penting.
Tugas itu yang harus ditekankan media, jangan sampai nilai filosofi yang baik-baik di media tidak tersampaikan, justru sebaliknya media berubah menjadi wajah yang mempropaganda, menakuti-nakuti, dan menghegemoni pemikiran terbalik.
Media yang banyak berargumen, beropini dengan satu sisi atau satu perspektif yang menguntungkan media saja, keberadaannya tidak banyak berandil besar dalam menyelesaikan berbagai persoalan negeri ini, termasuk salah satunya masalah radikalisme.
Maka berbagai media di Indonesia harus menjalankan apa yang dinamakan bebas dan bertanggung jawab, yaitu bebas memperoleh dan menyampaikan informasi dan bertanggung jawab atas informasi yang telah diperoleh dan disebarluaskan baik bertanggung jawab dengan masyarakat (sosial) dan bertanggung jawab dengan negara (hukum).
Masyarakat juga diharapkan mampu berfikir cerdas, kritis, tidak terpancing dalam aktivitas yang menciptakan radikalisme baru. “You must be the change you want to see in the world”. “Kita harus menjadi perubahan yang ingin kita lihatkan pada dunia”.
Jadilah contoh sebagai pemimpin yang memimpin dengan benar maka orang akan mengikuti, dan bersama-sama dalam mengubah wajah Indonesia yang mengalami kengerian. Siapapun bisa mengeluh, bisa saling menyalahkan, bisa saling menghujat dan kebanyakan orang seperti demikian.
Tetapi jika kita ingin Indonesia bangkit dari keterpurukan, maka jadikan “KITA” sebagai bagian dari perubahan itu.
Your beliefs become your thoughts. Your thoughts become your words. Your words become your actions. Your actions become your habits. Your habits become your values. Your values become Indonesia destiny”. “Keyakinan diri kita menjadi pikiran. Pikiran kita menjadi kata-kata. Kata-kata kita menjadi tindakan. Tindakan kita menjadi kebiasaan. Kebiasaan kita menjadi nilai-nilai. Nilai-nilai kita menjadi takdir bangsa Indonesia”.
Jaga kata-kata kita, rawat akal sehat kita, dengan hal itu nantinya tindakan kita akan menghasilkan kebiasaan yang baik. Nilai kebaikan itu yang menjadi wajah bangsa Indonesia ke depannya.
Mari melihat situasi yang terjadi sekarang dengan lebih jernih. Kita dapat membagi sebuah rencana besar menjadi langkah-langkah kecil dan segera mengambil langkah pertama. Berbuatlah sesuatu agar terjadi hari ini. Jangan hanya berdiam. Hari esok mungkin tidak akan datang pada diri kita, maka setiap kemajuan harus dibuat hari ini untuk kebaikan esok.
Hentikan berbagai cemoohan, cacian, hujatan, perbaiki rasa keadilan, menghargai pada norma perbedaan, maka hal itu akan mengurangi rasa permusuhan di antara kita dan nantinya perlahan menghilangkan tindakan kekerasan di antara keegoisan kita.
Jika kita menginginkan perbaikan, kebaikan pada bangsa ini maka perbaiki apa yang menjadi kebaikan kita untuk bangsa ini. Memulailah melihat persoalan dengan berbagai sudut pandang. Jangan menyempitkan pikiran kita, karena hanya akan menyedikitkan soulsi yang kita ciptakan nanti.
Jangan pernah menghadirkan kekerasan pada ucapan kita, baik secara langsung maupun tertuliskan di media. Karena radikalisme dimulai dari terpupuknya rasa kebencian dan kerasnya hati manusia dalam menerima kebaikan.

qureta.com/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here