Mengangkat Kanker Radikalisme

0
25

Aktivasi Inhibitor Senyawa-Senyawa Radikal Sejak Dini

Ancaman radikalisme di Indonesia saat ini sudah sangat membahayakan. Survey dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) November 2017 menunjukkan bahwa potensi radikalisme masyarakat Indonesia perlu diwaspadai karena berada di angka 55,12 dari rentang 0-100.
Bahkan, ketum PBNU Kyai Said Aqil Siradj, sesaat setelah tragedi ledakan di Thamrin Januari 2016 sudah terang-terangan menyatakan bahwa status Indonesia sudah memasuki tahap darurat radikalisme. Bukan tidak mungkin angka ini akan semakin meningkat di tahun-tahun berikutnya jika tidak ditangani secara serius sampai ke akar-akarnya.
Radikalisme yang terjadi di Indonesia sudah tumbuh di berbagai lini masyarakat dan berhadapan sama kuat dengan Islam moderat. Tidak ada lini yang benar-benar steril dari radikalisme, termasuk dunia pendidikan. Fenomena radikalisme ini saya ibaratkan seperti kanker. Jika dibiarkan akan menjadi penyakit serius yang merusak persatuan dan kesatuan Indonesia.
Seperti halnya dengan manusia, jika sudah menderita kanker maka ia bisa menyebar luas dalam tubuh dan hanya tinggal menunggu waktu seberapa lama manusia bisa bertahan. Oleh karena itu, sangat diperlukan deteksi dini penyebaran kanker radikalisme.
Dalam menangkal radikalisme yang tengah subur berkembang di Indonesia, sebaiknya kita perlu belajar dari senyawa radikal. Dalam ilmu Kimia senyawa radikal merupakan pemicu utama reaksi radikal. Reaksi radikal ini sangat cepat bereaksi secara berantai dengan kondisi yang sangat ekstrim. Jika tidak dihentikan maka ini akan terus-menerus bereaksi dengan senyawa lain.
Layaknya senyawa radikal yang memicu reaksi radikal dan berkembang secara berantai, orang yang berpaham radikal akan menularkan pahamnya melalui berbagai interaksi sehingga jumlahnya semakin banyak dan kemudian berani untuk memperlihatkan eksistensinya dalam aksi radikal yang besar seperti pengeboman dan teror. Baik yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia dan di seluruh penjuru dunia.
Seseorang yang menyebarkan paham radikalisme ini ibarat senyawa radikal karena tidak memiliki pengetahuan agama yang genap/sempurna. Seperti halnya senyawa radikal yang memiliki elektron yang tidak berpasangan dan bersifat tidak stabil.
Tahap inisiasi reaksi radikal terjadi ketika ada inisiator berupa panas atau radiasi (paparan) sehingga bisa meningkatkan perubahan tingkat energi molekul. Salah satu akibatnya adalah pembentukan radikal. Sama halnya dengan kelompok radikal dalam merekrut anggota.
Ketika calon anggota sudah didekati, maka mereka akan dipapar terus menerus dengan banyak pertanyaan dan propaganda melalui kajian langsung atau media. Hal ini akan sangat berbahaya untuk seseorang yang memiliki pengetahuan agama yang minim sehingga akan menimbulkan keraguan tehadap keyakinannya dan terdoktrin radikal.
Doktrin yang didengungkan seperti menimbulkan kebencian yang berlebihan dengan kelompok yang berbeda dan jihad bahwa dengan memerangi/membunuh orang yang tidak beragama Islam akan mendapat balasan surga.
Yang patut diwaspadai untuk direkrut menjadi anggota adalah kalangan anak muda. Dari hasil survey Wahid Institute yang dirilis 29 Januari 2018, dinyatakan bahwa semakin muda seseorang maka semakin cenderung intoleran.
Mahasiswa baru yang memiliki pengetahuan agama yang minim dan masih dalam proses pencarian jati diri biasanya menjadi sasaran empuk para penyebar paham radikal. Mereka cenderung memiliki semangat yang membara untuk belajar agama sehingga sangat mudah untuk diinfiltrasi dan diindoktrinasi.
Dengan iming-iming akan diajari ilmu agama apabila bergabung, mereka dicuci otaknya dengan menanamkan pemahaman bahwa Indonesia adalah negara thaghut yang tidak wajib dipatuhi dan mesti diperangi. Hasilnya mereka lebih intoleran dan bertindak dengan kekerasan terhadap masyarakat yang berbeda terutama dari segi agama.
Menguatkan hasil penelitan diatas, merujuk pada hasil penelitian LIPI di tahun 2011 terhadap lima universitas besar di Indonesia ditunjukkan bahwa paham radikalisme sudah merambah di dunia kampus.
Sebagai contoh, pada tahun 2013 muncul gerakan masif untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII), suatu gerakan radikal yang mengatasnamakan Islam untuk menolak NKRI. Setelah diteliti oleh Maarif Institute, ternyata hasil peneilitiannya mengkonfirmasi penelitian LIPI dua tahun sebelumnya bahwa ekspansi gerakan ini terjadi akibat meluasnya paham radikalisme di kampus.
Yang paling mengejutkan lagi adalah hasil penyelidikan terhadap aksi terror di Jakarta awal 2016 silam. Terbukti bahwa yang paling bertanggung jawab terhadap aksi tersebut yaitu Bahrun Naim, ternyata padanya sudah tertanam pemahaman radikal dan mulai melibatkan dirinya dalam gerakan radikal sejak ia kuliah. Pemahaman radikal yang kuat ini membuatnya melakukan tindakan lebih berani dengan bergabung pada organisasi terorisme internasional.
Orang-orang yang berpotensi menjadi seperti Bahrun Naim ini harus dicarikan inhibitor yang ampuh supaya berhenti tidak bereaksi. Inhibitor merupakan suatu senyawa yang berperan untuk menghambat reaksi radikal terjadi. Mereka bereaksi dengan senyawa radikal untuk menjadi senyawa yang stabil sehingga tidak menimbulkan reaksi berantai dengan senyawa lain.
Dalam menentukan inhibitor yang cocok kita perlu menganalisis dahulu apa faktor penyebab utama yang membuat dia menjadi radikal.
Belajar dari organisasi internasional ISIS, menurut juru bicara BNPT, ISIS memiliki dua propaganda untuk merekrut angotanya. Pertama untuk kesejahteraan (motif ekonomi) dan kedua kehidupan akhirat yang menurut persepsi mereka, jika kesana dan mati maka akan masuk surga. ISIS organisasi teroris yang paling kaya. Mungkin saja calon anggota dijanjikan uang dan fasilitas lengkap.
Dari pendapat ini dan dari banyak kasus yang terjadi, saya menyimpulkan bahwa yang menjadi penyebab radikal adalah tawaran kehidupan dunia yang lebih mapan dari kondisi awal mereka dan manipulasi imajinasi kehidupan akhirat yang lebih baik daripada kehidupan akhirat mereka. Contoh terakhir kasus Suliono yang melakukan penyerangan di Gereja St Lidwina, Sleman dengan motif untuk menikah dengan bidadari surga.
Apabila seseorang itu radikal karena pemahaman agama yang kurang maka inhibitornya harus seseorang yang memiliki pengetahuan agama yang mumpuni untuk mematahkan argumennya sehingga dia bisa sadar bahwa apa yang dia pahami selama ini ternyata kurang benar.
Dia harus disadarkan bahwa dakwah sebenarnya dari kata da’ayad’uda’watan yang artinya mengajak. Kata mengajak ini sendiri sudah memiliki konotasi positif yaitu dengan kebaikan bukan dengan kekerasan.
Dalam QS. An Nahl ayat 125 juga sudah diatur dengan jelas tata cara dakwah yaitu dilaksanakan dengan hikmah, mauidhoh hasanah, dan mujadalah billati hiya ahsan. Secara tata bahasa ada dua perintah yaitu metode dalam mengajak yaitu dengan hikmah dan mauidhoh hasanah dan yang kedua melakukan perdebatan dengan cara yang baik.
Di dalam Kitab Tafsir Jalalain disebutkan bahwa bil hikmati adalah pelajaran dari Al Quran sedangkan wal mauihotil hasnati berarti metode ajakannya yakni mengajak dengan kebaikan atau dengan perkataan yang halus.
Mujadalah billati hiya ahsan maksudnya adalah metode yang digunakan untuk berdebat/membantah/menangapi respon lawan yaitu dengan kebaikan. Semuanya satu paket dalam kebaikan yang merujuk pada Al Hikmah (Al Quran). Sekalipun dalam konteks nahi munkar, tidak dibenarkan menggunakan kekerasan jika bukan sebagai kapasistasnya.
Apabila seseorang yang menjadi radikal itu karena motif ekonomi, maka hendaknya orang tersebut dibersihkan dulu dari doktrin radikal kemudian dirangkul oleh semua pihak. Setelah bersih mereka dibantu untuk mendapatkan pekerjaan yang halal untuk mencukupi kebutuhan duniawinya.
Jika dia kesulitan mendapatkan pekerjaan, bukan tidak mungkin akan kembali ke jaringan radikal mereka. Cara ini sudah dilakukan BNPT dalam membina mantan narapidana teroris. Akan tetapi, keberhasilannya harus didukung oleh masyarakat luas terutama saat narapidana bebas.
Di beberapa kampus terutama kampus umum, tak jarang kita lihat pemandangan ada kelompok-kelompok kecil yang pada setiap periode tertentu mengadakan kajian Islam (liqo’) rutin baik di dalam atau di luar kampus.
Kelompok ini biasanya berisi mahasiswa baru yang memiliki semangat menggelora untuk mempelajari agama lebih dalam dengan dibimbing oleh kakak angkatan. Kakak angkatan ini bisa dikatakan sebagai murobbi. Mengingat murobbi itu seperti lingkaran berlapis dan tidak semuanya berstatus mahasiswa, maka disini saya membatasinya untuk kakak angkatan karena langsung berinteraksi dengan mahasiswa baru.
Peran murobbi disini sangat vital. Pernah diceritakan bahwa murobbi ini seakan memegang kehendak penuh mutarobbi (yang dibimbing) bahkan melebihi peran orang tua. Hal ini lah yang perlu kita antisipasi. Terlebih ada fakta bahwa dahulu ada sebagian kampus mewajibkan kajian ini untuk diikuti mahasiswa agar mendapat nilai A pada mata kuliah agama Islam.
Kita perlu menyelidiki apakah yang diajarkan murobbi ini memang murni tentang ajaran agama atau hanya modus untuk menyisipikan doktrin-doktrin radikal. Jika memang ternyata sudah menyimpang maka perlu dilakukan tindakan lebih lanjut.
Pihak kampus perlu mengadakan kuesioner tertutup kepada para mahasiswa untuk melakukan pengawasan terhadap para murobbi apabila dalam praktiknya terdapat kajian yang sudah diluar batasan yang mengarah kepada ujaran kebencian (hate speech) dan tindakan kekerasan yang terancam pidana terhadap kelompok yang berbeda.
Tentunya sebelum mereka dilibatkan dalam kelompok kajian ini, perlu diadakan kuliah umum dengan mengundang BNPT dan Kepolisian saat orientasi mahasiswa baru sehingga bisa membedakan batasan tersebut.
Murobbi yang terbukti melenceng perlu “diamankan” dan diberikan rehabilitasi melalui program yang meningkatkan rasa nasionalisme dalam kurun waktu yang lama dan intensif. Mereka perlu ditanamkan pemahaman bahwa perbedaan merupakan suatu rahmat dan keniscayaan yang dikehendaki oleh Allah SWT. Tidak perlu ditanamkan rasa kebencian yang berlebihan terhadap suatu kelompok yang berbeda.
Program ini akan sangat efektif jika mereka dikumpulkan dan dibina bersama orang-orang yang memiliki paham moderat dan memiliki latar belakang yang berbeda dalam periode waktu tertentu. Program ini bisa dimanifestasikan dalam bentuk yang menarik tidak harus didalam pesantren.
Program ini bisa dikemas dalam bentuk pemberian beasiswa plus untuk para mahasiswa dimana beasiswa ini tidak hanya diberikan fresh money tetapi juga pelatihan, pembinaan, dan pengembangan diri.
Komposisi penerima beasiswa ini diatur sedemikian rupa sehingga satu oknum murobbi bisa ditemukan dengan para penerima beasiswa lain dari komunitas yang berbeda-beda sehingga akan meningkatkan kesadaran kebhinnekaan.
Pemerintah melalui Kemenristekdikti, Kementrian agama, Kementrian Keuangan, dan BNPT bisa berkolaborasi untuk melaksanakan misi ini. Pihak swasta perlu dilibatkan melalui program CSR nya karena bahaya radikalisme tingkat tinggi akan mengancam stabilitas dan keamanan nasional sehingga sangat berpengaruh terhadap keberlangsungan usahanya.
Jika program ini berhasil maka paham radikalisme oknum murobbi yang terbukti melenceng ini akan terkikis sehingga selanjutnya tinggal fokus kepada mutarobbi.
Hubungan antara murobbi dan mutarobbi tidak hanya sebatas guru dengan murid tetapi juga memiliki kedekatan emosional. Layaknya hubungan yang berlandaskan kedekatan emosional, seorang mutarobbi biasanya akan menuruti permintaan murobbi sebagai orang yang disegani. Hal ini dikarenakan salah satunya di setiap liqo’ selalu diawali dengan sesi curhat.
Saking intensnya pertemuan bisa dikatakan seorang murobbi menjadi tempat curhat kedua setelah orang tua. Bahkan di beberapa kasus tertentu menjadi yang pertama. Ketika ada masalah, tak jarang mutarobbi langsung menceritakan ke murobbi dan meminta pertimbangannya tanpa melewati orang tua terlebih dahulu.
Seseorang oknum murobbi yang sudah sembuh akan lebih mudah mengajak para mutarobbi nya untuk kembali memaknai Islam sebagai rahmatan lil alamin yang selalu menebarkan kasih sayang ke seluruh alam. Mereka dapat meluruskan makna jihad yang sudah terdistorsi.
Namun demikian, mengembalikan murobbi yang sudah sembuh ke lingkaran dakwahnya tidaklah mudah karena ada kemungkinan mereka akan dibuang oleh struktur lingkaran kaderisasi yang ada. Setidaknya cara ini bisa meminimalisasi jumlah murobbi yang mendukung paham radikalisme.
Peran serta seluruh elemen masyarakat sangat diperlukan mengingat jumlah mutarobbi yang jauh lebih banyak dari murobbi. Peran orang tua, sahabat, dan teman-teman mutarobbi diperlukan untuk mendampingi dan mengawasi secara pendekatan personal dan persuasif. Hindari pendekatan secara konfrontatif karena akan menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan.
Kebijakan UGM dalam mencabut sistem Asistensi Agama Islam (AAI) pada tahun 2014 dinilai memiliki dampak yang signifikan terhadap dugaan penyalahgunaan AAI. Kebijakan ini patut ditiru oleh universitas lain yang memiliki program yang sama dengan nama yang berbeda.
Kemenristekdikti rasanya perlu untuk membuat peraturan resmi terkait hal ini apakah perlu dibubarkan atau dilanjutkan dengan modifikasi sistem. Kebijakan kurikulum Pendidikan Agama bagi perguruan tinggi umum juga perlu ditinjau ulang dengan mengedepankan aspek kebhinnekaan dan keutuhan NKRI.
Potensi santri yang sedang menempuh pendidikan tinggi bisa dimaksimalkan untuk menangkal merebaknya paham radikalisme di kampus. Mengingat dari tahun ketahun jumlahnya mengalami peningkatan semenjak banyaknya pondok pesantren yang mengajarkan ilmu umum disamping ilmu agama. Selain itu juga didukung dengan banyaknya program beasiswa baik dari pemerintah maupun swasta.
Sejak tahun 2005 Kemenag sudah meluncurkan program beasiswa santri berprestasi dengan kampus tujuan di seluruh Indonesia baik yang universitas umum maupun Islam. Saya yakin santri yang lolos ini memiliki pengetahuan agama yang lebih.
Alangkah lebih baik jika program ini mewajibkan kepada penerima beasiswa untuk menjalankan program deradikalisasi sebagai salah satu poin kewajiban dalam pengabdian. Jadi pengabdian ini nantinya dihitung 3 tahun sejak dimulai semenjak masih kuliah bukan dari setelah lulus kuliah.
Dengan sistem ini maka tentunya akan meringankan bagi penerima beasiswa karena tidak memakan waktu yang cukup lama terlebih bagi yang memiliki keinginan untuk menapaki fase kehidupan selanjutnya. Salah satu bentuknya bisa diaplikasikan bagaimana penerima beasiswa tersebut menjadi mentor agama bagi teman-temannya.
Mereka menjadi tempat bertanya perihal agama untuk memfasilitasi para mahasiswa yang sedang bersemangat membara dalam belajar agama. Tak perlu banyak-banyak yang dibimbing cukup satu atau dua orang tetapi intensif. Saya rasa akan lebih efektif jika sistemnya seperti ini karena target dakwahnya memang benar-benar membutuhkan sebelum kembali ke pesantrennya untuk mengabdi.
Terakhir untuk mencegah merebaknya paham radikal yang sudah beredar luas di media, Kemkominfo perlu menggandeng pesantren untuk menyaring media yang memiliki konten radikal sehingga bisa diblokir. Hal ini diperlukan mengingat jumlahnya yang sangat banyak dan beredar luas.
Identifikasi pesantren terlebih dahulu dilakukan dan diperbaharui secara periodik oleh Kemenag karena sekarang sudah banyak pesantren modern yang didirikan oleh kelompok radikal.
Pesantren dengan dibimbing akademisi profesional juga bisa membuat forum kajian rutinan seperti bahtsul masail untuk meneliti lebih dalam ayat Al Quran dan hadis yang sering digunakan untuk propaganda kelompok radikal. Hasil dari kajian ini dipublikasikan secara luas dengan menggandeng media untuk diviralkan dengan bahasa yang mudah dipahami generasi millenial.
Santri juga sebaiknya dilatih untuk membedakan fakta dan hoax melalui literasi digital dengan memperbanyak membaca buku dan artikel umum dari sumber yang valid. Hal ini dikarenakan, ada celah yang bisa disusupi kelompok radikal kepada santri meskipun sudah sangat paham agama.
Celah ini berupa isu diluar agama yang sengaja dikirim kepada santri supaya timbul keraguan/keresahan terhadap kelompok tertentu dan pemerintah. Akibatnya, mereka bisa bergabung dengan kelompok radikal dan melakukan perlawanan baik partisipasi langsung maupun secara materi.
Tentunya perlu strategi yang cerdik dan persuasif supaya inhibitor bereaksi dengan baik. Perlu dukungan berbagai pihak tidak hanya mengandalkan pemerintah dalam menangani radikalisme ini. Kolaborasi dan sinergi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, swasta, kyai, ustadz dan organisasi Islam yang moderat seperti NU dan Muhammadiyah sangat diperlukan dengan perannya masing-masing.
qureta.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here