Spirit Kemerdekaan: Berjuang Melalui Pena

0
132

Merdeka! Satu kata yang ramai diucapkan; baru membuka pintu rumah, sudah terdengar anak kecil yang bilang : “Merdeka! Merdeka! Merdeka! Tak kalah heboh dan meriah, kata merdeka juga marak ditulis dijadikan status di berbagai platform media sosial. Hiruk-pikuk dan euforia itu bukan tanpa sebab. Penyebabnya adalah, ya, saat ini segenap bangsa Indonesia sedang bergembira memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia yang ke-74.

Ketika mendengar pekikan suara “Merdeka!”, maka yang terbesit dalam pikiran kita adalah bebas dari belenggu penjajahan bangsa asing (penjajah). Memang yang demikian itu tak salah, alias benar adanya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Anda juga bisa cek versi onlinenya, dijelaskan bahwa arti kata merdeka adalah bebas (dari hambatan, penjajahan, dan sebagainya). Lebih lanjut, dijelaskan pula bahwa merdeka itu tidak terkena atau lepas dari tuntutan dan tidak terikat atau tergantung pada orang atau pihak tertentu.

Jika demikian penjelasannya, maka dapat ditarik sebuah intisari bahwa yang dinamakan merdeka itu bebas, tidak dijajah. Dulu, sebelum tahun 1945, Indonesia tidak sebebas saat ini. Dulu, kehidupan masyarakat Indonesia pra-kemerdekaan, sangat susah dan terbatas dan tidak bebas, seperti hidup di bawah ‘ketiak’ orang. Penindasan dan perlakuan bak hewan, itulah realita hidup di tangan penjajah.

Kini, Indonesia telah merdeka; tandanya adalah, Indonesia telah menetukan nasib dan arah pembangunannya sendiri, tak lagi diatur oleh negara lain. Meskipun demikian, secara subtansial, banyak pengamat, tokoh, bahkan peneliti yang berpandangan bahwa Indonesia saat ini belum bisa dikatakan (sepenuhnya) merdeka. Banyak bukti yang bisa dijadikan sebagai landasan pandangan ini, misalnya banyak SDA yang masih dikuasai asing.

Menulis dan Kemerdekaan

Terlepas dari semua itu, ada satu hal yang patut diperhatikan untuk kemudian dijadikan sebagai gerakan bersama, yakni menulis. Menulis, kata Pramoerdya Ananta Tour, adalah bekerja untuk keabadian. Dan menulis itu adalah aktivitas yang benar-benar merdeka. Jadi, pada momentum kemerdekaan ini, merupakan momentum yang tepat untuk meraih kemerdekaan hakiki dengan cara menulis.

Baca Juga:  Bulan Puasa Produktif dengan Ngabubuwrite

Dikatakan sebagai wujud dari kemerdekaan hakiki, karena menulis adalah aktivitas menuangkan gagasan atau ide dalam pikiran ke dalam bentuk sebuah tulisan. Tulisan dari buah pikiran inilah yang abadi dan tidak bisa dijajah atau dipenjarakan, ia merdeka. Dari sini, muncullah kata mutiara: “Engkau bisa memenjarakan tubuhku, tapi pikiranku, kamu tidak akan pernah bisa (memenjarakan).” Senada dengan itu, Bung Hatta dengan menggetarkan sanubari manusia mengatakan: “Aku Rela Dipenjara Asalkan Bersama Buku, karena dengan Buku, Aku Bebas.”

Sayyid Quthb, penyair dan ulama kenamaan asal Mesir mengatakan: “Satu Peluru hanya mampu menembus satu kepala, namun satu tulisan dan menembus ribuan, bahkan jutaan kepala manusia.” Ketika kita membaca sejarah, maka akan didapati bahwa banyak tokoh atau pahlawan yang melawan penjajahan melalui sebuah tulisan.

Sebut saja Ki Hajar Dewantara. Tokoh besar yang hingga saat ini jasanya terhadap Indonesia yang masih melekat di pikiran rakyat Indonesia ini adalah seorang penulis. Banyak karya-karyanya yang kala itu mengkiritik penjajah. Dulu, ia pernah meulis ‘Als ik eens Nederlander was (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang dimuat di surat kabar De Express edisi 19 Juli 1913. Bapak pendidikan nasional ini dalam tulisan tersebut mengkritik rencana peringatan seabad kemerdekaan Belanda dari Perancis di tanah Hindia. Membaca tulisan ini, pemerintah kolonial dibuatnya kebakaran jenggot, gusar oleh implikasi politik yang berpotensi muncul setelahnya.

Tokoh pergerakan kemerdekaan lainnya, misalnya, Tjipto Mangungkusumo. Beliau adalah seorang jurnalis dan penulis yang memiliki pemikiran dan kritik yang tajam bak pedang yang bisa mematahkan leher orang dengan mudah. Tan Malaka juga dikenal sebagai tokoh pejuang kemerdekaan yang melawan penjajah Belanda dengan peluru yang lebih tajam dari sekedar peluru pistol. Ya, ia mempunyai cara untuk melawan penjahan Belanda melalui tulisan-tulisan bernas.

Tak kalah hebat, sejarah Indonesia mencacat bahwa Buya Hamka (Abdul Malik Karim Amrullah) adalah ulama pejuang kemerdekaan. Beliau mengisi waktu dan sisa umurnya untuk dakwah, memerdekaan Indonesia melalui berbagai cara, dari gerakan hingga tulisan. Buya Hamka dikenal sebagai ulama dan sastrawan ulung, yang mampu membuat tulisan dengan menyisipkan kekuatan dan membangkitkan ghirah berjuang bagi pembacanya.

Meski dalam keadaan dijajah, namun pemikiran, ide dan gagasan tetap merdeka. Itulah yang dimanfaatkan oleh para tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Bagi mereka, meskipun masih dijajah, tapi mereka memiliki prinsip bahwa merdeka adalah sejak/dimulai dari pikiran.

Menulislah

Uraian di atas hendak menegaskan bahwa betapa tubuh seseorang dibelenggu dan dipenjara, namun hati dan pikiran masih bisa bebas dan merdeka. Maka, semangat kemerdekaan pada HUT RI ke-74 ini adalah menjadi seorang penulis, yang dapat menginspirasi dan mengedukasi umat dan bangsa.

Ketahuliah saudaraku sekalian, menulis yang bermanfaat itu termasuk atau akan menjadi amal yang mengalir. Kita tak pernah tahu, atau setidaknya tak begitu mengenal tokoh pejuang kemerdekaan selain dari tulisan dan karyanya.

Dan ingat, di era sekarang ini, perjuangan yang efektif, murah dan bisa dilakukan oleh siapa pun juga bukanlah berjuang mengangkat senjata, melainkan berjuang melalui pena (tulisan). Berjuang melalui pena, itulah spirit kemerdekaan.

Oleh: Fauziyatus Syarifahpeneliti di Lembaga Studi Agama dan Nasionalisme, tinggal di Brebes.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here